Menarik sekali ketika kita membaca sebuah pengantar seorang Mulyadhi Karta Negara dalam sebuah sebuah buku yang ditulisnya dengan judul Nalar Religius “Memahami Hakikat Tuhan, Alam dan Manusia” hal yang beliau sampaikan adalah “Kenyataan ironis adalah bahwa kita sering bicara atau membaca bidang (ilmu) tertentu yang dicintai atau disukai tanpa mampu memformulasikan pandangan kita sendiri. Oleh karena itu, dalam tulisan berikut saya mencoba memberikan secara jujur sesuai dengan nalar dan pengalaman serta pandangan subyektif saya tentang Tuhan, alam dan manusia. Hal itulah kemudian yang membuat kita seharusnya mencoba memberikan sebuah jawaban mengapa kita perlu menulis dengan pikiran kita sebagai sumber ontologisnya, dalam hal ini tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Tujuan pertama adalah, upaya melestarikan pemikiran seorang penulis yang selama ini mungkin telah berakumulasi kedalam sebuah sistem yang lebih sistematis. Pelestarian ini menjadi penting mengingat bahwa memori seseorang tidak selamanya dalam keadaan prima dan tentunya pemikian seseorang adalah dinamis dan selalu mengalami perubahan. Dan yang kedua adalah mengingat dalam sebuah karya atau tulisan sering sekali seorang penulis membaurkan beberapa aspek holistik dengan mengambil sebuah rujukan dari beberapa penulis yang kemudiannya terkadang sebagai seorang pembaca juga menjadi bingung disebabkan pembauran itu seolah nilai dan esensi sebuah tulisan menjadi hilang originalitasnya karena semuanya adalah hanya deskriptif tanpa penulis juga kiranya memberikan sumbangsih interpretasi baru terhadap apa yang menjadi objek kajiannya. Oleh karena itu secara sadar saya sebagai penulis akan memberikan sumbangsih pikir dan ziarah intelektual dalam mengembangkan sebuah pemahaman tentang “Tuhan, Alam, dan Manusia” sebuah kajian dengan metode pendekatan Sosial Psikologis.
A. Tuhan
Jika kita ingin berinteraksi dengan seseorang, tentulah kita perlu mengenalnya, siapa dia serta apa nama maupun sifat-sifatnya ? Tuhan yang mencipta, yang diharapkan bantaun-Nya serta kepada-Nya bertumpu segala sesuatu, pastilah lebih perlu dikenal. Banyak orang bahkan boleh jadi semua yang percaya tentang wujud-Nya, berusaha menjawab pertanyaan tentang Tuhan. Banyak jawaban yang diberikan dan tidak mustahil dalam rinciannya setiap orang mempunyai jawaban. Karena itu, boleh jadi sekelompok orang sepakat menyangkut Tuhan yang diajarkan oleh Agama yang mereka anut.
Merujuk kepada Al-Quran, dapat kita temukan bahwa para Nabi dan Rasul selalu membawa ajaran tauhid. "Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku" (QS Al-Anbiya' [21]: 25).Demikian ucapan Nabi Nuh, Hud, Shaleh dan Syu'aib yang diabadikan Al-Quran masing-masing secara berurut dalam surat Al-A'raf (7): 59, 65, 73, dan 85. Demikian juga ajaran yang diterima Musa a.s. langsung dari Allah:
"Aku yang memilihmu, maka dengarkan dengan tekun, apa yang diwahyukan (padamu): 'Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku. Sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku'" (QS Thaha [20] 13-14) Nabi Isa a.s. juga mengajarkan prinsip ini kepada umatnya: "Isa berkata (kepada Bani Israil), 'Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.' Sesunguhnya siapa yang mempersekutukan-Nya maka Allah mengharamkan baginya surga, dan tempatnya adalah neraka. Tiada penolong bagi orang-orang yang aniaya." (QS Al-Maidah [5]: 72)Allah Swt. menyesuaikan tuntunan yang dianugerahkan kepada para Nabi-Nya sesuai dengan tingkat kedewasaan berpikir umat mereka. Karena itu hampir tidak ada bukti-bukti logis yang dikemukakan oleh Nabi Nuh kepada umatnya, dan pada akhirnya setelah mereka tetap membangkang, jatuhlah sanksi yang memusnahkan mereka: "Maka topan membinasakan mereka, dan mereka adalah orang-orang aniaya" (QS Al-'Ankabut [29]: 14).
Para ilmuwan seringkali berbicara tentang penemuan-penemuan dalam konteks ini, Al-Quran misalnya mengingatkan manusia, "Katakanlah (hai Muhammad kepada yang mempersekutukan Tuhan), 'Jelaskanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar?' Tidak! Tetapi hanya kepada-Nya kamu bermohon, maka Dia menyisihkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah)" (QS Al-An'am [6]: 40-41).
Demikian Al-Quran menggambarkan hati manusia. Karena itu sungguh tepat pandangan sementara filosof yang menyatakan bahwa manusia dapat dipastikan akan terus mengenal dari berhubungan dengan Tuhan sampai akhir zaman, yaitu selama tabiat kemanusiaan masih sama seperti sediakala, yakni memiliki naluri mengharap, cemas, dan takut, karena kepada siapa lagi jiwanya akan mengarah jika rasa takut atau harapannya tidak lagi dapat dipenuhi oleh makhluk, sedangkan harapan dan rasa takut manusia tidak pernah akan putus. Bertebaran (ayat-ayat yang menguraikan dalil-dalil aqliah tentang Keesaan Tuhan- Misalnya,"Seandainya pada keduanya (langit dan bumi) ada dua Tuhan, maka pastilah keduanya binasa" (QS Al-Anbiya' [21]: 22)
Maksud ayat ini adalah "seandainya ada dua pencipta, maka akan kacau ciptaan, karena jika masing-masing Pencipta menghendaki sesuatu yang tidak dikehendaki oleh yang lain, maka kalau keduanya berkuasa, ciptaan pun akan kacau atau tidak akan mewujud; kalau salah satu mengalahkan yang lain, maka yang kalah bukan Tuhan; dan apabila mereka berdua bersepakat, maka itu merupakan bukti kebutuhan dan kelemahan
mereka, sehingga keduanya bukan Tuhan, karena Tuhan tidak mungkin membutuhkan sesuatu atau lemah atas sesuatu."
Namun sebagaimana yang telah saya sampaikan dalam makalah diskusi Studi Al Quran Teori dan Metodologi, mustahil bagi manusia untuk mengenal hakikat dzat Tuhan. Pengenalan rasionalitas atas-Nya hanya bersifat universal atau pengenalan melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Atas dasar ini, salah satu tujuan utama al-Quran yang dalam berbagai ayatnya berbincang tentang sifat-sifat Tuhan adalah melakukan rekonstruksi, memperdalam, dan memperluas pengenalan manusia terhadap Tuhan. Ratusan ayat al-Quran kadangkala secara langsung membahas tentang sifat-sifat Tuhan dan menyebutkan tentang asma Tuhan. Dari sebagian ayat bisa pula ditemukan adanya prinsip-prinsip universal dalam penyifatan Tuhan. Al-Quran pada satu sisi menegaskan bahwa pengenalan terhadap hakikat dzat Tuhan merupakan hal yang mustahil bagi manusia, Allah SWT dalam Al Quran menyampaikan:
يعلم ما بين أيديهم وما خلفهم ولا يحيطون به علما
“Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya”.
Meskipun demikian, perlu diingat bahwa mengenali Tuhan melalui sifat-sifat-Nya merupakan cara yang sangat rumit karena membutuhkan ketelitian dan kecermatan yang tinggi, karena sedikit saja kita salah menganalisanya bisa mengarahkan kita kepada pen-tasybih-an atau “penyerupaan” yang berujung pada kehilangan sebagian makrifat kita dari al-Quran. Salah satu hal yang mendasar untuk dilakukan adalah berpegang pada ayat-ayat yang muhkam (ayat-ayat yang memiliki makna yang jelas) tentang sifat-sifat Ilahi untuk dijadikan pijakan dalam menafsirkan ayat-ayat yang mutasyabiyah (ayat-ayat yang tidak memiliki makna yang jelas), seperti menafsirkan ayat-ayat yang secara lahiriah menyifati Tuhan dengan sifat-sifat makhluk-Nya.
Apabila yang mengatakan bahwa alam raya ini teratur dengan sendirinya, dengan melihat bagaimana rapinya manusia berbaris maka hal itu mustahil. Karena keteraturan diambil contoh dari benda-benda mati, mulai dari sistem tata surya sampai pada atom-atom. Sedangkaan barisan yang tersususn dengan rapi dan dihimpun dari manusia yang mempunyai akal dan kemauan. Itupun bisa tersusun rapi bila dibawah satu komando, kalau tidak demikian maka akan kacau karena manusia mmasing-masing memiliki watak dan kemauan yang berbeda. Karena akal manusia dimerdekakan berfikir meemilih mana yang benar dan mana yang salah.Dalam pengertian pengaturan harus ada dua unsur, yaitu mengatur dan yang diatur. Yang diatur harus menurut dan patuh kepada yang mengatur, sedangkan yang mengatur harus memiliki kewenangan untuk mengatur. Jika tida demikian, maka pengaturan tidak akan terjadi, hal ini dikenal dengan istilah pembangkangan , pemberontakan, dan pengingkaran. Lalu-lintas yang aman dan tertib pada suatu jalan raya simpang empat, adalah karena semua kendaraan tunduk dan patuh, walaupun hanya kepada lampu merah yang dipasang di pinggir jalan mewakili polisi lalu-lintas. Oleh karena itu terjadinya kerusakan dimuka bumi ini adalah karena ulah manusia juga. Keteraturan alam raya adalah suatu bentuk ketundukan dan kepatuhan planet-planet kepada penciptanya. Hal ini terbukti dalam salah satu Ayat Al-Qur’an Surat Fushilat ayat 11:
ثم استوى إلى السماء وهي دخان فقال لها وللأرض ائتيا طوعا أو كرها قالتا أتينا طائعين
Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati".
Sebenarnya keteraturan peredaran sirkulasi darah dalam tubuh manusia adalah termasuk salah satu contoh kepatuhan darah itu sendiri kepada penciptanya. Tetapi karena manusia yang memiliki tubuh tersebut adalah makhluk hidup yang diberikan kebebasan memilih, lalu lupa memperhatikan peraturan pemeliharaan tubuh. Sebagai contoh manusia tersebut lupa menjaga kebersihan, atau manusia tersebut lupa menjaga kondisi, diwaktu makan kekenyangan, atau diwaktu kerja keletihan, maka terjadilah penyakit. Jadi karena itulah manusia itu diberi gelar khalifah di muka bumi ini, karena ia menjadi penguasa terhadap tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia itu sendiri. Bahkan manusia juga pengaturan pemakaian benda mati agar tidak terjadi bencana. Misalnya terjadinya kekeringan, erosi air dan angin adalah karena kelalaian manuusia, karena sebelumnya tanda-tanda sudah diberikan. Yang dimaksud manusia mengatur tumbuh-tumbuhan dan hewan adalah karena manusia mengatur kelangsungan kelestarian tumbuh-tumbuhan dan hewan.
B. Alam
Semua makhluk yang ada di muka bumi ini dibagi menjadi dua kelompok; makhluk bernyawa dan makhluk tidak bernyawa. Makhluk tidak bernyawa seperti air, api, batu, dan tanah, tidak memainkan peran apapun dalam membangun dan mengembangkan dirinya. Mereka mewujud dan tumbuh semata-mata dibawah pengaruh faktor-faktor eksternal. Mereka tidak melibatkan diri dalam kegiatan apapun untuk tujuan mengembangkan eksistensi mereka. Sebaliknya makhluk-makhluk hidup seperti tumbuhan, hewan dan manusia senantiasa melakukan upaya-upaya tertentu untuk mempertahankan diri dari aneka kesulitan memperoleh makanan dan berkembang biak.
Ilmu pengetahuan moderen, ilmu astronomi, baik yang berdasarkan pengamatan maupun berupa teori, dengan jelas menunjukkan bahwa pada suatu saat seluruh alam semesta masih berupa 'gumpalan asap' (yaitu komposisi gas yang sangat rapat dan tak tembus pandang, The First Three Minutes, a Modern View of the Origin of the Universe, Weinberg, hal. 94-105.). Hal ini merupakan sebuah prinsip yang tak diragukan lagi menurut standar astronomi moderen. Bintang-bintang yang berkilauan yang kita lihat di malam hari, sebagaimana seluruh alam semesta, dulunya berupa materi 'asap' semacam itu. Allah telah berfirman di dalam Al Qur'an:
ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ
Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap,... (Al Fushshiilat, 41: 11)
Karena bumi dan langit di atasnya (matahari, bulan, bintang, planet, galaksi dan lain-lain) terbentuk dari 'gumpalan asap' yang sama, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa matahari dan bumi dahulu merupakan satu kesatuan. Kemudian mereka berpisah dan terbentuk dari 'asap' yang homogen ini. Allah telah berfirman:
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. (Al Anbiya, 21:30)
Dr. Alfred Kroner adalah salah satu ahli ilmu bumi terkemuka. Ia adalah Profesor geologi dan Kepala Departemen Geologi pada Institute of Geosciences, Johannes Gutenberg University, Mainz, Jerman. Ia berkata: "Jika menilik tempat asal Muhammad... Saya pikir sangat tidak mungkin jika ia bisa mengetahui sesuatu semisal asal mula alam semesta dari materi yang satu, karena para ilmuwan saja baru mengetahui hal ini dalam beberapa tahun yang lalu melalui berbagai cara yang rumit dan dengan teknologi mutakhir. Inilah kenyataannya." Ia juga berkata: "Seseorang yang tidak mengetahui apapun tentang fisika inti 14 abad yang lalu, menurut saya, tidak akan pernah bisa mengetahui, melalui pemikirannya sendiri, bahwa dulunya bumi dan langit berasal dari hal yang satu".
Asal mula alam semesta digambarkan dalam Al Qur’an pada ayat berikut: “Dialah pencipta langit dan bumi.” (Al Qur’an, 6:101). Keterangan yang diberikan Al Qur’an ini bersesuaian penuh dengan penemuan ilmu pengetahuan masa kini. Kesimpulan yang didapat astrofisika saat ini adalah bahwa keseluruhan alam semesta, beserta dimensi materi dan waktu, muncul menjadi ada sebagai hasil dari suatu ledakan raksasa yang tejadi dalam sekejap. Peristiwa ini, yang dikenal dengan “Big Bang“, membentuk keseluruhan alam semesta sekitar 15 milyar tahun lalu. Jagat raya tercipta dari suatu ketiadaan sebagai hasil dari ledakan satu titik tunggal. Kalangan ilmuwan modern menyetujui bahwa Big Bang merupakan satu-satunya penjelasan masuk akal dan yang dapat dibuktikan mengenai asal mula alam semesta dan bagaimana alam semesta muncul menjadi ada.
C. Manusia
Manusia menurut Nurcholish Madjid memang merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang mengagumkan dan penuh misteri. Dia tersusun dari perpaduan dua unsur; segenggam tanah bumi, dan ruh Allah, maka siapa yang hanya mengenal aspek tanahnya dan melalaikan aspek tiupan ruh Allah, maka dia tidak akan mengenal lebih jauh hakikat manusia. Al-Qur‟an sendiri juga menyatakan bahwa manusia memang merupakan makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Allah. Ada banyak sekali kelebihan yang diberikan oleh Allah swt kepada manusia yang tidak diberikan kepada makhluk-makhlukNya yang lain. Ada beberapa perangkat yang diberikan Allah swt. kepada manusia yang menjadikannya unggul dan terdepan dari para makhluk lainnya seperti memiliki daya tubuh yang membuat fisiknya kuat daya hidup yang membuatnya mampu mengembangkan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan serta mempertahankan diri menghadapi tantangan; daya akal yang membuatnya memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi; daya kalbu yang memungkinkannya bermoral, merasakan keindahan, kelezatan iman, dan kehadiran Allah.
Oleh karena itu, manusia perlu menyadari eksistensi dan tujuan penciptaan dirinya, memahami risalah hidupnya selaku pengemban amanah Allah, melalui arahan dan bimbingan yang berkesinambungan agar kehidupannya menjadi lebih berarti. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya segala sesuatu diciptakan dengan adanya satu tujuan. Dengan tujuan itulah kemudian sesuatu difungsikan dan dengan adanya fungsi itulah maka keberadaan sesuatu menjadi berarti. Demikian juga adanya manusia di bumi ini. Ia pasti diciptakan untuk satu tujuan tertentu.
Ibnu Sina mendefinisikan kesempurnaan manusia sebagai berikut, “Seorang yang memiliki ilmu yang telah sampai pada tingkatan kesucian sedemikian sehingga terlepas dari segala pengaruh materi dan keterikatan raganya. Dia berjalan dengan ikhlas ke alam tertinggi malakuti dan merasakan kelezatan-kelezatan yang lebih tinggi.” Selanjutnya dia menyatakan, “Namun, jangan menyangka bahwa kelezatan-kelezatan semacam itu tidak mungkin dirasakan di alam materi atau selama jiwa tetap berada di tubuh, ketahuilah bahwa mereka yang telah sampai pada alam suci non-materi, alam akal, alam malakuti, dan telah menyaksikan alam jabarut, sesungguhnya mereka telah menyaksikan Jamaliyah Ilahi dan mengecap tingkatan tertinggi kelezatan. Meskipun mereka masih bersama dengan badan-jasmani namun hati mereka tidak disibukkan olehnya dan tuntutan duniawi tidak mempengaruhinya, penyaksian-penyaksian mereka terhadap Jamaliyah Ilahi telah membuatnya berpaling dari segala pengaruh duniawi.”
Meskipun manusia memiliki kedudukan tinggi dan agung, akan tetapi perjalanan geraknya tidak pernah tanpa penghalang, para setan duduk manis untuk menggoda manusia dan mendorongnya ke arah jurang yang terjal. Dia berusaha dengan usaha penuh untuk menghancurkan dan menggagalkan manusia. Oleh karena itu, manusia dalam sepanjang kehidupannya, berada dalam sebuah medan perlawanan yang riil, dan tentunya dalam pergumulan dan perlawanan inilah akan tersedia media bagi pertumbuhan manusia, karena jika hanya ada gerak satu arah dan tidak ada gerak ke arah yang berlawanan serta perjalanan yang bertentangan, maka pertumbuhan dan kesempurnaan tidak akan pernah terwujud.
Dengan alasan inilah sehingga Tuhan senantiasa mengingatkan kepada manusia dari makar dan tipuan musuh dan penggoda manusia ini, dan menyarankan kepada mereka untuk memusatkan kekuatan dan konsentrasinya dalam geraknya menuju mekanisme alam malakuti dan alam suci Ilahi. Hindarkan diri kalian dari pengaruh materialisme. Jangan menjual diri dengan kelezatan-kelezatan inderawi. Letakkan seluruh bagian dan kecenderungan kalian untuk mencapai kesempurnaan, dan dalam perjalanan ini jangan sekali-sekali berhenti pada derajat materialisme yang berpikir bahwa dunia hanyalah akhir segala-galanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar