BAB I
PENDAHULUAN
Orientalis H.A.R. Gibb pernah menulis bahwa: "Tidak ada seorang pun dalam seribu lima ratus tahun ini telah memainkan 'alat' bernada nyaring yang demikian mampu dan berani, dan demikian luas getaran jiwa yang diakibatkannya, seperti yang dibaca Muhammad (Al-Quran)." Demikian terpadu dalam Al-Quran keindahan bahasa, ketelitian, dan keseimbangannya, dengan kedalaman makna, kekayaan dan kebenarannya, serta kemudahan pemahaman dan kehebatan kesan yang ditimbulkannya.
Tiada bacaan seperti Al-Quran yang dipelajari bukan hanya susunan redaksi dan pemilihan kosakatanya, tetapi juga kandungannya yang tersurat, tersirat bahkan sampai kepada kesan yang ditimbulkannya. Semua dituangkan dalam jutaan jilid buku, generasi demi generasi. Kemudian apa yang dituangkan dari sumber yang tak pernah kering itu, berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kemampuan dan kecenderungan mereka, namun semua mengandung hikmah. Al-Quran layaknya sebuah permata yang memancarkan cahaya yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang masing-masing.
Penyebaran Islam melalui kitab ini merupakan kebutuhan mutlak generasi muslim awal hingga sekarang, kini nabi sudah tidak lagi hadir di tengah-tengah kita untuk ditanya atau dirujuk langsung, sementara Sunnah beliau sudah demikian mengalami perubahan, pengurangan, distorsi, sudah diadaptasi untuk kepentingan selera rendah. karena itu sekarang ini sulit sekali menemukan kebenaran hakiki ditengah simpang siurnya beragam pandangan dan interpretasi. Perlu ada upaya keras untuk mendapatkan pengetahuan tentang kebenaran. Kebenaran bukanlah sesuatu yang siap santap. Harus ada upaya keras untuk mendapatkannya. Untuk itulah kiranya kita harus bisa memahami konteks yang lalu untuk kita jadikan sebuah pegangan dan rahmat dengan menariknya kepada sebuah pemahaman dan konsep yang bersifat universal shalih likulli zaman wa al makan .
Dalam al Quran seperti yang disebutkan diatas memberikan bermacam ragam pendidikan bagi makhluk yang kemudian menjadi dasar untuk keutuhan hidup dan kehidupan memberikan garansi yang layak bagi hamba-hamba yang beriman, didalamnya termaktub tentang bagaimana sesungguhnya konsep Tuhan berdiri atas kekuasaannya, maha atas segalanya dan raja diatas segala raja.
Sungguh indah ilustrasi yang dikemukakan oleh ulama besar dan philosof muslim kontemporer Abdulkarim Alkhatib menyangkut fenomena ketuhanan. Dalam bukunya “Qadiyat Al-Uluihiyah Bainal Falsafah Wad Din”" Dia menulis lebih kurang sperti berikut: “Yang melihat/ Mengenal Tuhan, pada hakekatnya hanya melihat-Nya melalui wujud yang terhampar di bumi serta yang terbentang di langit. Yang demikian itu adalah penglihatan tidak langsung serta memerlukan pandangan hati yang tajam, akal yang cerdas lagi kalbu yang bersih.
Pada zaman Darwin, evolusi merupakan tantangan terhadap pemahaman tradisional ihwal status umat manusia. Sejak saat itu, banyak disiflin ilmiah mengumpulkan berbagai bukti akan kenyataan bahwa manusia merupakan keturunan leluhur pramanusia. Dari biologi molekuler dewasa ini, kita mengetahui bahwa simpanse dan manusia memiliki sekitar 99 persen DNA yang sama, walaupun tentu saja satu persen yang berbeda itu sangatlah penting . Jadi perlu disimpulkan bahwa manusia secara utuh bukanlah kera dan bukan juga bermetamorposis dari kera, karena ini tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Jadi untuk lebih memanusiakan manusia kita akan melihat bagaimana Al quran menggambarkan manusia. Segala upaya manusia disepanjang hidupnya disamping karena kecintaan kepada dirinya sendiri juga dimotivasi oleh kecenderungan esensialnya kepada kesempurnaan dan kebahagiaan, oleh karena al Quran adalah Inspirasi yang akan menjadikan hidup lebih bermakna maka di dalamnya akan kita jumpai sebuah konsep yang juga membicarakan tentang manusia, bentuk penghambaan yang paling manusiawi, sebuah gerbang pencerahan menuju insan yang sempurna “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yg sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yg serendah-rendahnya kecuali orang-orang yg beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka bagi mereka pahala yg tiada putus-putusnya”. Manusia adalah mahluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah SWT. Kesempurnaan yang dimiliki oleh manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka, Manusia dalam pandangan al-Qur’an bukanlah makhluk anthropomorfisme yaitu makhluk penjasadan Tuhan, atau mengubah Tuhan menjadi manusia. Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai makhluk theomorfis yang memiliki sesuatu yang agung di dalam dirinya. Disamping itu manusia dianugerahi akal yang memungkinkan dia dapat membedakan nilai baik dan buruk, sehingga membawa dia pada sebuah kualitas tertinggi sebagai manusia takwa akan tetapi tidak menutup suatu kemungkinan bahwa penghambaan seorang manusia berubah kepada penghambaan terhadap sesuatu hal selain kepada Tuhan yang menciptakannya.
Maka adapun pokok-pokok permasalahan dalam makalah ini adalah :
1. Seperti apakah Alquran menjadi Inspirasi universal.
2. Bagaimana Al quran memperkenalkan Tuhan sebagai Ilah yang Maha atas segalanya.
3. Apakah Hakikat Penciptaan Manusia.
4. Bagaimanakah Hubungan Manusia dengan Tuhan
Sebagai rumusan masalah sehingga tidak melebar dari pokok permasalahan maka penulis menyampaikan pembahasan secara khusus adalah “ Al Quran tentang Tuhan dan Manusia”.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Universal Al Quran
Di antara ayat-ayat-Nya, Allah Swt berfirman, “Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menumbuhkan dengan hujan itu segala jenis buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Oleh karena itu, janganlah kamu menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”[1] “Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu. Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah dari sebagian rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”[2] “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”[3]
Sungguh, ayat-ayat Al-Quran merupakan serat yang membentuk tenunan kehidupan Muslim, serta benang yang menjadi rajutan jiwanya. Karena itu seringkali pada saat Al-Quran berbicara tentang satu persoalan menyangkut satu dimensi atau aspek tertentu, tiba-tiba ayat lain muncul berbicara tentang aspek atau dimensi lain yang secara sepintas terkesan tidak saling berkaitan. Tetapi bagi orang yang tekun mempelajarinya akan menemukan keserasian hubungan yang amat mengagumkan, sama dengan keserasian hubungan yang memadukan gejolak dan bisikan-bisikan hati manusia, sehingga pada akhirnya dimensi atau aspek yang tadinya terkesan kacau, menjadi terangkai dan terpadu indah, bagai kalung mutiara yang tidak diketahui di mana ujung pangkalnya.
Al quran biasa didefinisikan sebagai firman-firman Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril sesuai redaksiNya kepada nabi Muhammad SAW dan diterima oleh umat Islam secara Mutawatir . Al quran adalah sumber ajaran Islam, kitab suci ini seperti disebutkan diatas menempati posisi sentral, bukan saja dalam perkembangan dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman akan tetapi pemadu gerakan umat Islam. Dari mata rantai sejarah yang tersusun disepanjang kehidupan manusia sudah banyak hal yang dapat teruji dari kebenaran kitab suci ini, mulai dari sistem yang menyangkut kajian sejarah, antropologi, science dan kedokteran yang awalnya ditolak secara mentah oleh mereka yang enggan dengan kebenaran Ilahi.
أفلا يتدبرون القرآن ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافا كثيرا
"Mengapa mereka tidak mendalami Al-Quran, kalau sekiranya itu bukan dari sisi Allah tentulah mereka dapati banyak pertentangan di dalamnya" (QS. 4 An Nisaa 82).
Tidak dapat disangkal oleh siapapun yang memiliki obyektifitas bahwa kitab suci Al quran memiliki keistimewaan-keistimewaan. Keistimewaan tersebut diakui oleh kawan dan lawan sejak dahulu hingga kini.
B. Al Quran Membicarakan Tuhan
Dalam semua agama Tuhan merupakan personal God atau Tuhan berpribadi, dan karena itu dia masuk dalam ruang dan waktu. Hanya saja, kalau berhenti disitu Tuhan menjadi antropomorfis, menjadi manusia dan itu mengakibatkan syirik dan berseberangan dengan konsep sebuah agama yakni Islam. Dalam agama yang mempercayai eksistensi Tuhan, konsep tentang Tuhan menjadi inti dari seluruh keyakinan, ajaran dan praktiknya. Konsep tentang Tuhan juga memberikan batas-batas apa yang boleh dan apa yang tidak boleh bagi pemeluk agama yang mempercayai eksistensi Tuhan itu. Tiap agama biasanya memiliki kitab suci berisi ayat-ayat Tuhan. Ayat-ayat tersebut adalah petunjuk dalam mengarungi samudera hayat yang penuh ketidakjelasan. Allah SWT adalah pemilik mutlak segala sesuatu. Dia tidak memiliki sekutu dalam kepemilikan-Nya. Karena itu, dengan sebenar-benarnya tanpa basa-basi, “Dialah yang memiliki kerajaan dan Dialah yang memiliki segala puji, dan kepadan-Nyalah segala urusan dikembalikan” . Alam ini adalah sesuatu yang relatif. Ia butuh terhadap sesuatu yang menjadi sebab kemunculannya, karena eksistensinya tidak terjadi dengan dengan sendirinya, dengan demikian didalam menetapkan eksistensi pertama kita tidak perlu merenungkan sesuatu selain Allah itu sendiri. Didalam pembuktian eksistensi-Nya kita tidak memerlukan satu makhluk-Nya. Meskipun keberadaan makhluk merupakan dalil bagi eksistensi-Nya, namun pembuktian pertama adalah lebh kuat dan lebih agung .
Di dalam al asmaul husna digunakan sifat-sifat yang seolah-olah paradoks: ada Ghafur, Wadud, Rahim, Rahman, dan sebagainya yang semuanya itu sebetulnya meminjam bahasa manusia. Pada saat bersamaan juga disebutkan sifat-sifat Tuhan yang sebaliknya, yaitu, Jabbar, Mutakabbir, Muntaqim, dan sebagainya . Digambarkan demikian, karena kalau Tuhan hanya digambarkan bersifat lunak manusia akan meremehkan Tuhan, dan itu mempunyai efek terhadap melemahnya etika dan moral. Sebaliknya, kalau Tuhan juga dipahami hanya serba keras, juga akan mempengaruhi sikap manusia, sebagaimana dinyatakan dalam psikologi agama . Artinya kita juga akan serbakeras. Orang Islam sekarang ini tampaknya memahami Tuhan sebagai hakim, sehingga tidak heran sikaf orang Islam cenderung menghakimi segala sesuatu atas nama Tuhan . Meskipun Tuhan digambarkan dengan ilustrasi-ilustrasi seperti manusia yang bisa marah, senang, ridha, dan sebagainya, ada juga pernyataan dalam surat al Ikhlas bahwa Dan tidak ada apapun seperti Dia (Q.112:4) selain kitab suci, Tuhan menabur ayat-ayatnya di tiap titik alam semesta. Bagi manusia yang mengunakan akalnya, ayat-ayat Tuhan tersingkap jelas di sekitarnya. Baik dalam diri manusia sendiri maupun isi langit dan bumi. Tentu jumlahnya lebih banyak dari ayat dalam al-Qur’an karena sesungguhnya Tuhan yakni Allah SWT memperkenalkan dirinya sebagai pribadi yang maha atas segala kemahaan alam semesta baik yang physic dan metaphysic.
Konsep ketuhanan berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits
a. Konsep Al Quran
Dalam konsep Islam, Tuhan diyakini sebagai Zat Maha Tinggi Yang Nyata dan Esa, Pencipta Yang Maha Kuat dan Maha Tahu, Yang Abadi, Penentu Takdir, dan Hakim bagi semesta alam. Islam menitik beratkan konseptualisasi Tuhan sebagai Yang Tunggal dan Maha Kuasa. Dia itu wahid dan Esa (ahad), Maha Pengasih dan Maha Kuasa. Menurut ajaran Islam, Tuhan muncul dimana pun tanpa harus menjelma dalam bentuk apa pun Menurut al-Qur'an, "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS al-An'am 6:103)
Tuhan dalam Islam tidak hanya Maha Agung dan Maha Kuasa, namun juga Tuhan yang personal. Menurut al-Qur'an, Dia lebih dekat pada manusia daripada urat nadi manusia. Dia menjawab bagi yang membutuhkan dan memohon pertolongan jika mereka berdoa pada-Nya. Di atas itu semua, Dia memandu manusia pada jalan yang lurus, “jalan yang diridhai-Nya. Menurut para mufasir, melalui wahyu pertama al-Qur'an (Al-'Alaq 96:1-5), Tuhan menunjukkan dirinya sebagai pengajar manusia. Tuhan mengajarkan manusia berbagai hal termasuk diantaranya konsep ketuhanan. Umat Muslim percaya al-Qur'an adalah kalam Allah, sehingga semua keterangan Allah dalam al-Qur'an merupakan penuturan Allah tentang diri-Nya .
Selain itu menurut Al-Qur'an sendiri, pengakuan akan Tuhan telah ada dalam diri manusia sejak manusia pertama kali diciptakan (Al-A'raf 7:172). Ketika masih dalam bentuk roh, dan sebelum dilahirkan ke bumi, Allah menguji keimanan manusia terhadap-Nya dan saat itu manusia mengiyakan Allah dan menjadi saksi. Sehingga menurut ulama, pengakuan tersebut menjadikan bawaan alamiah bahwa manusia memang sudah mengenal Tuhan. Seperti ketika manusia dalam kesulitan, otomatis akan ingat keberadaan Tuhan. Al-Qur'an menegaskan ini dalam surah Az-Zumar 39:8 dan surah Luqman 31:32.
b. Konsep Hadits
Dengan merujuk pada literatur-luteratur hadis, menjadi jelas bahwa pembahasan sifat Tuhan dalam hadis juga mengikuti langkah al-Quran. Dalam sebuah hadis dari Amirul Mukminin Ali Radhiallahu anhu dikatakan bahwa dalam tafsir ayat 110 surah Thaha, beliau bersabda, “Semua makhluk mustahil meliputi Tuhan dengan ilmu, karena Dia meletakkan tirai di atas mata hati, tak satupun pikiran yang mampu menjangkau dzat-Nya dan tak ada satu hatipun yang bisa menggambarkan batasan-Nya, oleh karena itu, jangan kalian menyifati-Nya kecuali dengan sifat-sifat yang diperkenalkan oleh-Nya, sebagaimana Dia berfirman, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.” Imam Ali pada awal perkataannya menjelaskan bahwa tak ada satupun makhluk yang meliputi dzat Tuhan. Secara lahiriah, maksud dari “meletakkan tirai pada mata hati” adalah keterbatasan pengenalan makhluk yang menyebabkan ketidakmampuannya meliputi dzat tak terbatas Tuhan. Imam Ali adalam kelanjutan tema ini menegaskan bahwa dalam menyifati Tuhan kita harus mencukupkan diri dengan menggunakan sifat-sifat yang telah Dia perkenalkan kepada kita.
Tuhan yang sejati adalah Tuhan yang kehadirannya sangat dibutuhkan justeru sebagai syarat keberadaan alam semesta. Karena menurut al Syaikh Al Akbar, Ibn Arabi (w. 1240), sedetik saja Ia menarik kehadiran-Nya di dunia ini, niscaya alam akan semesta akan hancur berkeping-keping. Ia lah Tuhan yang kehadiran-Nya sangat jelas, tetapi karena begitu jelasnya sehingga banyak dari kita justeru tidak dapat melihat-Nya. Sang matahari kebenaran begitu cemerlang dan menyilaukan sehingga mata-mata kelelawar tidak mampu menatapnya .
Suatu hari, Rasulullah ditanya oleh para sahabat, Ya Rasulullah, dimanakah Allah itu berada, dilangit atau dibumi?, Rasul menjawab “Allah bersemayam dihati hamba-hambanya yang berIman”. Sebenarnya Tuhan selalu berbicara kepada hamba-Nya setiap saat. Di mata-Nya tidak ada yang baik dan buruk. Semuanya adalah paket kehidupan yang tidak boleh dibuka berbeda. Akan tetapi dimata manusia, dihati manusia, apa yang tidak bisa sesuai dengan keinginannya adalah buruk dan apa yang sesuai dengan keinginannya adalah baik. Sesorang yang telah menemukan sinar-Nya hanya kebaikan atau hal-hal baik yang selalu dilihatnya, bahkan saat musbah datang pun dimatanya Tuhan sedang menyapanya. Kadang-kadang, Tuhan menemui hamba yang dicintai-Nya dengan cara memberi paket kesedihan, paket ketidak nyamanan, paket kekurangan bahkan mungkin paket kesedihan. Lalu Tuhan hanya melihat hamba yang dicinta-Nya mampu atau tidak melewati, memaknai, dan mensyukuri semua paket tersebut .
c. Teori ketuhanan
Paham ketuhanan yang beraneka penjelasan tersebut, berdasarkan teori atau pendekatan yang digunakan dapat dikelompokkan sebagai berikut:
Dalil Logik. Sesuatu yang tidak dapat dilihat atau kesan tidak semestinya tiada. Sekiranya kita tidak dapat melihat atau mengesan nyawa, tidak bererti nyawa itu tidak wujud. Sekiranya cetusan eletrik dalam otak diukur sebagi nyawa, komputer yang mempunyai prinsip yang sama masih tidak dianggap bernyawa.
Dalil Kesempurnaan. Tuhan adalah sempurna dari segala sifat kecacatan , dengan itu mengatakan Tuhan tidak mampu adalah salah, sebagai contoh "Adakah Tuhan itu berkuasa untuk mencipta satu batu yang terlalu berat, yang tidak mampu diangkat oleh dirinya sendiri?" menunjukkan keinginan meletakkan sifat manusia kepada Tuhan. Berat adalah hukum yang dicipta Tuhan, apa yang berat di bumi tidak bererti di angkasa. Berat tidak membawa apa-apa arti di alam ghaib.
Dalil Kosmologikal. Dari segi kosmologi, Tuhan seharusnya wujud sebagai puncak kepada kewujudan alam. Dengan premis "segala sesuatu itu berpuncak", maka adalah tidak masuk akal untuk mengatakan alam ini wujud tanpa mempunyai puncak, yakni Tuhan. Di alam ini semuanya tersusun dengan hukum-hukum yang tertentu dengan ketentuan Tuhan, yang mana dari segi sains pula dikenali sebagai hukum alam.
Dalil Antropofik. Kewujudan manusia dan fitrahnya untuk mengenal tuhan sudah membuktikan kewujudan Tuhan.
C. Manusia dalam Al Quran
Sudah merupakan pengetahuan umum dan baku dikalangan muslim bahwa manusia menurut kitab suci adalah puncak ciptaan Tuhan dan makhluknya yang tertinggi . Ibnu Sina mendefinisikan kesempurnaan manusia sebagai berikut, “Seorang yang memiliki ilmu yang telah sampai pada tingkatan kesucian, sehingga terlepas dari segala pengaruh materi dan keterikatan raganya. Dia berjalan dengan ikhlas ke alam tertinggi malakuti dan merasakan kelezatan-kelezatan yang lebih tinggi .”
Tahapan kejadian manusia :
1) Proses Kejadian Manusia Pertama (Adam)
Di dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Adam diciptakan oleh Allah dari tanah yang kering kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah sempurna maka oleh Allah ditiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya :
"Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah". (QS. As Sajdah (32) : 7)
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk". (QS. Al Hijr (15) : 26)
Disamping itu Allah juga menjelaskan secara rinci tentang penciptaan manusia pertama itu dalah surat Al Hijr ayat 28 dan 29 . Di dalam sebuah Hadits Rasulullah saw bersabda :
"Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah". (HR. Bukhari)
2) Proses Kejadian Manusia Kedua (Siti Hawa)
Pada dasarnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini selalu dalam keadaan berpasang-pasangan. Demikian halnya dengan manusia, Allah berkehendak menciptakan lawan jenisnya untuk dijadikan kawan hidup (isteri). Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam salah sati firman-Nya :
"Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui" (QS. Yaasiin (36) : 36)
Adapun proses kejadian manusia kedua ini oleh Allah dijelaskan di dalam surat An Nisaa’ ayat 1 yaitu :
"Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang sangat banyak..." (QS. An Nisaa’ (4) : 1)
3) Proses Kejadian Manusia Ketiga (semua keturunan Adam dan Hawa)
Kejadian manusia ketiga adalah kejadian semua keturunan Adam dan Hawa kecuali Nabi Isa a.s. Dalam proses ini disamping dapat ditinjau menurut Al Qur’an dan Al Hadits dapat pula ditinjau secara medis. Di dalam Al Qur’an proses kejadian manusia secara biologis dejelaskan secara terperinci melalui firman-Nya :
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kamudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah , Pencipta Yang Paling Baik." (QS. Al Mu’minuun (23) : 12-14).
Kemudian dalam salah satu hadits Rasulullah SAW bersabda :
"Telah bersabda Rasulullah SAW dan dialah yang benar dan dibenarkan. Sesungguhnya seorang diantara kamu dikumpulkannya pembentukannya (kejadiannya) dalam rahim ibunya (embrio) selama empat puluh hari. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan segumpal darah. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan sepotong daging. Kemudian diutuslah beberapa malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya (untuk menuliskan/menetapkan) empat kalimat (macam) : rezekinya, ajal (umurnya), amalnya, dan buruk baik (nasibnya)." (HR. Bukhari-Muslim)
Ungkapan ilmiah dari Al Qur’an dan Hadits 15 abad silam telah menjadi bahan penelitian bagi para ahli biologi untuk memperdalam ilmu tentang organ-organ jasad manusia. Selanjutnya yang dimaksud di dalam Al Qur’an dengan "saripati berasal dari tanah" sebagai substansi dasar kehidupan manusia adalah protein, sari-sari makanan yang kita makan yang semua berasal dan hidup dari tanah. Yang kemudian melalui proses metabolisme yang ada di dalam tubuh diantaranya menghasilkan hormon (sperma), kemudian hasil dari pernikahan (hubungan seksual), maka terjadilah pembauran antara sperma (lelaki) dan ovum (sel telur wanita) di dalam rahim. Kemudian berproses hingga mewujudkan bentuk manusia yang sempurna (seperti dijelaskan dalam ayat diatas).
Dari ungkapan Al Qur’an dan hadits banyak mengilhami para scientist (ilmuwan) sekarang untuk mengetahui perkembangan hidup manusia yang diawali dengan sel tunggal (zygote) yang terbentuk ketika ovum (sel kelamin betina) dibuahi oleh sperma (sel kelamin jantan). Kesemuanya itu belum diketahui oleh Spalanzani sampai dengan eksperimennya pada abad ke-18, demikian pula ide tentang perkembangan yang dihasilkan dari perencanaan genetik dari kromosom zygote belum ditemukan sampai akhir abad ke-19. Tetapi jauh sebelumnya Al Qur’an telah menegaskan dari nutfah Dia (Allah) menciptakannya dan kemudian (hadits menjelaskan bahwa Allah) menentukan sifat-sifat dan nasibnya .
Sebagai bukti yang konkrit di dalam penelitian ilmu genetika (janin) bahwa selama embrio berada di dalam kandungan ada tiga selubung yang menutupinya yaitu dinding abdomen (perut) ibu, dinding uterus (rahim), dan lapisan tipis amichirionic (kegelapan di dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup/membungkus anak dalam rahim). Hal ini ternyata sangat cocok dengan apa yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Qur’an :
"...Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan (kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim)..." (QS. Az Zumar (39) : 6).
Manusia dengan makhluk Allah lainnya sangat berbeda apalagi manusia memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk yang lain salah satunya manusia diciptakan dengan sebaik-baik bentuk penciptaan namun kemuliaan manusia bukan terletak pada penciptaannya yang baik tetapi tergantung pada apakah dia bisa menjalankan tugas dan peran yang telah digariskan Allah atau tidak bila tidak maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka dengan segala kesengsaraannya . Allah SWT berfirman yang artinya “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yg sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yg serendah-rendahnya kecuali orang-orang yg beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka bagi mereka pahala yg tiada putus-putusnya”.
Al-Qur’an menegaskan kualitas dan nilai manusia dengan menggunakan tiga macam istilah yang satu sama lain saling berhubungan, yakni al-insaan, an-naas, al-basyar, dan banii Aadam . Manusia disebut al-insaan karena dia sering menjadi pelupa sehingga diperlukan teguran dan peringatan. Sedangkan kata an-naas (terambil dari kata an-naws yang berarti gerak; dan ada juga yang berpendapat bahwa ia berasal dari kata unaas yang berarti nampak) digunakan untuk menunjukkan sekelompok manusia baik dalam arti jenis manusia atau sekelompok tertentu dari manusia. Manusia disebut al-basyar, karena dia cenderung perasa dan emosional sehingga perlu disabarkan dan di damaikan. Manusia disebut sebagai banii Aadam karena dia menunjukkan pada asal-usul yang bermula dari nabi Adam as sehingga dia bisa tahu dan sadar akan jati dirinya. Misalnya, dari mana dia berasal, untuk apa dia hidup, dan ke mana ia akan kembali .
Dalam al Quran, manusia berulang-ulang kali diangkat derajatnya, berulang-ulang kali pula direndahkan, mereka dinobatkan jauh mengungguli alam surga, bumi dan para bahkan para malaikat, tetapi pada saat yang sama mereka bisa tiak lebih berarti dibandingkan dengan setan terkutuk dan binatang jahannam sekalipun. Manusia dihargai sebagai makhluk yang mampu menaklukkan alam, namun bisa juga mereka merosot menjadi yang paling rendah dari segala yang rendah. Oleh karena itu makhluk manusia sendiri yang harus menetapkan sikap dan menentukan nasib akhir mereka sendiri . Di dalam Al Quran Allah memperingatkan mereka dengan sebuah celaan;
... Manusia sangat benar-benar mengingkari nikmat. (QS. 22:66)
Ketahuilah sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. (QS. 96:6-7)
... Adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (QS. 17:16)
Apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada kami dalam keadaan berbaring atau berdiri tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu dari padanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. (QS. 10:12)
Ada realitas tunggal di seluruh dunia ini, yaitu pengetahuan tentang diri. Siapa yang mengenal dirinya akan mengenal pula Tuhan dan segala ciptaan-Nya. Siapa yang tidak punya pengetahuan semacam itu, ia tidak mempunyai pengetahuan apapun. Di dunia ini hanya ada satu kekuatan, satu jenis kemerdekaan dan satu bentuk keadilan yaitu kuasa untuk mengendalikan diri. Siapa yang mampu menguasai dirinya akan mampu menguasai dunia. Hanya ada satu bentuk kebaikan di dunia, yaitu mencintai orang lain sebagimana mencintai dirinya sendiri. Dengan kata lain menghargai orang lain sebagaimana menghargai diri kita sendiri. Diluar itu, yang ada hanyalah ilusi dan kehampaan semata.
(Kritik yang disampaikan oleh Mahatma Gandhi [1869-1948] dalam bukunya my Religion).
a. Fithrah Manusia :
1. Manusia adalah makhluk utama, yaitu diantara semua makhluk natural dan supranatural, manusia mempunyai jiwa bebas dan hakikat hakikat yang mulia.
2. Manusia adalah makhluk yang sadar diri. Ini berarti bahwa ia adalah satu-satuna makhluk hidup yang mempunyai pengetahuan atas kehadirannya sendiri ; ia mampu mempelajari, manganalisis, mengetahui dan menilai dirinya.
3. Manusia adalah makhluk kreatif . Aspek kreatif tingkah lakunya ini memisahkan dirinya secara keseluruhan dari alam, dan menempatkannya di samping Tuhan. Hal ini menyebabkan manusia memiliki kekuatan ajaib-semu quasi-miracolous yang memberinya kemampuan untuk melewati parameter alami dari eksistensi dirinya, memberinya perluasan dan kedalaman eksistensial yang tak terbatas, dan menempatkannya pada suatu posisi untuk menikmati apa yg belum diberikan alam.
4. Manusia adalah makhluk idealis, pemuja yang ideal. Dengan ini berarti ia tidak pernah puas dengan apa yang ada, tetapi berjuang untuk mengubahnya menjadi apa yg seharusnya. Idealisme adalah faktor utama dalam pergerakan dan evolusi manusia. Idealisme tidak memberikan kesempatan untuk puas di dalam pagar-pagar kokoh realita yg ada. Kekuatan inilah yg selalu memaksa manusia untuk merenung, menemukan, menyelidiki, mewujudkan, membuat dan mencipta dalam alam jasmaniah dan ruhaniah.
5. Manusia adalah makhluk moral. Di sinilah timbul pertanyaan penting mengenai nilai. Nilai terdiri dari ikatan yg ada antara manusia dan setiap gejala, perilaku, perbuatan atau dimana suatu motif yg lebih tinggi daripada motif manfaat timbul. Ikatan ini mungkin dapat disebut ikatan suci, karena ia dihormati dan dipuja begitu rupa sehingga orang merasa rela untuk membaktikan atau mengorbankan kehidupan mereka demi ikatan ini .
b. Tujuan Penciptaan Manusia
Allah SWT berfirman dalam surat Ad-dzariyat 56: ”Allah tidak menciptakan manusia kecuali untuk mengabdi kepadanya” mengabdi dalam jalan ibadah dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya seperti tercantum dalam Al-qur’an. Kisah tentang manusia ini bermula dari penciptaan Adam, bapak semua manusia. Di sini saya tidak akan membahas kaitan teori evolusi dengan penciptaan Adam. Teks al Quran hanya menceritakan bahwa adam adalah manusia pertama yang menurunkan manusia-manusia sesudahnya. Ia juga mengisyaratkan Allah telah menciptakan manusia dalam beberapa fase-fase kejadian. Berpedoman kepada QS Al Baqoroh: 30-36, maka peran yang dilakukan adalah sebagai pelaku ajaran Allah dan sekaligus pelopor dalam membudayakan ajaran Allah. Untuk menjadi pelaku ajaran Allah, apalagi menjadi pelopor pembudayaan ajaran Allah, seseorang dituntut memulai dari diri dan keluarganya, baru setelah itu kepada orang lain.
Manusia diserahi tugas hidup yang merupakan amanat Allah dan harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Tugas hidup yang dipikul manusia di muka bumi adalah tugas kekhalifaan, yaitu tugas kepemimpinan , wakil Allah di muka bumi, serta pengelolaan dan pemeliharaan alam. Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang mandat Tuhan untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan kepada manusia bersifat kreatif, yang memungkinkan dirinya serta mendayagunakan apa yang ada di muka bumi untuk kepentingan hidupnya.
Sebagai khalifah, manusia diberi wewenang berupa kebebasan memilih dan menentukan, sehingga kebebasannya melahirkan kreatifitas yang dinamis, inilah kajian filsafat yang paling menonjol dikalangan sejarah pemikiran Islam . Kebebasan manusia sebagai khalifah bertumpu pada landasan tauhidullah, sehingga kebebasan yang dimiliki tidak menjadikan manusia bertindak sewenang-wenang. Kekuasaan manusia sebagai wakil Tuhan dibatasi oleh aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh yang diwakilinya, yaitu hukum-hukum Tuhan baik yang baik yang tertulis dalam kitab suci (al-Qur’an), maupun yang tersirat dalam kandungan alam semesta (al-kaun). Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang diwakili adalah wakil yang mengingkari kedudukan dan peranannya, serta mengkhianati kepercayaan yang diwakilinya. Oleh karena itu, ia diminta pertanggungjawaban terhadap penggunaan kewenangannya di hadapan yang diwakilinya, sebagaimana firman Allah dalam QS 35 (Faathir : 39) yang artinya adalah: “Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah dimuka bumi. Barang siapa yang kafir, maka (akibat) kekafiran orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka”.
Kedudukan manusia di muka bumi sebagai khalifah dan juga sebagai hamba Allah, bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan suatu kesatuan yang padu dan tidak terpisahkan. Kekhalifahan adalah realisasi dari pengabdian kepada Allah yang menciptakannya. Dua sisi tugas dan tanggung jawab ini tertata dalam diri setiap muslim sedemikian rupa. Apabila terjadi ketidakseimbangan, maka akan lahir sifat-sifat tertentu yang menyebabkan derajat manusia meluncur jatuh ketingkat yang paling rendah, seperti fiman-Nya dalam QS (at-tiin: 4)
c. Keutamanan Manusia
Ditinjau dari ukuran fisik dan kekuatan lahiriah manusia itu makhluk yang kecil dan lemah. Tetapi dari segi psikis dan potensi internal yang tersimpan dalam dirinya, tak bisa diingkari bahwa manusia adalah makhluk pilihan . Bahkan dari segi tubuhnya yang serba lengkap itu saja telah menjadi miniatur alam raya ini. Tepat sekali apa yang dikatakan oleh seorang penyair :
“Obatmu ada dalam dirimu, tetapi kamu tidak melihatnya
Penyakitmu ada didalam dirimu tetapi kamu tidak menyadarinya.
Kamu menyangka dirimu materi yang mungil
Padahal di dalam dirimu terangkum alam yang besar”.
Sebagaimana pengakuan agama-agama pada umumnya dan Islam pada khususnya mengenai kemuliaan manusia, al Quran menyebut perihal manusia dalam beratus-ratus ayat. Bahkan sejak dari lima ayat pertama yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, al Quran telah menyebutkan perihal manusia. “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajrakan manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. 96.1-5)
Setelah kita membicarakan secara panjang lebar tentang kelebihan dan keutamaan manusia, maka perlu diketahui bahwa dia merupakan hasil akhir dari proses evolusi penciptaan alam semesta. Manusia adalah makhluk dua dimensi. Disatu pihak terbuat dari tanah (thin) yang menjadikannya makhluk fisik, dipihak lain, ia juga makhluk spritual karena ditiupkan kedalam roh Tuhan. Dengan demikian, manusia menduduki posisi yang unik antara alam semesta dan Tuhan, yang memungkinkan berkomunikasi dengan keduanya.
Sebagai makhluk fisik-biologis, manusia adalah makhluk paling maju dan sempurna, dan merupakan puncak evolusi alam. Sebagai makhluk paling maju secara fisik dan paling rumit dalam strukturnya, manusia mengandung semua unsur yang ada dalam kosmos, mulai dari unsur yang ada dalam dunia mineral (batu-batuan, logam, dan lain-lainnya), dunia tumbuhan dengan kemampuan untuk tumbuh, memamah biak dan berkembang biak, sampai yang ada pada dunia hewan dengan kemampuannya bergerak secara bebas melakukan penyerapan indrawi (sense perception).
Selain itu manusia juga memiliki jiwa rasional yang hanya dimiliki bangsa manusia saja. Jiwa rasional ini memungkinkan manusia mampu mengambil premis-premis rasional yang berguna untuk membimbing, mengatur, dan menguasai daya-daya dari jiwa –jiwa yang lebih rendah. Dengan demikian, manusia merupakan inti dari alam semesta.
D. Antara Manusia Dengan Tuhan
Jika kita mengajukan pertanyaan “apakah yang menjadi perhatian utama dalam kehidupan manusia?” salah satu jawaban yang pasti akan kita terima adalah Kebahagiaan. Mazhab etika hedonis menarik kesimpulan tentang seluruh kehidupan etis dari pengalaman kebahagiaan dan penderitaan yang datang dari berbagai tindakan akan tetapi kita tidak perlu melangkah lebih jauh dengan aliran ini, akan tetapi harus kita akui bahwa kenikmatan yang langgeng adalah ketika bisa merasakan kehadiran Tuhan dan mendapatkan pengalaman spritual yang tidak bisa dihargakan .
Tuhan tidak memerlukan manusia, tetapi justeru manusialah yang membutuhkan kehadiran Tuhan demi kemanusiaannya sendiri. Apresiasi yang sejati terhadap nilai Ketuhanan dengan sendirinya menghasilkan apresiasi sejati terhadap nilai kemanusiaan. Ketuhanan tanpa kemanusiaan dikutuk oleh Tuhan dan kemanusiaan tanpa Ketuhanan adalah bagaikan fatamorgana . Seluruh ibadah dalam Islam mempunyai tujuan untuk membina hubungan kita dengan Allah, hubungan itu akan menjadi intensif kalau kita menghayati Tuhan melalui nama-nama-Nya atau sifat-sifat-Nya yang baik. Allah kita hadirkan dalam bentuk kualitas-kualitas agar ditransfer kedalam diri kita, sehingga kita akan mengalami pengembangan pribadi yang sempurna. Maka sebetulnya menghayati Tuhan melalui sifat-Nya yang maha kasih itu saja dengan segala pengertiannya yang luas sudah cukup. Diharapkan bahwa kualitas-kualitas seperti itu kemudian ditransfer kedalam diri kita sehingga menjadi bagian dari bahan untuk mengembangkan kepribadian kita. Inilah akhlak Ilahi. Moralitas ketuhanan.
Dari sini kita mengenal istilah yang memperkaya kebudayaan kita sendiri yaitu “manusia seutuhnya”. Manusia akan utuh hanya bila dia mencerminkan sifat-sifat Ilahi dalam dirinya, bila dia memenuhi perintah Allah. Sebaliknya bagi orang yang lupa kepada Tuhan maka dia tidak akan mungkin akan menjadi manusia yang integral, manusia yang utuh. Allah memeperingatkan dalam al Quran “Dan Janganlah seperti mereka yang melupakan Allah, dan Allah akan memebuat mereka lupa akan dirinya sendiri” (Q. 59:19). Artinya kita akan kehilangan makna hidup, kehilangan tujuan hidup dan integritas kepribadian sehingga kita tidak akan mempunyai harapan karena sejatinya kita dapat bertahan hidup adalah karena Allah yang dilukiskan sebagai al Shamad.
Tidak ada satu ibadah pun yang diwajibkan oleh Tuhan melainkan ia menjadi perantara serta cara untuk mensucikan jiwa orang mukmin dan meningkatkan derajat ruhnya. Namun sangat sedikit energi yang dikeluarkan untuk beribadah itu jika dibandingkan dengan kebaikan yang didapatkan dibalik ibadah yang dilakukan tersebut. Dan tidak ada satu perkara pun yang diharamkan oleh agama untuk dikerjakan manusia, melainkan ia menjadi pemelihara bagi akal, jiwa, akhlak, harta, kehormatan dan keturunannya.
Ketika agama mengharamkan sesuatu bagi manusia, secara konsisten ia pasti menyediakan pengganti yang lebih baik yang tak mendatangkan kerusakan sebagaimana yang diharamkan itu. Dengan demikian seorang hamba/manusia tidak akan merugi dengan beribadah kepada Allah dan memelihara diri dari perkara yang diharamkan. Justeru ia akan mendapatkan keberuntungan dan kebaikan serta mampu menguasai hawa nafsu. Dia pun akan mendapatkan bentuk keberuntungan yang lain yakni jiwa yang tenang dan kehidupan yang damai . Berdasarkan analisis atas kesadaran yang baru saja kita suguhkan, kita berhak mengajukan sebuah pertanyaan, jika benar bahwa diri dengan realitas ontologisnya sendiri selalu hadir di dalam Tuhan maka Tuhan pun akan selalu hadir di dalam diri . Hidup ini bukanlah lingkaran tertutup yang tanpa ujung pangkal, ia berpangkal dari sesuatu dan berujung kepada sesuatu yaitu Tuhan pemberi kehidupan.
BAB III
PENUTUP
Al quran biasa didefinisikan sebagai firman-firman Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril sesuai redaksiNya kepada nabi Muhammad SAW dan diterima oleh umat Islam secara Mutawatir. Al quran adalah sumber ajaran Islam, kitab suci ini seperti disebutkan diatas menempati posisi sentral, bukan saja dalam perkembangan dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman akan tetapi pemadu gerakan umat Islam.
Tuhan dalam Islam tidak hanya Maha Agung dan Maha Kuasa, namun juga Tuhan yang personal. Menurut al-Qur'an, Dia lebih dekat pada manusia daripada urat nadi manusia. Dia menjawab bagi yang membutuhkan dan memohon pertolongan jika mereka berdoa pada-Nya. Di atas itu semua, Dia memandu manusia pada jalan yang lurus, “jalan yang diridhai-Nya. Menurut para mufasir, melalui wahyu pertama al-Qur'an (Al-'Alaq 96:1-5), Tuhan menunjukkan dirinya sebagai pengajar manusia. Tuhan mengajarkan manusia berbagai hal termasuk diantaranya konsep ketuhanan. Umat Muslim percaya al-Qur'an adalah kalam Allah, sehingga semua keterangan Allah dalam al-Qur'an merupakan penuturan Allah tentang diri-Nya.
Manusia adalah mahluk Allah yang paling mulia,di dalam Al-qur’an banyak sekali ayat-ayat Allah yang memuliakan manusia dibandingkan dengan mahluk yang lainnya.Dan dengan adanya ciri-ciri dan sifat-sifat utama yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia menjadikannya makhluk yang terpilih diantara lainnya memegang gelar sebagai khalifah di muka bumi untuk dapat meneruskan,melestarikan,dan memanfaatkan segala apa yang telah Allah ciptakan di alam ini dengan sebaik-baiknya.
Tugas utama manusia adalah beribadah kepada Allah SWT.Semua ibadah yang kita lakukan dengan bentuk beraneka ragam itu akan kembali kepada kita dan bukan untuk siapa-siapa.Patuh kepada Allah SWT, menjadi khalifah,melaksanakan ibadah,dan hal-hal lainnya dari hal besar sampai hal kecil yang termasuk ibadah adalah bukan sesuatu yang ringan yang bisa dikerjakan dengan cara bermain-main terlebih apabila seseorang sampai mengingkarinya.
Daftar Pustaka
Achmad Muchaddam Fahham, Tuhan Dalam Filsafat Allamah Thabathaba’i, Teraju, Bandung, Cet I, Juli 2004
Adi Suryadi Culla, Masyarakat Madani, PT Raja Grapindo, Jakarta, 1999
Aisyah Abdurrahman, Manusia Sensivitas Hermeneutika Al Quran, LKPSM, Yogyakarta, Januari 1997
Budhy Munawar Rachman, Penyunting, Ensiklopedi Nurchalish Madjid “Pemikiran Islam di Kampas Peradaban”, Mizan, Jakarta, Cet I
http://www.f-adikusumo.staff.ugm.ac.id/artikel/manusia1.html
Ian G. Barbour, Natur, Human Natur, and God, “Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporer dan Agama, terj Fransiskus Borgias, Mizan, Bandung, 2005
Ilyas Ismail, HIKMAH, “Mewariskan Kebaikan, Harian Republika, Rabu, 1 Desember 2010
Mehdi Ha’iri Yazdi, The Principles of Epistemology in Islamic Philosophy, Terj. Ahsin Muhammad, Epistimologis Iluminasionis dalam Filsafat Islam, Mizan, Bandung, Agustus 2003, hal 270
Muhammad Yasir Nasution, Manusia Menurut Al Ghazali, PT. Raja Grapindo Persada, Jakarta, Juni 1999
Mulyadhi Kartanegara, Nalar Religius “ Memahami Hakikat Tuhan, Alam, dan Manusia”, Erlangga, Jakarta, 2007
Murtadha Mutahhari, Perspektif Al Quran tentang Manusia dan Agama, Mizan, Bandung, Pebruari, 1989/Rajab 1409
¬¬¬-------- Al Adly al Ilahy, Terj. Agus Efendi, Keadilan Ilahi, Mizan, Pebruari 2009
Nadim al Jisr, Qishshas al Iman Bayn al Falsafah wa al Ilm wa al Quran, Terj. Mochtar Zoerni, Para Pencari Tuhan, Pustaka Hidayah, Bandung, 1998
Nanang Qosim Yusuf, The 7 Awareness, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2009
Nurchalish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, “Sebuah Telaah Kritis Tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan”, Yayasan Wakaf Paramadina, Jakarta, Cet ke IV, September 2000
Quraish Shihab, Membumikan Al Quran, Mizan, Bandung, Maret 1999
Shehab Magdy, dkk, Al I’jaz al Ilmi fi Alquran wa Sunnah, Terj. Masyah Syarif Hade , Ensiklopedia Mukjizat Al Quran dan Hadits, “ Kemukjizatan Penciptaan Manusia” Sapta Pesona, Bekasi, Indonesia, 2008
Suyoto (Abu Ashfa), Andai Tuhan Komersial, Aditya Media, Yogyakarta, November 2003
William James, The Variates of Religious Experience, United States of America by Longman, USA , 1902
Yasin T al Jibouri, The Concept of God in Islam, “Konsep Tuhan Menurut Islam”, Ansariyan Publications, Qum, Iran, 1418 H/1997
Yusuf Qardhawi, Al Iman wal Hayat, Merasakan Kehadiran Tuhan, Terj, Jazirotul Islamiyah, Mitra Pustaka, Yogyakarta, Mei 2000
Tidak ada komentar:
Posting Komentar