Semua makhluk yang ada di muka bumi ini dibagi menjadi dua kelompok; makhluk bernyawa dan makhluk tidak bernyawa. Makhluk tidak bernyawa seperti air, api, batu, dan tanah, tidak memainkan peran apapun dalam membangun dan mengembangkan dirinya. Mereka mewujud dan tumbuh semata-mata dibawah pengaruh faktor-faktor eksternal. Mereka tidak melibatkan diri dalam kegiatan apapun untuk tujuan mengembangkan eksistensi mereka. Sebaliknya makhluk-makhluk hidup seperti tumbuhan, hewan dan manusia senantiasa melakukan upaya-upaya tertentu untuk mempertahankan diri dari aneka kesulitan memperoleh makanan dan berkembang biak.
Dalam al Quran, manusia berulang-ulang kali diangkat derajatnya, berulang-ulang kali pula direndahkan, mereka dinobatkan jauh mengungguli alam surga, bumi dan bahkan para malaikat, tetapi pada saat yang sama mereka bisa tidak lebih berarti dibandingkan dengan setan terkutuk dan binatang jahannam sekalipun. Manusia dihargai sebagai makhluk yang mampu menaklukkan alam, namun bisa juga mereka merosot menjadi yang paling rendah dari segala yang rendah. Oleh karena itu makhluk manusia sendiri yang harus menetapkan sikap dan menentukan nasib akhir mereka sendiri. Karena sesungguhnya seperti kata Dr. Daud Rasyid hidup ini ibarat sebuah perjalanan yang mana kita menuju sebuah tempat dimana ketika sebuah persimpangan yang ada membuat kita bingung antara timur, barat, utara dan selatan, kemanakah kaki melangkah ? untungnya ada sebuah petunjuk dari rambu lalu lintas dan dinas perhubungan yang terpampang dengan jelasnya di pinggiran jalan, ketika kita bermaksud menuju Jakarta dari Yogyakarta maka janganlah berangkat dari simpang jalan yang mengarahkan anda ke Surabaya, karena ketika anda salah jalan sementara rambu sudah jelas maka anda tidak akan dapat menyalahkan pemerintah, dinas lalu lintas dan polantas yang ada karena itu murni sesungguhnya kesalahan anda yang tidak patuh terhadap peraruturan, begitulah kiranya kehidupan dunia ini yang akan menghantarkan kita menuju istana terang kemilau sang maha raja cahaya untuk menjumpai TuhanNya. Sudah jelas undang-undang dan petunjuk dariNya oleh karena itu ketika kita salah jalan maka tidak ada hak kita untuk menggugat Tuhan karena dia sudah memberikan sesuatu yang berharga berupa kode etiknya permainan yang bernama dunia ini. Maka janganlah sampai kalah dalam sebuah kesempatan yang ada dan pelajarilah dengan mantap sebuah kitab kebahagiaan itu.
Seorang filosof muslim yang masyhur namanya di belahan dunia seperti Ibn Sina (Avicenna) pernah menyampaikan bahwa Jiwa manusia ini terbahagi tiga yaitu jiwa, nabati, hayawani dan nafsani, kecenderungan ketiga jiwa ini jelas sangat berbeda yang menggambarkan inilah dia realitas kehidupan manusia hari ini.
Jiwa pertama...
Dimaksudkan kondisi manusia seperti halnya tumbuhan yang tidak mempunyai pergerakan dan tidak ambil pusing dengan tumbuhan disekitarnya, hidup, tumbuh, berkembang dan mati, inilah kondisi manusia yang tidak mempunyai nurani terhadap sekitarnya, hal ini sangat banyak kita jumpai di kota metropolitan seperti halnya rumah gedongan perumahan yang satu sama lain tidak butuh tegur sapa, semua sibuk dengan aktivitas masing-masing, hidup dan matinya hanya untuk individual dan komunitasnya saja. Tidak melahirkan kesalehan sosial sehingga kehidupannya seolah tanpa makna dan manfaat bagi manusia lainnya. Begitu juga seorang yang alim misalnya kalau dia itu beribadah di sebuah hutan yang tidak dihuni oleh makhluk yang bernama manuia selain dirinya, dia pergi meninggalkan kaumnya dan kerabatnya karena tidak mau disibukkan dengan yang namanya syiar dan tabligh. Bahkan seorang nabi pun ketika lari dari kaumnya itu maka langsung akan ditegur oleh Tuhannya, maka menarik sesungguhnya apa yang disampaikan oleh Habiburrahman el Shirazy bahwa seorang abid yang hidup disebuah gunung bukan berarti lebih baik dengan seorang alim yang hidup di metropolitan karena memang obyek yang kita harus shibgah itu jelas adanya dan kita tidak akan menjadi manusia egois yang mementingkan diri secara pribadi untuk bermesraan dengan sesuatu obyek yang bernama Tuhan.
Jiwa kedua...
Jiwa hayawani, jikalau kecenderungan yang nabati lebih banyak mengurusi internal tanpa tidak sama sekali untuk kondisi yang lain berbeda seratus delapan puluh derajat dengan jiwa hayawani, jiwa ini justeru aktif bergerak dan berbuat tapi mengenaskan, tidak ada hal menjadi penghalang sepanjang semuanya itu mempunyai kesenangan dan untung kepada diri, sehingga hitam bisa jadi putih dan putih berubah hitam, halal di haramkan sementara haram dihalalkan. Penghalang hanyalah ruang-ruang kekuasaan dan itupun kalau masih memungkinkan celah untuk memasukinya yang walaupun secara rahasia masih dilakukan juga. menggelapkan uang negara, tidak peduli itu milik siapa yang penting adalah untung dan kesenangan. Lihatlah segerombolan kera yang ingin memetik buah pisang atau tupai yang menginginkan kelapa tidak pernah permisi untuk izin sama sekali kepada pemiliknya, dan metode ini ternyata menginspirasi orang yang lebih parah dan hina dari pada kera dan tupai. Pantaslah Allah SWT dalam sebuah maklumatnya menyampaikan bahwa DIA bisa saja mensejajarkan manusia dengan binatang bahkan yang lebih hina dari pada itu.
Untuk membangkitkan kesadaran dan lamunan serta inspirasi kebinatangan yang tidak wajar ini maka Allah SWT dalam Al Quran banyak mencela manusia untuk kemudian lebih tahu diri dan bisa memanfaatkan waktu yang ada.
... Manusia sangat benar-benar mengingkari nikmat. (QS. 22:66)
Ketahuilah sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. (QS. 96:6-7)
... Adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (QS. 17:16)
Apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada kami dalam keadaan berbaring atau berdiri tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu dari padanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. (QS. 10:12)
Jiwa ketiga...
Insani, berbeda dengan jiwa pertama dan kedua, mempunyai karakter yang lebih mulia, dengan suara hati yang fithrah ia berusaha untuk mengenal dirinya demi untuk mendekatkan diri kepada TuhanNya, menginfakkan hidup untuk kemaslahatan umat tidak ada istilah itu kan mereka bukan gue, sadar akan hakikat penciptaan dirinya sebagai pengelola (khalifah fi al ardh) dan untuk beribadah kepada sang pencipta maka ia membangun sebuah garis yang jelas dan menuntun orang disekitarnya untuk bersama berjalan menuju Tuhan pencipta langit dan bumi. Inilah kesalehan sosial yang mengajak, menyeru dan memanusiakan manusia, bahkan dari sini akan lahir generasi-generasi yang berpikir untuk kemaslahatan umat, negeri dan bangsanya. Dan out put darinya adalah makhluk yang dinamis, kreatif, inovatif dan responsitif dengan metode islamisasi ilmu pengetahuan dan modernitas. Seorang ulama kenamaan Persia menyampaikan dalam sebuah gubahan syair;
Anak-anak Adam laksana anggota tubuh;
Sebab mereka tercipta dari lempung yang sama.
Jika satu bagian terlanda lara,
Yang lain menderita resah hebat.
Engkau yang ingkar derita manusia,
Tak pantas bernama manusia.
Sedangkan Media informasi baik ia cetak dan elektronik, yang seharusnya menjadi icon penggerak dan mempunyai andil besar sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya yaitu sebagai, kontrol sosial, pendidikan dan hiburan kerap berubah seolah makhluk yang menjelma menjadi dajjal perusak moral dan tatanan kehidupan yang layak. Kebebesan Pers yang tak terkendali dewasa ini dikhawatirkan semakin menjadi ancaman serius bagi masyarakat. Dengan dalih kebebesan pers, semakin banyak penampilan media yang cenderung menyimpang dari tugas mulianya, lihatlah gosip, infotaiment yang menyajikan aib, urusan pribadi yang tak pantas ekspos, perselingkuhan, bahkan juga nama tuhan dibajak untuk kepentingan industri perfilmana di Indonesia. Dalam pengelolaan pers di tanah air, sesungguhnya ada aturan main yang menjadi acuan bagi setiap wartawan yaitu kode etik jurnalistik. Pedoman yang dimuat dalam kode etik jurnalistik secara umum adalah memberi arahan kepada wartawan, begitu juga dengan entertainment berupa penyiaran di beberapa stasiun televisi mempunyai lembaga sensor film yang berhak membatasi dan mengarahkan dunia acting artis dan selebriti. Lantas kenapa gonjang-ganjing media menjadi isu yang seolah paling diminati dijagat ini ? karena sesungguhnya karakter kita sebagai manusia yang berjiwa insani telah dikerubungi oleh indahnya hedonis dan pragmatis.
Berbagai proses terkadang dilakukan untuk mengeliminasi bintang yang cahayanya tidak memancarkan karakter budaya, adat, norma dan agama yang hanif, kita betul prihatin terhadap nuansa yang tidak elegan dan wajar di bumi yang dihuni masyarakat beradab dan berketuhanan ini. Khawatir menyalahkan arti sebuah demokrasi sehingga ujungnya hanyalah kegagalan dalam menciptakan masyarakat yang baik dan mandiri menuju baldatun thayibbatun wa rabbun ghafur. Jangan kiranya kesuksesan finansial dan materi dianggap hanya sebagai tolak ukur mutlak kehidupan ini. Sesungguhnya kalau kita melihat beberapa kasus dinegara maju seperti Amerika dan beberapa negara di Eropa banyak yang menjumpai harta, bergelimang kemewahan namun kering secara spritual sehingga ujung dari karir nya hanyalah mati bunuh diri karena tidak tahu apa sesungguhnya yang dicari dalam hidup ini, maka tidak heran di San Paransisco ada jembatan yang menjadi tempat faforit mengakhiri hidup (bunuh diri). Sungguh sangat disayangkan icon negeri ini apabila mempunyai paradigma dan pola pikir yang sama sekuler dan ateis ditambah hedonis dan pragmatis hilang idealis.
Melihat akhir-akhir ini tentang prestasi yang diukir oleh sebahagian sutradara kita dan beberapa naskah yang sempat diangkat ceritanya ke layar lebar, yang tentunya mempunyai pesan moral, budaya, adat dan agama serta nasionalis yang tinggi maka pantas untuk kita garis bawahi bahwa sesungguhnya kita memang merindukan hiburan dan inspirasi untuk mengisi ruang kosong didalam dada. Lihatlah dalam mihrab cinta, AAC,KCB, Laskar Pelangi, Sang Pencerah, Sang Pemimpi, Tanah Air Beta, Merah Putih dan lain sebagainya yang telah menempatkan posisi ideal dimata negeri dan dipuja oleh luar negeri. Menjadi bahagian untuk mempertajam mata hati dan menelusuri jejak para nabi.
Dari pengamatan ini perlu kiranya kita berpikir untuk memberikan nilai yang lebih kepada media yang ada di Indonesia sehingga industri perfilman dan dunia pers ditanah air adalah pilar kebangkitan umat setelah masjid dan kampus. Ketika beberapa kasus di Indonesia ini mendapat respon yang hangat oleh beberapa pengamat, Praktisi dan masyarakat, lantas kenapa tidak demikian halnya kepada media yang satu ini. Harusnya pengawasan dan lembaga yang independent atas nama hukum berdiri tegak sebagai pelopor, penggerak dan kontrol yang serius seperti halnya KPK menjaring tikus-tikus berdasi, karena kebobrokan darinya akan melahirkan mental yang yang sangat fatal bagi generasi bangsa yang menonton dan mengikuti jejaknya.
Wallahu ‘alam ,,,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar