Rabu, 15 Desember 2010

Mencari Sosok Pemimpin (Menuju Masyarakat Beradab dan Berketuhanan Berteraskan Kemandirian)

Saya mulai dengan sebuah kunjungan presiden Iran Mahmud Ahmadinejad beberapa waktu yang lalu ke Libanon menjadi sebuah bukti sejarah dunia bahwa sesungguhnya figur seorang pemimpin dibutuhkan seperti mereka yang berjiwa merdeka dan mempunyai kesalehan sosial yang siap menjadi petarung, berkorban untuk rakyat yang dicintainya, bukan seperti mereka ,,,yang hanya mencari popularitas dan kesibukan serta mengantongi uang negaranya, didalam sebuah pentas demokrasi maka dapat dibaca bahwa masih banyak diantara republik ini yang masih simpang siur bahkan berdebat tanpa ujung pangkal dan kesimpulan yang jelas tentang hakikat dari sebuah demokrasi, hal ini penulis jumpai dalam sebuah mode ngetrend kawula muda dalam mencurahkan aspirasinya melalui jejaring sosial, diantara mereka ada yang mengatakan “Dasar anak muda zaman sekarang kerjanya demo melulu”, “rasain kena pelurunya aparat”, “makanya belajar yang benar biar bisa menggantikan presiden”, dan sebahagian yang pro mengatakan “Mari kita mengawal Indonesia dari elit dan mafia hukum, peradilan, kkn yang telah menjadi biang keladi rusaknya Negeri”, Bagi sebahagian yang tidak sepakat dengan kritik pedas terhadap pemerintah, mendingan pulang saja, cuci kaki, minum susu, gosok gigi, tidur yang nyenyak”, bahkan saking asyiknya mereka menyampaikan keluh kesah mereka dalam jejaring sosial ini muncullah sentimen dan ego seraya berucap “Kalau begitu anda saja yang yang jadi presiden agar satu jam saja anda dihujat dan dikritisi oleh 230 juta penduduk Indonesia” tanpa mereka sadari sesungguhnya demokrasi yang mereka perdebatkan sudah bahagian dari apa yang mereka lakukan detik itu juga. (Kritik ini muncul dalam rangka repleksi 1 tahun pemerintahan SBY-Budiono Kabinet Indonesia Bersatu jilid II pada tanggal 20 Oktober 2010).
Kembali kepada Mahmud Ahmadinejad,,,saya sesungguhnya tidak pernah terpikir dan membayangkan hari ini bahwa seorang pemimpin negara ketika kunjungannya ke negara lain seolah ia bak pahlawan yang dinantikan kehadirannya, didengar ucapannya dan dirindukan kepergiannya bahkan ketika kunjungannya ke Indonesia menjadi hari yang spesial bagi sebahagian masyarakat terutama akademisi kampus untuk bertatap muka dengan pemimpin syiah ini sampai ada diantara mahasiswa yang mengatakan “Kami butuh presiden seperti anda”, sesuatu hal yang sangat menarik dan ada apa gerangannya...?. sebagai makhluk yang mempunyai keterbatasan indra maka memang tidak ada yang sempurna dan mengetahui segala-galanya sampai sesuatu hal yang tersembunyi dibalik hati seorang manusia kecuali apa saja yang keluar dari mulut dan kemana langkah kaki dan gerak tangan yang ia perbuat ketika memimpin dan dipimpin.
Sekilas penulis ingin menyampaikan profil sang presiden dari golongan moderat ini, ketika pertama kali menjabat sebagai wali kota Teheran maka hal utama yang dibenahinya adalah penataan tata kota agar mencerminkan kerapian disetiap sudutnya, tempat-tempat umum agar tidak menjadi sarang preman melampiaskan hajatnya, permadani-permadani di instansi pemerintah agar sebahagiannya di sumbangkan kepada rumah-rumah ibadah, menjadi icon kesederhanaan bahkan ketika kampanye untuk menjadi orang nomor satu (presiden)di wilayah kelahirannya tersebut ia tidak mempunyai dana yang lebih untuk menarik massa, memasang baliho, dan spanduk apalagi untuk menebar janji dan menyuguhkan amplop, rumahnya di sebuah sudut segi empat dan bersekat, inilah dia memoar presiden yang tidak pernah memasang dasi ini.
Tidak sedikit opini yang beredar dan sampai mencuci otak kita sehingga menyimpulkan sesuatu hal itu tidak obyektif, yakni dia presiden Iran adalah makhluk radikal, pemimpin garis keras. Bahasa ini muncul dari Amerika dan Israel sebagai sekutunya, mencari-cari sebuah kesalahan untuk di ekspos secara besar-besaran sehingga mati, eksekusi dan bunuh diri, inilah kegilaan hari ini. Sejarah yang cukup kelam dengan pendistorsian sebuah realitas dan yang paling menyakitkan kita sangat mudah mengikut alur media tanpa adanya sebuah filterisasi. Mungkin kita mempunyai figur diantara sekian banyak pemimpin hari ini tapi marilah jujur terhadap kenyataan yang telah merobek dan menghinakan sebuah izzah. Lantas siapa yang akan menjungjung dan membela itu? Bahkan Samuel P Hantington dalam sebuah tesisnya menyampaikan musuh blok barat setelah kehancuran Uni Sovyet adalah umat Islam. Lantas wajar sesungguhnya disampaikan sebuah pernyataan untuk kita jawab sehingga kita mempunyai sebuah kesimpulan terhadap realitas.
1. Apakah seorang yang menginginkan tegaknya keadilan dan berusaha untuk memanusiakan manusia wajar dipandang sebagai pemimpin radikal?.
2. Apakah seorang yang membela tertindas dan ingin memuliakan, memerdekakan, wajar bila dicap sebagai kelompok keras?.
3. Apakah anda sebagai orang yang membela dan memuliakan mereka yang ingin memuja dan mengaktualisasikan ajaran TuhanNya, wajar kalau disebut sebagai pembangkang?.
Hal yang aneh ketika pemuja kebebasan dan penyimpan patung liberty memberikan garis, mengkotak-kotakkan kesempatan bahkan terlalu jauh mencampuri sesuatu hal yang menjadi prinsip bagi keyakinan orang lain, dan sebagai simbol perlawanan terhadap kesewenangan itu maka sang presiden mengatakan “ Jikalau nuklir sesungguhnya bahaya bahaya bagi negara-negara lain kenapa justeru anda Amerika memilki ini nuklir dan jikalau sesungguhnya manfaat kenapa justeru hanya anda yang berhak mempergunakan manfaat ini tanpa memberi hak untuk orang lain?, kata-kata yang membuat dunia bertanya-tanya olehnya atau bahkan sudah ada siyasat untuk menggulingkan sang presiden yang pada akhirnya nanti akan menjumpai jebakannya sendiri sehingga tian gantungan menjadi saksi kematiannya, dan keluarlah berita ternyata sang presiden adalah teroris. Berbagai hal telah disandangkan untuk membungkam sejarah yang ditorehkannya. Hanya Allah yang tahu...
Bandingkan dengan Indonesia yang untuk menangani masalahnya tidak pernah solutif, masalah Indonesia Malaysia menjadi perhatian dunia Internasional, WNA yang kerap memasuki wilayah perairan Indonesia, Klaim-mengklaim terjadi begitu saja, kemiskinan, radikalisme, kerusuhan, dan sabotase menjadi hal yang tidak terbendung lagi, belum lagi musibah yang menimpa negeri ini, semua berduka, semua menangis, semua berlinang air mata tapi adakah kita di himbau untuk seruan moral dan berlari menuju Tuhannya, hampir kita tidak mendengar hal tersebut yang seharusnya kita dihimpun untuk mendudukkan permasalahan ini mulai dari praktisi, politisi, pakar, pengamat, budayawan, pemangku adat dan rohaniawan untuk menjadikan negeri ini mempunyai akhlak, moral dan hubungan pertikal horizontal yang baik, karena sesungguhnya bencana yang kerapa melanda murni tidak hanya sebatas fenomena alam saja tapi akibat ulah tangan manusia. Dan kalau ditanya ini kenapa ...? maka akan saya analogikan ibarat anak kecil yang kerap membuat orang tuanya jengkel, selalu melakukan apa saja yang membuat orang terpancing untuk melihatnya, bahkan ketika kita bilang “jangan” justeru dia dengan sangat senang hati mencoba untuk melakukannya, benar bahwa dia memang butuh perhatian dan ingin dimanja, begitulah kondisi rakyat Indonesia hari ini maka wajar mereka berbuat sesuatu hal yang negatif (membuat hati jengkel dan meluapkan emosi) karena mereka tidak melihat pemimpin yang senyum dan sapa kepada rakyat ditambah kesan yang sangat birokrat seolah dinding yang menyekat dan berduri bagi sebahagian orang kecil dan pinggiran.
Dengan mempergunakan istilah yang disampaikan oleh Prof. Dr. Amin Rais dalam ijtihad politiknya ketika membidani lahirnya gerakan yang katanya mempunyai khittah “asah, asih, asuh” maka pada tahun 1998 dalam pidato politiknya melalui partai amanat nasional bahwa ada lima pilar yang bisa membuat Indonesia maju, mandiri dan bermartabat.
1. Indonesia yang kaya,
Sehingga menjadi sasaran empuk penjajah untuk mendapatkan surga bagi dunia, terbukti penjajahan yang silih berganti dengan waktu yang tidak sedikit menghabiskan waktu dan pikiran, lihat hijau daun, birunya laut dan tanah yang didalamnya terkandung kekayaan yang luar biasa.
2. Indonesia yang mudah terbentuk,
Bangsa yang mempunyai belasan ribu pulau ini adalah bangsa yang santun, bermoral dan dan berbudaya sehingga ketika kebaikan adalah hal yang ditawarkan akan mudah diterima, manfaat yang disuguhkan akan selalu didukung, saksikanlah bagaimana Sukarno dengan mudah mempengaruhi dan membentuk pola pikir masyarakat Indonesia ini. Pembentukan itu tidak terlepas dari kepribadian, komitmen dan action sang pemimpin (presiden).
3. Akar Kesejaahan yang Kuat,
Historis yang mengurat mengakar menjadi sebuah kekutan bangsa ini, peradaban an kebudayaan serta tradisi yang beragam membuat ia mempunyai citra, jati diri dan komitmen, bisa diruntut dari Majapahit, Sriwijaya, Demak, dan Pasai yang membentangkan sayap-sayap kekuasaannya sampai ke Malaka.
4. Kecerdesan Intelektual,
Tidak ada perbedaan antara kulit putih dan yang bukan, oleh karenanya karya yang menyejarah dari anak bangsa telah banyak disaksikan oleh dunia, sehingga masih kata Amin Rais “saya tidak pernah minder menjadi bahagian negeri ini yang walaupun setiap harinya hanya makan tempe, kangkung dan toge bukan berarti kalah dengan mereka yang makan keju, coklat dan steak. Perhatikanlah tokoh bangsa mulai dari Hatta, Hamka, Harun, Caknur, Quraisy Shihab, kang Abik dan sejumlah anak negeri yang terus unggul dalam lomba eksakta di kancah internasional.
5. Ketahanan Mental,
Telah banyak ujian, baik yang sifatnya eksternal dan internal, penjajahan pisik, dan amukan alam yang sifatnya nature, dinamika budaya dan etnik membuat bangsa ini tahan uji dan lebih siap untuk menerima kenyataan.
Melihat kenyataan ini maka peluang besar sesungguhnya untuk menuju bangsa yang beradab, berketuhanan dan sejahtera sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam pancasila, kita hanya perlu membangkitkan kesadaran, membangunkan tidur panjang dan memupuk rasa persaudaraan. Tidak penting apakah pemimpinnya lahir dari partai hijau, biru dan kuning, yang penting tidak hanya sekedar teori dan retorika karena kita sudah bosan dan menarik empati dari hal tersebut, Untungnya HARAPAN ITU MASIH ADA...
Karakter pemimpin yang diananti ;
1. Taat kepada Tuhannya.
2. Rindu kepada RasulNya.
3. Dekat dengan masyarakatnya.
4. Bersih, Peduli dan Rasional Jiwanya.
Kenapa saya berani mengatakan pemimpin yang menjadi impian rakyat ... ?, karena penulis melihat dalam point tersebut mengandung unsur kesederhanaan, kekuatan, dan ada simbol kenyamanan di dalamnya. Perlu kita sadari bahwa fithrahnya manusia adalah menginginkan kenyamanan, lihatlah ketika sebentar saja listrik mati maka tidak sedikit diantara kita yang berteriak “yachh”, “mati pula lampu”, “perusahaan lilin negara kok mati-mati saja”, sementera listrik hidup maka akan terlihat senyum simpul diwajah-wajah kita dan bersyukur hati kita karena memang manusia butuh kenyamanan dan paling tidak suka kegelapan.
Peluang yang sudah terbuka lebar untuk orang yang mau berjuang melalui instansi ini pastikan profesionalitas melekat pada diri anda dan berusahalah dari kerja merekahkan cinta sehingga dari istana menuju singgasana sang Maha Raja Cahaya, tempatnya para bidadari dan tamu istimewa dari negeri dunia, untuk hal yang berkaitan dengan aspirasi terimalah adanya. Fahmi Huwaydi mengatakan “Upaya untuk saling mengkritik adalah sebuah hak dan kewajiban yang harus disampaikan kepada siapapun dan dimanapun” sementara secara filosofis Nurchalis Madjid menjelaskan “Manusia tidak selalu benar adanya oleh karena itu upaya pengingkaran terhadap sesuatu yang yang tidak benar dan kurang tepat baik adanya”, sedangkan Imam Syafii pernah menyampaikan “ Pendapat saya benar tapi mungkin ada kekeliruan di dalamnya sedangkan pendapat orang lain keliru tapi mungkin ada kebenaran didalamnya”.
Oleh karena itu marilah kita menjadi bangsa yang dewasa, yang bersikap, berbuat dan berbicara secara demokratis tapi etika adalah aturannya, lihatlah Abu Dzar Al Ghiffari dan Imam Nawawi sebagai mediator demo tapi lebih dewasa, terkontrol dari pada kita yang sudah jauh meninggalkannya zamannya.
Pemimpin sejati adalah seseorang yang selalu mencintai dan memberi perhatian kepada orang lain, sehingga ia dicintai, memilki integritas yang kuat, sehingga ia dipercaya oleh pengikutnya, selalu membimbing dan mengajari, memilki kepribadian yang kuat dan konsisten. Yang terpenting adalah memimpin berlandaskan suara hati yang fithrah.
Tunjukkanlah pada dunia bahwa kita adalah generasi Rabbani yang siap untuk memakmurkan negeri ini sebagai titah Tuhannya dan sebagai bentuk penghambaan terhadap KuasaNya.



Rahmat Kurnia Lubis
(Pengamat, dan Peminat kajian Filsafat, Sosial, Politik dan Pemikiran Kontemporer)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar