Rabu, 15 Desember 2010

Dinding-dinding Harapan Yang Mengkotak-kotakkan Kesempatan

Bagi siapa saja yang berkunjung ke Negeri ini pasti akan berdecak kagum ketika melihat bangunan indah yang menghiasi kota Jakarta apalagi ketika menyaksikan kemegahan Monas, Istiqlal, sederet kebudayaan dan peradaban Indonesia seperti Borobudur, Prambanan, serta pesona alam pulau Komodo, Sanur dan Lombok, seolah semua pulau, daerah mencerminkan kekayaan dari bangsa ini. Sebuah design yang maha karya atas kuasa Ilahi yang dipersembahkan atas kegigihan dan kesabaran putra dan putri yang bernama Indonesia. Maka memang pantaslah kado terindah itu di jaga dan diperjuangkan untuk mengangkat dan membuat penduduknya berbangga hati dan dihormati oleh segala mata yang melihat di peradaban dunia ini.
Ketika membandingkan antara satu penduduk dengan penduduk lainnya di belahan benua seperti Amerika, Afrika, Eropa dan Asia maka Indonesia juga mempunyai arti tersendiri yang seharusnya menjadi tumpuan harapan bagi negara lainnya, kenapa hal itu menjadi penting untuk disimpulkan, bukan hanya karena Indonesia mempunyai belasan ribu pulau, kuantitas yang mendominasi di belahan negara tapi juga Indonesia adalah paru-paru dunia disamping mereka (negara lain) banyak bergantung dengan Tenaga-tenaga kerja serta kebutuhan Ekspor Impor untuk membangun tatanan perekonomian yang baik di Dunia hal senda telah disampaikan sang presiden USA, ketika kunjungan Barack Husein Obama ke Indonesia dalam pidato singkat durasi tiga puluh menit itu ia menyatakan untuk menjadikan Amerika dan Indonesia itu sejajar dan sebanding untuk menumbuhkan perekonomian global.
Begitulah seharusnya penghargaan dari semua pihak kepada bangsa yang bernama Indonesia, tapi realita hari ini seolah ada yang kontra produktif dengan latar belakang yang telah disebutkan diatas, betapa miris hati kita ketika sebahagian warga harus menjual jasa dan bahkan harga diri demi mengisi perut dan bertahan hidup di negeri lain yang mempekerjakan warga negara Indonesia, tidak hanya itu, penghormatan itu seolah bias diterbangkan oleh angin sehingga hanya tinggal kewibawaan tanpa arti sama sekali. Kalaupun ditanya sebahagian purta-putri negara lain tentang Indonesia tidak sedikit yang mengatakan no comment, itu berarti karena memang mereka tidak pernah tahu bahwa Indonesia menyimpan salah satu keajaiban dunia seperti Borobudur dan kemudiannya pulau Komodo. Selanjutnya apa sesungguhnya kurangnya Indonesia ini?
Berawal dari sebuah pemimpin bahwa ketika siapa saja yang menjadi icon moral jauh dari indikasi kebobrokan, sepert birokrasi yang transparan dan kepedulian terhadap warga maka merupakan cikal bakal wujud masyarkat yang sejahtera negara yang handal, itu sebabnya dalam gubahan syair ada disebutkan ikan itu busuknya dari kepala, artinya segala sesuatu itu berawal dari pimpinan sehingga akan dicontohkan oleh orang yang ada dibawahnya. Bukan sesuatu hal yang baru lagi ketika kita mendengar adanya calo untuk seorang yang ingin mengikuti pelamaran CPNS maka tawar menawar adalah sesuatu hal yang lazim bagi sebahagian mereka yang menjadi pejabat teras disalah satu instansi pemerintahan, belum lagi untuk mengisi posisi penting dan strategis di Instansi Pendidikan, Pemkab dan Pemko begitu juga halnya ketika memasuki jenjang pendidikan militer semuanya pasti menghamburkan uang, terjadilah korupsi, kolusi dan nepotisme. Sebuah niat yang baik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, melayani rakyat dan menajaga stabilitas dan keamanan negara tapi dimulai dengan sebuah langkah dan sistem yang tidak baik, lantas apa sebenarnya niat itu akan bisa terwujud ketika kita sudah merogoh uang puluhan bahkan ratusan juta untuk mendapatkan posisi itu sebagai Pegawai Negeri Sipil? Ataukah tugas mulia itu hanya sekedar gengsi berseragam biru dan kuning dihadapan masyarakat dan tidak menghiraukan bahwa mereka kerja keras bermandikan keringat untuk sesuap nasi, maka sesungguhnya siapakah yang layak disebut sebagai pahlawan dan abdi negara? Mereka yang berseragam atau tanpa seragam namun bermandikan keringat, lihatlah ketulusan mereka.
Harian kompas bahkan menyebutkan (Jumat 12 November 2010), sebagai bentuk teguran kepada pengelola negeri “Relawan, Bekerja tanpa pamrih tanpa ekspos, sebaliknya Politisi tidak bekerja banyak ekspos” , dimanakah nurani yang fithrah dari bangsa ini sehingga seorang cerdas ketika lulus perguruan tinggi atau seorang miskin yang mempunyai potensi tidak mendapatkan fasilitas yang layak untuk mengeksplorasikan teori dan analisa pikirnya, maka ketika uang, dukun, dan keluarga hanya dijadikan alat untuk mengelola negeri ini maka kata kanjeng Rasul “fantashiru sa’ah” lihatlah kehancurannya. Apakah kita akan rela dan membiarkan saja tetes darah dan nyawa yang dibayar para pahlawan kemerdekaan ini hanya berujung kepada kegagalan.
Sebagai bentuk kepedulian sudah saatnya kita sadar diri, mari kita menyingsingkan lengan bersatu padu dalam berkarya, teringat Prof. Dr. Nurchalish Madjid ketika ditawarkan untuk menggantikan rezim Soeharto oleh beberapa tokoh bangsa yang menginginkan arah dan paradigma baru Indonesia maka tawaran itu disambut dengan senyuman seraya berkata “kita semua adalah pemimpin maka mari kita pimpin bersama” , sebuah jawaban yang sederhana dan bermakna, melihat kekayaan dan khasanah bangsa yang luar biasa ini seharusnya umat itu sudah sejahtera dan bisa mandiri namun kondisi Jakarta ketika melihat gedung bertingkat serta sederet keindahannya seolah kontras begitu saja ketika sepintas kita melihat bahwa betapa banyak anak-anak dibawah umur yang harus bekerja keras mulai dari pekerjaan yang halal, mulia dan baik sampai pekerjaan kurang layak dan hina sungguh sesuatu hal memperihatinkan, belum lagi sederet kemiskinan dan kesempatan yang tidak pernah memihak kepada rakyat jelata ini.
Seharusnya kita dapat berkaca kepada negara lain seperti Mesir, Sudan, India dan negara Barat bahwa walau sebahagian mereka itu miskin masih mempunyai niat yang tulus untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa sehingga pendidikan itu adalah milik semua warga bukan hanya kalangan elit saja, menyediakan beasiswa bagi warga bahkan sekalipun dari luar warganya sudah banyak dari intelektual kita yang merasakan pendidikan gratis itu. Disamping itu hijrah spritual dari zero kepada hero adalah sebuah keniscayaan bagi manusia yang berpikir, kapan lagi kita membangun dan memberikan kesempatan kepada anak bangsa ini ataukah kita mengorbankan kesempatan mereka dengan meraup semua keuntungan yang ada untuk dinikmati secara sendiri, kalau demikianlah halnya kita sudah menjadi makhluk yang egois dan tak tahu diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar