Matinya Akal adalah dengan berhentinya Pikir sementara itu matinya hati dengan stopnya Dzikir. dibalik itu manusia yang senantiasa berbagi dan mengabdi adalah bagian dari PEMENANG di atas jagad ini.
Rabu, 22 Desember 2010
Blogger Buzz: Back from BlogWorld
Blogger Buzz: Back from BlogWorld: "Sometimes returning to a nice, quiet office can be just what the doctor ordered after an exhausting trip away. And for the handful of us on ..."
Anak jalanan, Relgiusitas dan Kehidupan Sosial
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang memberikan pengaruh sangat besar bagi tumbuh kembangnya anak. Dengan kata lain, secara ideal perkembangan anak akan optimal apabila mereka bersama keluarganya. Tentu saja keluarga yang dimaksud adalah keluarga yang harmonis, sehingga anak memperoleh berbagai jenis kebutuhan, seperti kebutuhan fisik-organis, sosial maupun psiko-sosial.
Uraian tersebut merupakan gambaran ideal sebuah keluarga. Pada kenyataannya, tidak semua keluarga dapat memenuhi gambaran ideal tersebut. Perubahan sosial, ekonomi dan budaya dewasa ini telah banyak memberikan hasil yang menggembirakan dan berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun demikian pada waktu bersamaan, perubahan-perubahan tersebut membawa dampak yang tidak menguntungkan bagi keluarga. Misalnya Adanya gejala perubahan cara hidup dan pola hubungan dalam keluarga karena berpisahnya suami/ibu dengan anak dalam waktu yang lama setiap harinya. Kondisi yang demikian ini menyebabkan komunikasi dan interaksi antara sesama anggota keluarga menjadi kurang intens. Hubungan kekeluargaan yang semula kuat dan erat, cenderung longgar dan rapuh . Ambisi karier, materi yang tidak terkendali, pemahaman dan pengamalan agama yang rapuh, telah mengganggu hubungan interpersonal dalam keluarga.
Berangkat dari hal tersebut diatas, seperti manusia pada umumnya, anak juga mempunyai berbagai kebutuhan: jasmani, rohani dan sosial. Menurut Maslow, kebutuhan manusia itu mencakup: kebutuhan fisik (udara, air, makan), kebutuhan rasa aman, kebutuhan untuk menyayangi dan disayangi, kebutuhan untuk penghargaan, kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri dan bertumbuh.
Sebagai manusia yang tengah tumbuh-kembang, anak memiliki keterbatasan untuk mendapatkan sejumlah kebutuhan tersebut yang merupakan hak anak. Orang dewasa termasuk orang tuanya, masyarakat dan pemerintah berkewajiban untuk memenuhi hak anak tersebut. Permasalahannya adalah orang yang berada di sekitarnya termasuk keluarganya seringkali tidak mampu memberikan hak-hak tersebut. Seperti misalnya pada keluarga miskin, keluarga yang pendidikan orang tua rendah, penanaman keagamaan. perlakuan salah pada anak, persepsi orang tua akan keberadaan anak, dan sebagainya. Hal inilah yang menjadi latar belakang tidak betahnya seorang anak pada keluarga (broken home) sehingga sebagi pelarian bagi mereka adalah kumpul bersama teman-temannya yang lain, bebas dalam segala hal dan aturan tanpa penghalang dan pendinding.dengan kata lain anak jalanan.Sebenarnya kebutuhan dan hak-hak anak tersebut tidak dapat terpenuhi dengan baik. Untuk itulah menjadi kewajiban orang tua, masyarakat dan manusia dewasa lainnya untuk mengupayakan upaya perlindungannya agar kebutuhan tersebut dapat terpenuhi secara optimal.
Berbagai upaya telah dilakukan dalam merumuskan hak-hak anak. Respon ini telah menjadi komitmen dunia international dalam melihat hak-hak anak. Ini terbukti dari lahirnya konvensi internasional hak-hak anak. Indonesia pun sebagai bagian dunia telah meratifikasi konvensi tersebut. Keseriusan Indonesia melihat persoalan hak anak juga telah dibuktikan dengan lahirnya Undang-undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Tanpa terkecuali, siapapun yang termasuk dalam kategori anak Indonesia berhak mendapatkan hak-haknya sebagai anak.
Menurut UUD 1945, “anak terlantar itu dipelihara oleh negara”. Artinya pemerintah mempunyai tanggung jawab terhadap pemeliharaan dan pembinaan anak-anak terlantar, termasuk anak jalanan. Hak-hak asasi anak terlantar dan anak jalanan, pada hakekatnya sama dengan hak-hak asasi manusia pada umumnya, seperti halnya tercantum dalam UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, dan Keputusan Presiden RI No. 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Convention on the Right of the Child (Konvensi tentang hak-hak Anak). Mereka perlu mendapatkan hak-haknya secara normal sebagaimana layaknya anak, yaitu hak sipil dan kemerdekaan (civil righ and freedoms), lingkungan keluarga dan pilihan pemeliharaan (family envionment and alternative care), kesehatan dasar dan kesejahteraan (basic health and welfare), pendidikan, rekreasi dan budaya (education, laisure and culture activites), dan perlindungan khusus (special protection).
Berdasarkan nilai dan usia yang masih relatif energik seharusnya asset ini dijaga dan dipelihara untuk investasi masa depan, namun pembicaraan tentang masalah remaja merupakan pembicaraan yang tidak putus-putusnya dan menarik perhatian, tegasnya pembahasan masalah remaja menjadiksn bahan yang selalu didiskusikan oleh orang tua, masyarakat dan pemerintah disebabkan karena karena persoalan remaja penuh dengan potensi dan dinamika.
Masa remaja adalah merupakan masa transisi yang merupakan masa kegoncangan yang penuh gejolak yang timbul dari tubuhnya dikarenakan pertimbuhan badan, pertumbuhan hormon dan sebagainya, dengan berbagai salinan ketegangan yang diciptakan oleh kalangan remaja itu sendiri disamping factor internal maka dorongan luar (eksternal) juga merupakan pemicu munculnya masalah keburukan dan sisi negatif yang bertolak belakang dengan konsep agama dan tidak sesuai dengan aturan yang bersifat sosial. Paktor eksternal adalah hal yang datang dari luar diri manusia itu sendiri seperti pengaruh lingkungan, pergaulan serta dampak dari kemajuan teknologi dan komunikasi.
Disebabkan pengaruh ekternal dan internal maka tidak sedikit orang yang memberikan sebuah opini dan citra negatif kepada anak jalanan, tidak asing bagi masyarakat untuk memberikan sebuah lebel anak badung dan menjadikan mereka seolah makhluk yang harus dijauhi karena sikap dan sifat mereka yang tidak jelas. Opini ini nampaknya mencerminkan pergaulan sosial mereka yang kurang baik terjalin bersama lingkungan. Mereka akan sangat mudah kita jumpai diberbagai tempat seperti pusat-pusat keramaian seperti persimpangan, pasar, bioskop, mall dan stasiun.
Sebenarnya yang paling utama sebagai kata kunci dalam menjalani kehidupan ini pada dasarnya hanyalah agama karena agama merupakan pondasi dan pemandu akurat yang dapat mengatur dan mengarahkan setiap gerak dan langkah manusia. Semua yang timbul dari dalam jiwa manuisa, baik berupa perkataan, perbuatan, gerak, langkah hingga getaran-getaran yang terdetak dalam dinding hati seseorang sangat bergantung kepada kemantapan dan ketegaran akidah (agamanya), bahkan lintasan-lintasan khayal yang bergerak dalam pikiran seseorang sangat dipengaruhi oleh alat pemandu yang sangat esensi yaitu keteguhan menjalankan perintah agama, maka tidak akan lari dari nilai moral akan terus terevaluasi segala tindak tanduk perbuatan, hidupnya akan semakin baik dan harmonis hubungannya dengan khalik dan makhluk (hubungan pertikal dengan Allah dan kehidupan sosial dengan manusia). Sehingga ketika nilai agama sudah melekat, maka tidak akan ada yang membedakan kita dalam pergaulan apakah ia mau dipinggir jalan, kolong jembatan atau bahkan digedung mewah.
Berdasarkan Latar belakang diatas maka penulis merasa berkewajiban untuk memberikan sebuah jawaban sebagai bahan evaluasi dan pertimbangan karena kita mempunyai hak dan kewajiban yang sama untuk kemajuan Negara dan agama Allah ini dengan mengangkatnya menjadi sebuah karya berupa penelitian ilmiah yang dituangkan dalam bentuk makalah dengan judul “Pemahaman Keagamaan Anak Jalanan dan Relevansinya Terhadap Kehidupan Sosial”.
B. Rumusan Masalah
Dari penjelasan yang telah penulis kemukakan di atas, bahwa pada dasarnya agama menjadi sebuah solusi dan barometer untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki terlepas dimanapun posisi kita berada baik ia dijalan di kolong jembatan bahkan di istana sekalipun. Pemahaman agama yang benar akan memberikan ketenangan bagi orang yang menjalankannya juga kepada orang yang senantiasa selalu berinteraksi dengan kita, karena pada dasarnya agama akan menyuruh pemeluknya untuk berlaku adil, pengasih, pemaaf, tolong menolong dan ini merupakan rangkaian yang sangat harmonis untuk kehidupan sosial.
Anak jalanan mempunyai potensi dan kesempatan yang sama seperti halnya manusia pada umumnya untuk menata pergaulan yang lebih baik karena mereka punya aturan hidup yaitu agama dan tatanan moral lainnya. Dengan itu kita dapat menentukan masalah-masalah yang timbul dan akan ditelusuri pada permasalahan ini, antara lain :
1. Seperti apakah anak jalanan.
2. Bagaimanakah peran dan fungsi agama bagi kehidupan manusia
3. Apakah hubungan aplikasi keagamaan dengan kehidupan sosial.
4. Seperti apakah pengamalan keagamaan anak jalanan.
C. Batasan Istilah
Agar terhindar dari kesalahan dalam menginterpretasikan terhadap judul penelitian ini, maka penulis akan memberikan batasan-batasan terhadap istilah penting dari judul penelitian ini. Kata-kata yang dibahas antara lain sebagai berikut :
a. Pemahaman
Berasal dari kata paham yang diakhiri dengan akhiran an yang mempunyai arti pandangan
Pemahaman maksudnya adalah penguasaan, pendalaman dan pemaknaan.
b. Keagamaan
Diawali dengan sebuah sisipan yaitu awalan ke dan akhiran an yang mempunyai makna sebagi hak milik, agama berasal dari bahasa Sansekerta yaitu A berarti tidak sedangkan Gama mempunyai arti lari, kocar-kacir, pergi. Secara utuh dapat diartikan bahwa Agama adalah tidak lari, tidak kocar-kacir dan tidak kacau, begitulah seharusnya orang yang mempunyai agama.
b. Anak Jalanan
Terdiri dari dua kata yaitu anak dan jalanan, Konsep “anak” didefinisikan dan dipahami secara bervariasi dan berbeda, sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan yang beragam. Menurut UU No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, anak adalah seseorang yang berusia di bawah 21 tahun dan belum menikah. Sedangkan menurut UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan, namun untuk menyamakan persepsi penulis memberikan sebuah batasan untuk penelitian ini yaitu anak usia 15 sampai 21 tahun. Jalanan adalah beberapa tempat yang biasa dilewati orang banyak. Children of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh atau sebagian besar waktunya di jalanan dan tidak memiliki hubungan atau ia memutuskan hubungan dengan orangtua atau keluarganya. Children in the street atau children from the families of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh waktunya di jalanan yang berasal dari keluarga yang hidup atau tinggalnya juga di jalanan. Anak jalanan adalah anak yang terkategori tak berdaya. Mereka merupakan korban berbagai penyimpangan dari oknum-oknum yang tak bertanggung jawab.
d. Relevansi
Hubungan, pertautan bias dari suatu kondisi dan keadaan.
e. Kehidupan
Pola perjalanan dalam menapaki sisa usia, umur. Tidak mati mempunyai harapan dan masa depan.
f. Segala sesuatu yang mengenai masyarakat, perduli terhap kepentingan umum.
D. Fokus Masalah
Yang menjadi fokus masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pemahaman keagamaan anak jalanan dan relevansinya terhadap kehidupan sosial.
E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengetahui bagaimana Pemahaman keagamaan anak jalanan.
2. Bagaimana pendidikan dan pola pembelajaran agama anak jalanan.
3. Sejauh apa aplikasi/pengamalan keagamaan anak jalanan.
4. Bentuk pergaulan anak jalanan.
5. Bagaimana hubungan antara nilai keagamaan dengan pergaulan anak jalanan.
6. Seperti apa respon masyarakat terhadap anak jalanan.
7. Mengetahui sejarah dan latar belakang timbulnya anak jalanan.
Meski demikian tujuan yang paling utama dari penelitian ini adalah untuk menambah pengetahuan dan referensi keilmuan para pembaca dan terutama menambah referensi keilmuan penulis sendiri.
Kegunaan Penelitian
i. Penelitian ini bertujuan untuk menambah khasanah pemikiran dan sebagai bahan masukan bagi pemerintah.
ii. Sebagai tanggung jawab akademik di perguruan tinggi.
iii. Menambah literatur terkait fenomena anak jalanan.
F. Metodologi Penelitian
a. Jenis Penelitian
Jenis Penelitian yang dilakukan adalah penelitia kualitatif , karena titik focus penelitian adalah observasi dan suasana alamiah (Naturalistic Setting). Dikatakan natural karena pelaksaan penelitian memang terjadi secara alamiah, apa adanya dalam situasi normal yang tidak di manipulasi keadaan dan kondisinya, singkatnya menekankan pada deskripsi secara alami. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif yang dijelaskan Issac dan Michael sebagaimana dikutip Jalaluddin Rakhmat, yaitu pendekatan yang bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara factual dan cermat. Pendekatan deskriptif kualitatif juga bertujuan untuk mnedekatkan uraian mendalam tentang ucapan, tulisan dan tingkah laku yang dapat diamati dari suatu individu, kelompok masyarakat maupun organisasi dalam setting tertentu yang dikaji dari sudut pandang yang konfrehensif. Dalam penelitian ini, subjek yang diteliti adalah anak jalanan.
b. Informan Penelitian
Salah satu tradisi terpenting dalam penelitian kulitatif adalah penentuan informan kunci (Key Informan). Penentuan informan sangat penting dilakukan agar data yang dibutuhkan dalam melengkapi hasil penelitian dapat diperoleh secara valid. Sebab itu informan kunci harus diambil dari orang-orang yang dianggap dapat memberikan informasi yang berkaitan lansung dengan obyek yang sedang diteliti. Pengambilan informan kunci dalam penelitian ini dilakukan dengan penggunaan teknik snowball sampling , maksudnya adalah peneliti memilih responden secara berantai dimana hanya informan awal yang ditetapkan dan selanjutnya bergulir secara terus menerus sampai peneliti memperoleh data yang cukup sesuai dengan kebutuhan.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka informan kunci dalam penelitian ini terlebih dahulu ditetapkan sebanyak tiga orang. Ketiga orang informan kunci yang diharapkan adalah sebagai sumber data primer yang dapat memberikan data pokok yang menjadi telaah utama dalam penelitian ini selanjutnya data pokok tersebut ditambahi dari data sekunder sebagai pendukung yang bersumber dokumentasi, profil yang dianggap relevan dengan topik penelitian, bahan bacaan seperti surat kabar, jurnal, majalah, pernyataan-pernyataan dalam seminar dan buku-buku lainnya.
c. Teknik Pengumpulan Data
Mengingat bahwa jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, maka pengumpualan data dari lapangan dilakukan secara langsung oleh peneliti. untuk itu penulis melakukan pengumpulan data dari lokasi penelitian dengan tiga macam cara. Yaitu :
1. Wawancara mendalam (Defth Interview) dalam hal ini penulis mengadakan wawancara lansung dengan cara bertatap muka dengan informan penelitian sebagaimana yang telah ditetapkan diatas sampai data-data yang diperlukan terkumpul. Hal-hal yang akan diwawancarai adalah terkait aktifitas dan pengamalan anak jalanan.
2. Opservasi dalam hal ini penulis mengadakan observasi secara langsung terhadap kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan nilai etika, norma, religiusitas dan pergaulan yang mereka terapkan dimasyarakt sekitar mereka.
3. Menyebarkan angket
Dengan membagi-bagikan angket dengan rumusan yang terkait dengan, pengetahuan, pemahaman sikaf, tingkah atau perilaklu yang gselanjutnya akan dianalisis dengan kondisi real yang ada di lapangan.
4. Selain interview dan observasi penulis juga mengumpulkan data dan dokumentasi pemerintah dari Dinas Sosial (Dinsos), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Lembaga Perlindungan Anak dan tentunya para pengamat yang relevan dengan topik penelitian bahan-bahan bacaan seperti surat kabar, jurnal, majalah dan buku-buku.
d. Teknik Analisis Data
Proses analisis data dilakukan secara terus menerus sejak awal hingga berakhirnya penelitian. Agar lebih memudahkan analisis data maka analisis dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagaimana yang telah disampaikan Lexy Moleong, tahapan-tahapan tersebut sebagai berikut :
1. Menelaah dan mempelajari data yang tersedia dari berbagai sumber, baik data yang bersipat primer maupun sekunder yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi.
2. Mereduksi data dengan membuat rangkuman berupa pernyataan-pernyataan yang perlu di olah.
3. Menyusun data dalam satuan-satuan analisis.
4. Memeriksa kembali keabsahan data sehingga data-data yang absah yang akan dimasukkan kedalam hasil penelitian.
5. Mengambil kesimpulan dengan cara induktif abstraktif yaitu kesimpulan yang bertitik tolak dari yang khusus ke umum.
Untuk menjaga keabsahan data atau tingkat validitas dan rehabilitas data yang akan dideskripsikan dipakai teknik triangulasi, yaitu triangulasi dengan sumber dapat dilakukan dengan jalan.
1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
2. Membandingkan apa yang dikatakan seseorang didepan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi.
3. Membandingkan hasil wawancara dengan isu suatu dokumen yang berkaitan.
G. Sistematika Pembahasan
Guna memudahkan para pembaca sekalian dalam memahami dan menelaah isi penelitian ini maka penulisan karya ini menggunakan pembahasan per bab, dimana setiap bab akan ditampilkan sesuai dengan urutan permasalahan yang diperinci laghi kepada sub-sub atau pasal-pasal. Adapun gambaran garis-garis besar penelitian ini adalah :
Pertama
BAB I. Merupakan Pendahuluan yang berisikan; A. Latar Belakang Masalah, B. Rumusan Masalah, C. Batasan Istilah, D. Fokus Masalah, E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian, F. Metodologi Pembahasan, G. Sistematika Pembahasan.
Kedua
BAB II Pada bab ini akan dikaji pembahasan yang meliputi; I. Gambaran Umum Kegiatan Anaka Jalanan, II. Yang Menyebabkan Anak Menjadi Jalanan, III. Bentuk Pergaulan Anak Jalanan, dan beberapa sub judul yang relevan dan pantas untuk dikaji.
Ketiga
BAB III Agama dalam kehidupan, peran dan fungsi agama, pengaruh agama dalam diri manusia. Inilah gambaran dalam pembahasan bab yang ketiga ini.
Keempat
BAB IV Dalam hal ini penulis akan menuangkan gagasan mendalam berupa penutup:
1 Kesimpulan
2 Kritik
3 Saran
Daftar Pustaka
BAB II
Pembahasan
A. Pengertian
Anak jalanan adalah sebuah istilah umum yang mengacu pada anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan. Dapat ditemui adanya pengelompokan anak jalanan berdasar hubungan mereka dengan keluarga. Pada mulanya ada dua kategori anak jalanan, yaitu children on the street dan children of the street. Namun pada perkembangannya ada penambahan kategori, yaitu children in the street atau sering disebut juga children from families of the street.
Pengertian untuk children on the street adalah anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan yang masih memiliki hubungan dengan keluarga. Ada dua kelompok anak jalanan dalam kategori ini, yaitu anak-anak yang tinggal bersama orang tuanya dan senantiasa pulang ke rumah setiap hari, dan anak-anak yang melakukan kegiatan ekonomi dan tinggal di jalanan namun masih mempertahankan hubungan dengan keluarga dengan cara pulang baik berkala ataupun dengan jadwal yang tidak rutin.
Children of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh atau sebagian besar waktunya di jalanan dan tidak memiliki hubungan atau ia memutuskan hubungan dengan orangtua atau keluarganya. Children in the street atau children from the families of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh waktunya di jalanan yang berasal dari keluarga yang hidup atau tinggalnya juga di jalanan.
Anak jalanan adalah anak yang sebagian besar waktunya berada di jalanan atau di tempat-tempat umum. Anak jalanan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : berusia antara 5 sampai dengan 18 tahun, melakukan kegiatan atau berkeliaran di jalanan, penampilannya kebanyakan kusam dan pakaian tidak terurus, mobilitasnya tinggi
Menurut M. Ishaq (2000), ada tiga ketegori kegiatan anak jalanan, yakni : (1) mencari kepuasan; (2) mengais nafkah; dan (3) tindakan asusila. Kegiatan anak jalanan itu erat kaitannya dengan tempat mereka mangkal sehari-hari, yakni di alun-alun, bioskop, jalan raya, simpang jalan, stasiun kereta api, terminal, pasar, pertokoan, dan mall.
B. Penyebabkan Anak Menjadi Anak Jalanan
Keadaan kota mengundang maraknya anak jalanan. Kota yang padat penduduknya dan banyak keluarga bermasalah membuat anak yang kurang gizi, kurang perhatian, kurang pendidikan, kurang kasih sayang dan kehangatan jiwa, serta kehilangan hak untuk bermain, bergembira, bermasyarakat, dan hidup merdeka, atau bahkan mengakibatkan anak-anak dianiaya batin, fisik, dan seksual oleh keluarga, teman, orang lain lebih dewasa.
Di antara anak-anak jalanan, sebagian ada yang sering berpindah antar kota. Mereka tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan membuatnya berperilaku negatif. Seorang anak yang terhempas dari keluarganya, lantas menjadi anak jalanan disebabkan oleh banyak hal. Penganiayaan kepada anak merupakan penyebab utama anak menjadi anak jalanan. Penganiayaan itu meliputi mental dan fisik mereka. Lain dari pada itu, pada umumnya anak jalanan berasal dari keluarga yang pekerjaannya berat dan ekonominya lemah
Berdasarkan pembahasan yang telah diungkapkan pada bagian sebelumnya dan dari beberapa teori penelitian yang ada maka penulis mengambil sebuah pemikiran bahwa anak jalanan, dapat dilihat dari uraian sebagai berikut.
Pertama, dilihat dari profil anak jalanan terdapat beberapa kecenderungan, yaitu (a) sebagian besar anak jalanan melakukan aktifitas berjualan di jalan, (b) tempat tinggal mereka di rumah, (c) memperoleh makanan dengan cara membeli sendiri, (d) lama tinggal di jalan dalam satu hari di atas 12 jam, (e) memperoleh uang dari hasil berjualan dan mengamen, (f) uang yang diperoleh digunakan untuk membantu keluarga, (g) jarang bertemu orang tua, (h) sering mendapat kesulitan di rumah, (i) kurang betah tinggal di rumah, (y) meminta tolong pada saudaranya ketika mengalami kesulitan sebagai pihak yang dianggap paling dekat.
Kedua, dilihat dari profil keluarga anak jalanan, terdapat beberapa kecenderungan, yaitu (a) sebagian besar keluarga anak jalanan orang tuanya menikah, (b) jumlah anaknya 3-4 orang, (c) bersikap mendukung anaknya bekerja di jalan, (d) bersikap mendukung bila anaknya sekolah, (e) pernah mendapat penyuluhan tentang usaha bersama tetapi tidak pernah mengikuti kegiatan tersebut karena berpandangan bahwa kegiatan tersebut tidak membantu perekonomian keluarga, (f) bekerja di sektor non-formal dengan pendapatan tidak tetap, dan (g) menempati rumah dengan status sewa atau tanah Negara.
Ketiga, Peta permasalahan anak jalanan di Indonesia dapat dikategorikan menjadi enam, yaitu (1) anak jalanan turun ke jalan karena adanya desakan ekonomi keluarga sehingga justru orang tua menyuruh anaknya untuk turun ke jalan guna mencari tambahan ekonomi keluarga, (2) rumah tinggal yang kumuh membuat ketidakbetahan anak berada di rumah sehingga perumahan kumuh menjadi salah satu faktor pendorong untuk anak turun ke jalan, (3) rendahnya pendidikan orang tua menyebabkan mereka tidak mengetahui fungsi dan peran sebagai orang tua dan juga tidak mengetahui hak-hak anak, (4) belum adanya payung kebijakan mengenai anak yang turun ke jalan baik dari kepolisian, Pemerintah Kota (Pemko) maupun Departemen Sosial (Depsos) menyebabkan penanganan anak jalanan tidak terkoordinasi dengan baik, (5) peran masyarakat dalam memberikan kontrol sosial masih sangat rendah, dan (6) lembaga-lembaga organisasi sosial belum berperan dalam mendorong partisipasi masyarakat menangani masalah anak jalanan (7) rendahnya pemahaman agama.
Keempat, Secara umum masyarakat memandang bahwa masalah anak jalanan merupakan masalah yang sangat kompleks bahkan ia membentuk sebuah lingkaran yang berujung pada sulitnya dilihat ujung pangkalnya. Kalangan aparat hukum, polisi misalnya, memandang bahwa payung kebijakan yang dapat digunakan untuk menangani anak jalanan belum ada. Mereka sulit untuk melakukan tindakan hukum berhubung tidak adanya undang-undang khusus mengenai anak jalanan seperti misalnya Perda, Perpu atau yang lainnya sehingga dirasa sulit untuk mengadakan pencegahan agar anak-anak tidak berada di jalan. Selanjutnya tokoh agama berpandangan bahwa munculnya masalah anak jalanan merupakan wujud dari tidak optimalnya pengelolaan zakat baik zakat mal, zakat fitrah, dan lainnya. Mereka mengharapkan agar dana zakat dapat dikelola sebaik mungkin agar disalurkan kepada mustahik dan dapat dimanfaatkan sebaik-sebaiknya oleh mereka. Disamping itu, kalangan akademisi memandang bahwa masalah anak jalanan merupakan masalah yang berkaitan dengan bagaimana hubungan antara pemerintah kota dengan daerah penyangga. Menurut mereka, penanganan masalah anak jalanan harus melibatkan juga aparat pemerintah pada daerah penyangga. Pemerintah misalnya, juga harus mengalokasikan dana pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat. Terakhir, aktifis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) memandang bahwa penanganan anak jalanan harus dilakukan dengan melibatkan institusi sekolah, rumah singgah, dan pemberdayaan keluarga dengan memberikan modal usaha keluarga.
Kelima, alternatif model penanganan anak jalanan mengarah kepada 3 jenis model yaitu family base, institutional base dan multi-system base.
C. Gambaran Umum Kegiatan Anak Jalanan
Aktivitas mereka bekerja tanpa ada batasan waktu yang tetap, tetapi waktu yang mereka habiskan untuk bekerja rata-rata antara lima sampai dua belas jam per hari Anak jalanan yang bekerja sebagai pedagang, memiliki waktu memulai bekerja relatif teratur dan menyelesaikan pekerjaannya ketika barang dagangan yang dibawa habis. Sedangkan anak jalanan yang bekerja sebagai pengamen tidak memiliki keteraturan waktu bekerja. Mereka memulai dan mengakhiri pekerjaannya bergantung kepada keinginan dirinya saat itu. Namun demikian ada kesamaan pada setiap anak jalanan dalam bekerja, yaitu mereka dapat bekerja dan bermain dalam aktivitasnya. Hal ini sulit ditemukan pada pekerja anak di sektor formal yang terikat pada ketentuan-ketentuan perusahaan tempat mereka bekerja. Rata-rata anak jalanan di lokasi penelitian mengaku mempunyai keluarga dengan tempat tinggal tetap di sekitar wilayah Kota Medan. Meskipun demikian tidak semua dari mereka yang tinggal menetap bersama keluarganya. Sebagian dari mereka setiap harinya pulang ke rumah, sebagian lagi dalam seminggu hanya dua sampai tiga hari pulang kerumah, bahkan ada diantara mereka dalam satu bulan seringkali hanya pulang satu atau dua kali saja, itupun untuk keperluan mengantarkan uang yang dikumpulkan selama satu bulan untuk keluarganya. Dilihat dari lama waktu bekerja dan jenis pekerjaan yang menuntut mobilitas tinggi, anak jalanan termasuk pekerja keras. Apalagi jika mengacu pada kebijakan tentang perlindungan anak bahwa seorang anak dibawah umur empat belas tahun yang terpaksa bekerja, seharusnya tidak boleh bekerja lebih dari empat jam dalam satu hari. Mereka bekerja di tengah kepadatan arus kendaraan dan berinteraksi dengan lingkungan terminal yang rentan terhadap tindak criminal dan kecelakaan lalu lintas.
Selain itu, dari aspek kesehatan mereka rentan terhadap penyakit karena polusi asap kendaraan dan pola konsumsi yang kurang baik. Dalam hal berpakaian terdapat kecenderungan perbedaan antara anak jalanan yang masih mendapatkan perhatian keluarga dengan anak jalanan yang kurang atau tidak mendapatkan perhatian dari keluarga. Anak jalanan yang masih mendapatkan perhatian dari keluarganya memiliki penampilan relatif lebih baik. Sebaliknya, untuk anak jalanan yang kurang atau tidak mendapatkan perhatian keluarga, memiliki penampilan relatif tidak terurus. Mereka membersihkan diri dengan mandi di toilet-toilet umum dengan pakaian yang terkadang tidak dicuci untuk waktu di atas tiga hari. Bahkan, sebagian dari mereka terkadang enggan untuk mengganti pakaiannya meski sudah kotor sekalipun. Mereka akan terus memakai pakaian yang mereka suka hingga mereka bosan, setelah itu mereka akan membuangnya dan membeli pakaian yang baru.
C. Pergaulan Anak Jalanan
Anak jalanan banyak berinteraksi dengan orang-orang yang lebih dewasa, seperti sopir, kernet, dan pedagang kaki lima. Kekerasan hidup, uang, dan bagaimana memenuhi kebutuhan konsumtif adalah hal-hal yang memenuhi orientasi hidup mereka. Sehingga secara umum perkembangan orientasi pemikiran mereka mengalami akselerasi dibandingkan dengan anak seusianya. Mereka cenderung teraleniasi dari dunia anak-anak.
Dalam interaksi sosialnya dengan lingkungan, biasanya anak jalanan yang masih mendapat cukup perhatian dari orang tuanya, menampakkan adanya filterisasi dalam menyerap nilai dan norma lingkungan mereka di jalan. Hal ini nampak dalam tingkat ketahanan diri anak terhadap kecenderungan perilaku menyimpang seperti tindakan asusila maupun tindakan kejahatan lainnya. Sebagian dari mereka tetap melaksanakan kewajiban agama dan menghindari ajakan teman dari perbuatan asusila. Kuatnya pertahanan diri ini lebih dikarenakan masih adanya bimbingan orang tua dalam kehidupan mereka terkhusus masalah keagamaan dan moral. Sedangkan untuk anak jalanan yang kurang atau tanpa perhatian orang tua, mereka rentan terhadap pengaruh lingkungannya. Kurangnya perhatian orang tua terutama dalam bentuk bimbingan untuk bersikap dan berperilaku serta disiplin dan kontrol diri yang baik, membuat pertahanan diri mereka rapuh. Mereka mengadopsi perilaku lingkungan di terminal tanpa filterisasi. Perilaku sekelilingnya seringkali diadopsi sebagai acuan dalam bersikap dan berperilaku, yang seringkali perilaku acuan yang mereka dapati adalah perilaku yang kurang dan bahkan bertentangan dengan norma sosial yang ada.
BAB III
Agama dan Mentalitas
A. Sikap Keagamaan
Sikap keagamaan merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatannya terhadap agama. Sikap keagamaan tersebut oleh adanya konsistensi antara kepercayaan terhadap agama sebagai unsur kognitif, perasaan terhadap agama sebagai unsur efektif dan perilaku terhadap agama sebagai unsur konatif.
B. Fungsi Agama
a. Menghormati akal sekaligus memfungsikannya secara baik, agar manusia dapat berpikir cerdas tentang kejadian alam semesta serta dapat mengambil pelajaran dari alam itu, bahwa kejadiannya yang indah menjadi bukti nyata atas kekuasaan Allah yang maha besar, pencipta alam dan pengaturnya.
b. Menyinari jiwa agar tunduk kepada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
c. Menyucikan hati manusia agar berakhlakul karimah, sehingga ia hidup dalam ketenangan baik jasmani maupun rohani.
d. Menjadi obor penerangan agar manusia dapat menempuh jalan kebaikan.
e. Menjamin kebaikan bagi seluruh masyarakat agar kehidupan tetap stabil.
f. Menjadi tali yang kokoh untuk mempertautkan segala hati, karena pertalian yang harmonis di masyarakat bersumber pada keselarasan dan keikhlasan hati.
g. Menjadi obat bagi penyakit sosial yang berkembang di masyarakat
Dunia mengenal kita sebagai bangsa yang mayoritas penduduknya mengisi kolom agama di KTP. Apa yang sebenarnya terjadi dengan masyarakat kita. Korupsi, suap menyuap menjadi suatu hal yang wajar. Kecurangan menjadi tata nilai yang hadir di setiap proses perjalanan hidup. Berita bunuh diri akibat alasan minimnya kemampuan ekonomi menjadi kolom yang rutin di surat kabar. Kasus anak-anak yang menunggu ajal akibat gizi buruk hampir setiap harinya berselingan dengan iklan launching apartemen mewah ataupun pusat perbelanjaan, entah bernama mall, town square atau Trade Center. Mungkin kita semua ini seperti kata Kyai Mustofa Bisri, tak tahu diri, lupa diri, dan tidak tahu mengukur diri sendiri. Setiap kita seakan-akan merasa sudah menjadi makhluk yang sudah mulia. Kita lebih memfungsikan keimanan sebagai alat untuk menghakimi keimanan dan keyakinan orang lain, bukan sebagai pemicu untuk menjadi pribadi yang berkualitas yang dapat memberi manfaat bagi banyak orang. Misi penting yang dibawa Nabi Muhamad SAW menebarkan kasih sayang di semesta raya (rahmatan lil ‘alamin), Kita telah menjadi masyarakat instan yang hanya mau melakukan yang praktis-praktis saja. Kita tidak mau repot belajar tetek-bengek tentang agama. Biar tidak susah-susah menahan nafsu, yang menggoda nafsu harus tidak ada di depan mata kita. Kita tidak mau repot melatih dan mengatur nafsu agar bisa tahan di berbagai macam keadaan.
Keberagamaan kita masih lebih banyak disibukkan untuk “ngurusi Tuhan”. Masjid dan mushalla di bangun dengan cukup megah di pelosok negeri, seakan-akan untuk memberi persembahan kepada Tuhan. Sementara tidak jauh dari mesjid seringkali saudara kita harus memutar otak 27 kali agar mampu bertahan hidup. Pergi Haji atau Umrah hampir setiap tahun, dengan alasan mengunjungi rumah Tuhan. Sementara di lain pihak tidak jauh dari jangkauan tangan, saudara kita harus mengais-ngais sampah untuk sekedar dapat hidup. Rasulullah Saw menjelaskan dalam haditsnya yang sekira artinya :
“Iman itu bukanlah angan-angan dan juga bukan perhiasan: tetapi Iman itu adalah
sesuatu yang menetap di dalam hati, dan dibenarkan dengan amal.”
(H.R. Ad Dailami)
C. Peran Agama Dalam Kehidupan
Orang yang mengaku beragama dan konsekuen terhadap pengakuannya memiliki keterikatan pikiran dan emosi dengan keyakinan atau agama beserta aturan-aturan/syariat yang ada di dalamnya. Terdapat tiga ranah utama yang dapat diamati pada orang beragama menurut pandangan Islam, yaitu: Iman, Islam, dan Pengamalan agama yang benar dalam kehidupan sehari-hari atau Ikhsan. Sementara itu orang yang beriman akan cenderung berperilaku lebih baik karena apa yang mereka kerjakan didasari oleh kerelaan, mempunyai makna demi kemuliaan Tuhan. Selanjutnya agama mempunyai makna yang penting bagi manusia karena iman dapat berfungsi sebagai penghibur di kala duka, menjadi sumber kekuatan batin pada saat menghadapi kesulitan, pemicu semangat dan harapan berkat doa yang dipanjatkan, pemberi sarana aman karena merasa selalu berada dalam lindungan-Nya, penghalau rasa takut karena merasa selalu dalam pengawasan-Nya, tegar dalam menghadapi masalah karena selalu ada petunjuk melalui firman-firman-Nya, menjaga kemuliaan moral dan berperilaku baik terhadap lingkungan sebagaimana dicontohkan para rasul-Nya.
Inti dari Peranan agama dalam kehidupan adalah sebagai pendorong atau penggerak serta pengontrol dari tindakan-tindakan para anggota masyarakat untuk tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan ajaran-ajaran agamanya, sehingga tercipta ketertiban sosial.
I. Peran agama terhadap kondisi psikologik
Unsur utama dalam beragama adalah iman atau percaya kepada keberadaan Tuhan dengan sifat-sifatnya, antara lain: Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun, Maha Pemberi, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Suci, serta nilai-nilai lebih/Maha yang lainnya. Oleh karena itu, orang yang merasa dirinya dekat dengan Tuhan, diharapkan akan timbul rasa tenang dan aman, yang merupakan salah satu ciri sehat mental.
Terkait dengan manfaat kesehatan mental dari religiusitas, Abernethy (2000) mengusulkan ada beberapa mekanisme keagamaan untuk mempengaruhi kesehatan antara lain: 1. mengatur pola hidup individu dengan kebiasaan hidup sehat, 2. memperbaiki persepsi ke arah positif, 3. memiliki cara penyelesaian masalah yang spesifik, 4. mengembangkan emosi positif, 5. mendorong kepada kondisi yang lebih sehat. Menurut Culliford orang dengan komitmen agama yang tinggi akan meningkatkan kualitas ketahanan mentalnya karena memiliki self control, self esteem dan confidence yang tinggi. Juga mereka mampu mempercepat penyembuhan ketika sakit karena mereka mampu meningkatkan potensi diri serta mampu bersikap tabah dan ikhlas dalam menghadapi musibah.
II. Peran agama terhadap perilaku sosial
Umumnya para penganut agama akan melakukan kegiatan ibadah atau kegiatan sosial lainnya secara bersama-sama, dan kegiatan bersama seperti ini dilakukan secara berulang-ulang, sehingga dapat menimbulkan rasa kebersamaan dan meningkatkan solidaritas antar jamaah. Oleh karena itu, Abernethy mengatakan bahwa orang yang memiliki komitmen agama yang tinggi akan mendapatkan dukungan sosial yang tinggi pula, sedangkan Dervic (2004) menyatakan bahwa orang dengan komitmen agama yang tinggi dapat diharapkan memiliki moralitas yang terpuji pula. Penelitian Kendler (2003) mendapatkan pada orang-orang yang komitmen agamanya tinggi ketaatan terhadap norma sosialnya tinggi pula. Juga terdapat korelasi negatif yang signifikan antara skor religiusitas dan skor perilaku antisosial. Menurut Culliford (2002), orang yang tingkat religiusitasnya tinggi kualitas hidupnya diharapkan juga tinggi. Hal ini tercermin pada hubungan sosial dengan masyarakat yang baik, keberadaannya dapat diterima baik oleh masyarakat di sekitarnya.
Agama mengarahkan perhatian umat manusia kepada masalah maha penting yang selalu menggoda, yaitu masalah "arti dan makna" (the problem of meaning). Manusia membutuhkan bukan saja pengaturan emosi, tetapi juga kepastian kognitif tentang perkara-perkara yang tidak dapat dielakkan dari pikirannya: penderitaan, kematian, nasib. Terhadap persoalan tersebut, agama menunjukkan jalan dan arah kemana manusia dapat mencari jawabannya. Maraknya berbagai tindak kriminalitas dan kenakalan remaja merupakan indikasi dari menurunnya kualitas perilaku beragama remaja dan rendahnya perhatian institusi keluarga maupun sekolah dalam proses sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai religius di dalamnya
Inti dari Peranan agama dalam kehidupan adalah sebagai pendorong atau penggerak serta pengontrol dari tindakan-tindakan para pemeluknya (masyarakat) untuk tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan norma hukum, sehingga tercipta ketertiban sosial.
وعن أبي يحيى صهيب بن سنان رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله له خير، وليس ذلك لأحد إلا للمؤمن : إن أصابته سراء شكر فكان خيراً له، وإن أصابته ضراء صبر فكان خيراً له" ((رواه مسلم)).
Dari Abu Yahya, yaitu Shuhaib bin Sinan r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Menakjubkan keadaan seorang mu'min itu, sesungguhnya semua keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada kecuali hanaya pada diri seorang mu'min, yaitu apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, iapun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya,sedang apabila ia ditimpa kesukaran yakni yang bencana ia pun bersabar dan hal inipun merupakan kebaikan baginya." (Riwayat Muslim)
Dapat dipastikan bahwa Keyakinan beragama menjadi bagian integral dari kepribadian seseorang yang akan mengawasi segala tindakan, perkataan bahkan perasaannya. Pada saat seseorang tertarik pada sesuatu yang tampaknya menyenangkan, maka keimanannya akan bertindak, menimbang dan meneliti apakah hal tersebut boleh atau tidak oleh agamanya. Agama mempunyai peran penting dalam pembinaan moral karena nilai-nilai moral yang datang dari agama bersifat tetap dan universal. Apabila seseorang dihadapkan pada suatu dilema, ia akan menggunakan pertimbangan-pertimbangan berdasarkan nilai-nilai moral yang datang dari agama. Oleh karena itu, orang yang berada dimanapun dan dalam posisi apapun, akan tetap memegang prinsip moral yang telah tertanam dalam hati nuraninya. Berdasarkan hal inilah, sehingga nilai-nilai agama yang telah diinternalisasi oleh seseorang diharapkan mampu menuntun semua perilakunya menuju kehidupan sosial yang lebih baik.
D. Konsekwensi Logis Keberagamaan
Tentunya apa saja yang dihadapkan kepada kita sebagai manusia yang berakal mempunyai tanggung jawab, dan aturan sesuai dengan norma hukum yang berlaku, misalnya ketika kita dihadiahi akal oleh Allah SWT maka konsekwensinya kita disuruh berpikir, ketika kita mempunyai seorang isteri maka tanggung jawabnya sebagai suami adalah memberikan nafkah dan menjaga kehormatannya, diberikan agama oleh Tuhan maka realitas yang harus kita jalani adalah dengan menjalankan syariat dari-Nya dan membangun hubungan vertikal kepada Allah dan horizontal kepada sesama manusia dan diakhirat kelak kita diminta pertanggung jawabannya. Oleh karena itu agar tidak terkesan apologis dan sebatas wacana maka penulis menekankan aspek keagamaan apa saja yang perlu kiranya diteliti kepada anak jalanan sehingga pembahasannya lebih fokus dalam penelitian dilapangan nantinya.
Pertama, Dimensi Ritual; yaitu aspek yang mengukur sejauh mana seseorang melakukan kewajiban ritualnya dalam agama yang dianut, misalnya; pergi ke tempat ibadah, berdoa pribadi, berpuasa, dan lain-lain. Dimensi ritual ini merupakan perilaku keberagamaan yang berupa peribadatan yang berbentuk upacara keagamaan. Perilaku seperti ini dalam Islam dikenal dengan istilah mahdaah yaitu meliputi shalat, puasa, haji dan kegiatan lain yang bersifat ritual, merendahan diri kepada Allah dan mengagungkannya. Inilah ibadah vertikal sedangkan untuk wilayah horizontalnya sesama manusia adalah sejauh mana seseorang itu mau berkomitmen dengan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari, misalnya menolong orang lain, bersikap jujur, mau berbagi, tidak mencuri, dan lain-lain.
Kedua, Dimensi Ideologis; yang mengukur tingkatan sejauh mana seseorang menerima hal-hal yang bersifar dogmatis dalam agamanya. Misalnya; menerima keberadaan Tuhan, malaikat dan setan, surga dan neraka, dan lain-lain. Dalam konteks ajaran Islam, dimensi ideologis ini menyangkut kepercayaan seseorang terhadap kebenaran agama-agamanya. Semua ajaran yang bermuara dari Al quran dan Hadits harus menjadi pedoman bagi segala bidang kehidupan. Keberagaman ditinjau dari segi ini misalnya mendarma baktikan diri terhadap masyarakat yang menyampaikan amar ma’ruf nahi mungkar dan amaliah lainnya dilakukan dengan ikhlas.
Ketiga, Dimensi Intelektual; yaitu tentang seberapa jauh seseorang mengetahui, mengerti, dan paham tentang ajaran agamanya, dan sejauh mana seseorang itu mau melakukan aktivitas untuk semakin menambah pemahamannya dalam hal keagamaan yang berkaitan dengan agamanya, misalnya; mengikuti penyuluhan keagamaan, membaca buku agama, mendengar ceramah, dan lain-lain.
Keempat, Dimensi Pengalaman; berkaitan dengan sejauh mana orang tersebut pernah mengalami pengalaman yang merupakan keajaiban dari Tuhan-nya. Misalnya; merasa doanya dikabulkan, merasa diselamatkan, dan lain-lain.
Tolok ukur yang dipakai pada penelitian tersebut adalah kedalaman seseorang atas kepercayaanya seperti rutinitas melakukan ibadah sehari-hari doa, membaca kitab suci menolong sesama, atau munculnya berbagai pertanyaan tentang hubungan vertikal antara hamba dengan Tuhan (Sang Pencipta). Menurut Prof. Mahmud Syaltut, ajaran Islam terdiri atas tiga bagian, yaitu : akidah ( kepercayaan atau keimanan ), syariah (hukum-hukum agama, yang meliputi ibadah dan muamalah ), dan akhlak ( budi pekerti) dengan menggunakan istilah lain, agama Islam itu terdiri atas tiga pilar, yaitu iman, lslam, dan ihsan. Seseorang dikatakan mencapai derajat kaffah jika dia telah melaksanakan tiga bidang ajaran itu dengan sebaiknya.
Dalam tinjauan Islam, mungkin ada orang yang telah mengamalkan iman, yaitu dengan mengimani rukun iman yang enam dan mengamalkan Islam, yaitu minimal mengamalkan rukun Islam yang lima. Tetapi mungkin saja dia belum mengamalkan ihsan, yaitu suatu kesadaran spiritual, bahwa dirinya selalu berada dalam pengawasan dan perlindungan Tuhan. Dalam hal ini, Islam sebagai agama bukan hanya sekedar kaya dengan ritual, namun juga menjunjung tinggi etos yakni kerja, amal dan pikir.
Daftar Pustaka
Abu al Hasan bin Muhammad al Faqih, 10 Langkah Sukses Muslim, Cakrawala Publishing, Jakarta,2004
Ali Muhammad al Hasyimi, Muslim Ideal, “Pribadi Islami Dalam Al Quran dan As Sunnah, Mitra Pustaka,Yokyakarta, Cet IV, Maret, 2003
Anwar, dkk, Masalah Anak dan Implikasi Ekonomi dalam Prisma, LP3ES, Jakarta, 1997
Amin Rais, Tauhid Sosial, Formula mengumpul Kesenjangan Sosial, Mizan, Bandung, Juni, 1998
Burhan Bungin, Analisis Data Penelitian Kualitatif, Pemahaman Filosofis ke Arah Penguasa Model Aplikasi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003
Bustam, Ali, Penelantaran dan Perlakukan Salah Terhadap Anak, Dalam Kumpulan Makalah Seminar Nasional, Yogyakarta Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada dan BP3K Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Gadjah Mada University Press. 1982
Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, KBBI, 1998
Hawari, Dadang, Doa dan Dzikir Sebagai Pelengkap Terapi Medis, PT. Dhani Bhakti Primayasa, Jakarta, 1997
http://id.wikipedia.org/wiki/Anak_jalananKategori: Kemiskinan
Ishaq, M. "Pengembangan Modul Literasi Jalanan untuk Peningkatan Kemampuan Hidup Bermasyarakat Anak-anak Jalanan". Makalah. Lokakarya Modul Literasi Jalanan di BPKB Jayagiri-Lembang, Bandung : Yayasan Bahtera-Unicef, Maret 1998
Indrawan WS, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Lintas Media Jombang, 1998
Jalaluddin Rakhmat, Metode Penelitian Dilengkapi Statistik Contoh Analisis Statistik, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1984
Muhammad Nur, Antropologi Agama, Pustaka Setia, Surabaya, 2002
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta, 1997
Rosyadi Ruslan, Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi, PT Grapindo Persada, Jakarta, 2004
Wibowo, Antonius, Perlindungan Anak Dalam Respon , Atmajaya, Jakarta, 1998
Wiyono, Nur Hadi, Anak-anak Jalanan Dalam Warta Demografi, Univesitas Indonesia, Jakarta 1994
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama yang memberikan pengaruh sangat besar bagi tumbuh kembangnya anak. Dengan kata lain, secara ideal perkembangan anak akan optimal apabila mereka bersama keluarganya. Tentu saja keluarga yang dimaksud adalah keluarga yang harmonis, sehingga anak memperoleh berbagai jenis kebutuhan, seperti kebutuhan fisik-organis, sosial maupun psiko-sosial.
Uraian tersebut merupakan gambaran ideal sebuah keluarga. Pada kenyataannya, tidak semua keluarga dapat memenuhi gambaran ideal tersebut. Perubahan sosial, ekonomi dan budaya dewasa ini telah banyak memberikan hasil yang menggembirakan dan berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun demikian pada waktu bersamaan, perubahan-perubahan tersebut membawa dampak yang tidak menguntungkan bagi keluarga. Misalnya Adanya gejala perubahan cara hidup dan pola hubungan dalam keluarga karena berpisahnya suami/ibu dengan anak dalam waktu yang lama setiap harinya. Kondisi yang demikian ini menyebabkan komunikasi dan interaksi antara sesama anggota keluarga menjadi kurang intens. Hubungan kekeluargaan yang semula kuat dan erat, cenderung longgar dan rapuh . Ambisi karier, materi yang tidak terkendali, pemahaman dan pengamalan agama yang rapuh, telah mengganggu hubungan interpersonal dalam keluarga.
Berangkat dari hal tersebut diatas, seperti manusia pada umumnya, anak juga mempunyai berbagai kebutuhan: jasmani, rohani dan sosial. Menurut Maslow, kebutuhan manusia itu mencakup: kebutuhan fisik (udara, air, makan), kebutuhan rasa aman, kebutuhan untuk menyayangi dan disayangi, kebutuhan untuk penghargaan, kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri dan bertumbuh.
Sebagai manusia yang tengah tumbuh-kembang, anak memiliki keterbatasan untuk mendapatkan sejumlah kebutuhan tersebut yang merupakan hak anak. Orang dewasa termasuk orang tuanya, masyarakat dan pemerintah berkewajiban untuk memenuhi hak anak tersebut. Permasalahannya adalah orang yang berada di sekitarnya termasuk keluarganya seringkali tidak mampu memberikan hak-hak tersebut. Seperti misalnya pada keluarga miskin, keluarga yang pendidikan orang tua rendah, penanaman keagamaan. perlakuan salah pada anak, persepsi orang tua akan keberadaan anak, dan sebagainya. Hal inilah yang menjadi latar belakang tidak betahnya seorang anak pada keluarga (broken home) sehingga sebagi pelarian bagi mereka adalah kumpul bersama teman-temannya yang lain, bebas dalam segala hal dan aturan tanpa penghalang dan pendinding.dengan kata lain anak jalanan.Sebenarnya kebutuhan dan hak-hak anak tersebut tidak dapat terpenuhi dengan baik. Untuk itulah menjadi kewajiban orang tua, masyarakat dan manusia dewasa lainnya untuk mengupayakan upaya perlindungannya agar kebutuhan tersebut dapat terpenuhi secara optimal.
Berbagai upaya telah dilakukan dalam merumuskan hak-hak anak. Respon ini telah menjadi komitmen dunia international dalam melihat hak-hak anak. Ini terbukti dari lahirnya konvensi internasional hak-hak anak. Indonesia pun sebagai bagian dunia telah meratifikasi konvensi tersebut. Keseriusan Indonesia melihat persoalan hak anak juga telah dibuktikan dengan lahirnya Undang-undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Tanpa terkecuali, siapapun yang termasuk dalam kategori anak Indonesia berhak mendapatkan hak-haknya sebagai anak.
Menurut UUD 1945, “anak terlantar itu dipelihara oleh negara”. Artinya pemerintah mempunyai tanggung jawab terhadap pemeliharaan dan pembinaan anak-anak terlantar, termasuk anak jalanan. Hak-hak asasi anak terlantar dan anak jalanan, pada hakekatnya sama dengan hak-hak asasi manusia pada umumnya, seperti halnya tercantum dalam UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, dan Keputusan Presiden RI No. 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Convention on the Right of the Child (Konvensi tentang hak-hak Anak). Mereka perlu mendapatkan hak-haknya secara normal sebagaimana layaknya anak, yaitu hak sipil dan kemerdekaan (civil righ and freedoms), lingkungan keluarga dan pilihan pemeliharaan (family envionment and alternative care), kesehatan dasar dan kesejahteraan (basic health and welfare), pendidikan, rekreasi dan budaya (education, laisure and culture activites), dan perlindungan khusus (special protection).
Berdasarkan nilai dan usia yang masih relatif energik seharusnya asset ini dijaga dan dipelihara untuk investasi masa depan, namun pembicaraan tentang masalah remaja merupakan pembicaraan yang tidak putus-putusnya dan menarik perhatian, tegasnya pembahasan masalah remaja menjadiksn bahan yang selalu didiskusikan oleh orang tua, masyarakat dan pemerintah disebabkan karena karena persoalan remaja penuh dengan potensi dan dinamika.
Masa remaja adalah merupakan masa transisi yang merupakan masa kegoncangan yang penuh gejolak yang timbul dari tubuhnya dikarenakan pertimbuhan badan, pertumbuhan hormon dan sebagainya, dengan berbagai salinan ketegangan yang diciptakan oleh kalangan remaja itu sendiri disamping factor internal maka dorongan luar (eksternal) juga merupakan pemicu munculnya masalah keburukan dan sisi negatif yang bertolak belakang dengan konsep agama dan tidak sesuai dengan aturan yang bersifat sosial. Paktor eksternal adalah hal yang datang dari luar diri manusia itu sendiri seperti pengaruh lingkungan, pergaulan serta dampak dari kemajuan teknologi dan komunikasi.
Disebabkan pengaruh ekternal dan internal maka tidak sedikit orang yang memberikan sebuah opini dan citra negatif kepada anak jalanan, tidak asing bagi masyarakat untuk memberikan sebuah lebel anak badung dan menjadikan mereka seolah makhluk yang harus dijauhi karena sikap dan sifat mereka yang tidak jelas. Opini ini nampaknya mencerminkan pergaulan sosial mereka yang kurang baik terjalin bersama lingkungan. Mereka akan sangat mudah kita jumpai diberbagai tempat seperti pusat-pusat keramaian seperti persimpangan, pasar, bioskop, mall dan stasiun.
Sebenarnya yang paling utama sebagai kata kunci dalam menjalani kehidupan ini pada dasarnya hanyalah agama karena agama merupakan pondasi dan pemandu akurat yang dapat mengatur dan mengarahkan setiap gerak dan langkah manusia. Semua yang timbul dari dalam jiwa manuisa, baik berupa perkataan, perbuatan, gerak, langkah hingga getaran-getaran yang terdetak dalam dinding hati seseorang sangat bergantung kepada kemantapan dan ketegaran akidah (agamanya), bahkan lintasan-lintasan khayal yang bergerak dalam pikiran seseorang sangat dipengaruhi oleh alat pemandu yang sangat esensi yaitu keteguhan menjalankan perintah agama, maka tidak akan lari dari nilai moral akan terus terevaluasi segala tindak tanduk perbuatan, hidupnya akan semakin baik dan harmonis hubungannya dengan khalik dan makhluk (hubungan pertikal dengan Allah dan kehidupan sosial dengan manusia). Sehingga ketika nilai agama sudah melekat, maka tidak akan ada yang membedakan kita dalam pergaulan apakah ia mau dipinggir jalan, kolong jembatan atau bahkan digedung mewah.
Berdasarkan Latar belakang diatas maka penulis merasa berkewajiban untuk memberikan sebuah jawaban sebagai bahan evaluasi dan pertimbangan karena kita mempunyai hak dan kewajiban yang sama untuk kemajuan Negara dan agama Allah ini dengan mengangkatnya menjadi sebuah karya berupa penelitian ilmiah yang dituangkan dalam bentuk makalah dengan judul “Pemahaman Keagamaan Anak Jalanan dan Relevansinya Terhadap Kehidupan Sosial”.
B. Rumusan Masalah
Dari penjelasan yang telah penulis kemukakan di atas, bahwa pada dasarnya agama menjadi sebuah solusi dan barometer untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki terlepas dimanapun posisi kita berada baik ia dijalan di kolong jembatan bahkan di istana sekalipun. Pemahaman agama yang benar akan memberikan ketenangan bagi orang yang menjalankannya juga kepada orang yang senantiasa selalu berinteraksi dengan kita, karena pada dasarnya agama akan menyuruh pemeluknya untuk berlaku adil, pengasih, pemaaf, tolong menolong dan ini merupakan rangkaian yang sangat harmonis untuk kehidupan sosial.
Anak jalanan mempunyai potensi dan kesempatan yang sama seperti halnya manusia pada umumnya untuk menata pergaulan yang lebih baik karena mereka punya aturan hidup yaitu agama dan tatanan moral lainnya. Dengan itu kita dapat menentukan masalah-masalah yang timbul dan akan ditelusuri pada permasalahan ini, antara lain :
1. Seperti apakah anak jalanan.
2. Bagaimanakah peran dan fungsi agama bagi kehidupan manusia
3. Apakah hubungan aplikasi keagamaan dengan kehidupan sosial.
4. Seperti apakah pengamalan keagamaan anak jalanan.
C. Batasan Istilah
Agar terhindar dari kesalahan dalam menginterpretasikan terhadap judul penelitian ini, maka penulis akan memberikan batasan-batasan terhadap istilah penting dari judul penelitian ini. Kata-kata yang dibahas antara lain sebagai berikut :
a. Pemahaman
Berasal dari kata paham yang diakhiri dengan akhiran an yang mempunyai arti pandangan
Pemahaman maksudnya adalah penguasaan, pendalaman dan pemaknaan.
b. Keagamaan
Diawali dengan sebuah sisipan yaitu awalan ke dan akhiran an yang mempunyai makna sebagi hak milik, agama berasal dari bahasa Sansekerta yaitu A berarti tidak sedangkan Gama mempunyai arti lari, kocar-kacir, pergi. Secara utuh dapat diartikan bahwa Agama adalah tidak lari, tidak kocar-kacir dan tidak kacau, begitulah seharusnya orang yang mempunyai agama.
b. Anak Jalanan
Terdiri dari dua kata yaitu anak dan jalanan, Konsep “anak” didefinisikan dan dipahami secara bervariasi dan berbeda, sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan yang beragam. Menurut UU No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, anak adalah seseorang yang berusia di bawah 21 tahun dan belum menikah. Sedangkan menurut UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan, namun untuk menyamakan persepsi penulis memberikan sebuah batasan untuk penelitian ini yaitu anak usia 15 sampai 21 tahun. Jalanan adalah beberapa tempat yang biasa dilewati orang banyak. Children of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh atau sebagian besar waktunya di jalanan dan tidak memiliki hubungan atau ia memutuskan hubungan dengan orangtua atau keluarganya. Children in the street atau children from the families of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh waktunya di jalanan yang berasal dari keluarga yang hidup atau tinggalnya juga di jalanan. Anak jalanan adalah anak yang terkategori tak berdaya. Mereka merupakan korban berbagai penyimpangan dari oknum-oknum yang tak bertanggung jawab.
d. Relevansi
Hubungan, pertautan bias dari suatu kondisi dan keadaan.
e. Kehidupan
Pola perjalanan dalam menapaki sisa usia, umur. Tidak mati mempunyai harapan dan masa depan.
f. Segala sesuatu yang mengenai masyarakat, perduli terhap kepentingan umum.
D. Fokus Masalah
Yang menjadi fokus masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pemahaman keagamaan anak jalanan dan relevansinya terhadap kehidupan sosial.
E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengetahui bagaimana Pemahaman keagamaan anak jalanan.
2. Bagaimana pendidikan dan pola pembelajaran agama anak jalanan.
3. Sejauh apa aplikasi/pengamalan keagamaan anak jalanan.
4. Bentuk pergaulan anak jalanan.
5. Bagaimana hubungan antara nilai keagamaan dengan pergaulan anak jalanan.
6. Seperti apa respon masyarakat terhadap anak jalanan.
7. Mengetahui sejarah dan latar belakang timbulnya anak jalanan.
Meski demikian tujuan yang paling utama dari penelitian ini adalah untuk menambah pengetahuan dan referensi keilmuan para pembaca dan terutama menambah referensi keilmuan penulis sendiri.
Kegunaan Penelitian
i. Penelitian ini bertujuan untuk menambah khasanah pemikiran dan sebagai bahan masukan bagi pemerintah.
ii. Sebagai tanggung jawab akademik di perguruan tinggi.
iii. Menambah literatur terkait fenomena anak jalanan.
F. Metodologi Penelitian
a. Jenis Penelitian
Jenis Penelitian yang dilakukan adalah penelitia kualitatif , karena titik focus penelitian adalah observasi dan suasana alamiah (Naturalistic Setting). Dikatakan natural karena pelaksaan penelitian memang terjadi secara alamiah, apa adanya dalam situasi normal yang tidak di manipulasi keadaan dan kondisinya, singkatnya menekankan pada deskripsi secara alami. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif yang dijelaskan Issac dan Michael sebagaimana dikutip Jalaluddin Rakhmat, yaitu pendekatan yang bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara factual dan cermat. Pendekatan deskriptif kualitatif juga bertujuan untuk mnedekatkan uraian mendalam tentang ucapan, tulisan dan tingkah laku yang dapat diamati dari suatu individu, kelompok masyarakat maupun organisasi dalam setting tertentu yang dikaji dari sudut pandang yang konfrehensif. Dalam penelitian ini, subjek yang diteliti adalah anak jalanan.
b. Informan Penelitian
Salah satu tradisi terpenting dalam penelitian kulitatif adalah penentuan informan kunci (Key Informan). Penentuan informan sangat penting dilakukan agar data yang dibutuhkan dalam melengkapi hasil penelitian dapat diperoleh secara valid. Sebab itu informan kunci harus diambil dari orang-orang yang dianggap dapat memberikan informasi yang berkaitan lansung dengan obyek yang sedang diteliti. Pengambilan informan kunci dalam penelitian ini dilakukan dengan penggunaan teknik snowball sampling , maksudnya adalah peneliti memilih responden secara berantai dimana hanya informan awal yang ditetapkan dan selanjutnya bergulir secara terus menerus sampai peneliti memperoleh data yang cukup sesuai dengan kebutuhan.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka informan kunci dalam penelitian ini terlebih dahulu ditetapkan sebanyak tiga orang. Ketiga orang informan kunci yang diharapkan adalah sebagai sumber data primer yang dapat memberikan data pokok yang menjadi telaah utama dalam penelitian ini selanjutnya data pokok tersebut ditambahi dari data sekunder sebagai pendukung yang bersumber dokumentasi, profil yang dianggap relevan dengan topik penelitian, bahan bacaan seperti surat kabar, jurnal, majalah, pernyataan-pernyataan dalam seminar dan buku-buku lainnya.
c. Teknik Pengumpulan Data
Mengingat bahwa jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, maka pengumpualan data dari lapangan dilakukan secara langsung oleh peneliti. untuk itu penulis melakukan pengumpulan data dari lokasi penelitian dengan tiga macam cara. Yaitu :
1. Wawancara mendalam (Defth Interview) dalam hal ini penulis mengadakan wawancara lansung dengan cara bertatap muka dengan informan penelitian sebagaimana yang telah ditetapkan diatas sampai data-data yang diperlukan terkumpul. Hal-hal yang akan diwawancarai adalah terkait aktifitas dan pengamalan anak jalanan.
2. Opservasi dalam hal ini penulis mengadakan observasi secara langsung terhadap kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan nilai etika, norma, religiusitas dan pergaulan yang mereka terapkan dimasyarakt sekitar mereka.
3. Menyebarkan angket
Dengan membagi-bagikan angket dengan rumusan yang terkait dengan, pengetahuan, pemahaman sikaf, tingkah atau perilaklu yang gselanjutnya akan dianalisis dengan kondisi real yang ada di lapangan.
4. Selain interview dan observasi penulis juga mengumpulkan data dan dokumentasi pemerintah dari Dinas Sosial (Dinsos), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Lembaga Perlindungan Anak dan tentunya para pengamat yang relevan dengan topik penelitian bahan-bahan bacaan seperti surat kabar, jurnal, majalah dan buku-buku.
d. Teknik Analisis Data
Proses analisis data dilakukan secara terus menerus sejak awal hingga berakhirnya penelitian. Agar lebih memudahkan analisis data maka analisis dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagaimana yang telah disampaikan Lexy Moleong, tahapan-tahapan tersebut sebagai berikut :
1. Menelaah dan mempelajari data yang tersedia dari berbagai sumber, baik data yang bersipat primer maupun sekunder yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi.
2. Mereduksi data dengan membuat rangkuman berupa pernyataan-pernyataan yang perlu di olah.
3. Menyusun data dalam satuan-satuan analisis.
4. Memeriksa kembali keabsahan data sehingga data-data yang absah yang akan dimasukkan kedalam hasil penelitian.
5. Mengambil kesimpulan dengan cara induktif abstraktif yaitu kesimpulan yang bertitik tolak dari yang khusus ke umum.
Untuk menjaga keabsahan data atau tingkat validitas dan rehabilitas data yang akan dideskripsikan dipakai teknik triangulasi, yaitu triangulasi dengan sumber dapat dilakukan dengan jalan.
1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
2. Membandingkan apa yang dikatakan seseorang didepan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi.
3. Membandingkan hasil wawancara dengan isu suatu dokumen yang berkaitan.
G. Sistematika Pembahasan
Guna memudahkan para pembaca sekalian dalam memahami dan menelaah isi penelitian ini maka penulisan karya ini menggunakan pembahasan per bab, dimana setiap bab akan ditampilkan sesuai dengan urutan permasalahan yang diperinci laghi kepada sub-sub atau pasal-pasal. Adapun gambaran garis-garis besar penelitian ini adalah :
Pertama
BAB I. Merupakan Pendahuluan yang berisikan; A. Latar Belakang Masalah, B. Rumusan Masalah, C. Batasan Istilah, D. Fokus Masalah, E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian, F. Metodologi Pembahasan, G. Sistematika Pembahasan.
Kedua
BAB II Pada bab ini akan dikaji pembahasan yang meliputi; I. Gambaran Umum Kegiatan Anaka Jalanan, II. Yang Menyebabkan Anak Menjadi Jalanan, III. Bentuk Pergaulan Anak Jalanan, dan beberapa sub judul yang relevan dan pantas untuk dikaji.
Ketiga
BAB III Agama dalam kehidupan, peran dan fungsi agama, pengaruh agama dalam diri manusia. Inilah gambaran dalam pembahasan bab yang ketiga ini.
Keempat
BAB IV Dalam hal ini penulis akan menuangkan gagasan mendalam berupa penutup:
1 Kesimpulan
2 Kritik
3 Saran
Daftar Pustaka
BAB II
Pembahasan
A. Pengertian
Anak jalanan adalah sebuah istilah umum yang mengacu pada anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan. Dapat ditemui adanya pengelompokan anak jalanan berdasar hubungan mereka dengan keluarga. Pada mulanya ada dua kategori anak jalanan, yaitu children on the street dan children of the street. Namun pada perkembangannya ada penambahan kategori, yaitu children in the street atau sering disebut juga children from families of the street.
Pengertian untuk children on the street adalah anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan yang masih memiliki hubungan dengan keluarga. Ada dua kelompok anak jalanan dalam kategori ini, yaitu anak-anak yang tinggal bersama orang tuanya dan senantiasa pulang ke rumah setiap hari, dan anak-anak yang melakukan kegiatan ekonomi dan tinggal di jalanan namun masih mempertahankan hubungan dengan keluarga dengan cara pulang baik berkala ataupun dengan jadwal yang tidak rutin.
Children of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh atau sebagian besar waktunya di jalanan dan tidak memiliki hubungan atau ia memutuskan hubungan dengan orangtua atau keluarganya. Children in the street atau children from the families of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh waktunya di jalanan yang berasal dari keluarga yang hidup atau tinggalnya juga di jalanan.
Anak jalanan adalah anak yang sebagian besar waktunya berada di jalanan atau di tempat-tempat umum. Anak jalanan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : berusia antara 5 sampai dengan 18 tahun, melakukan kegiatan atau berkeliaran di jalanan, penampilannya kebanyakan kusam dan pakaian tidak terurus, mobilitasnya tinggi
Menurut M. Ishaq (2000), ada tiga ketegori kegiatan anak jalanan, yakni : (1) mencari kepuasan; (2) mengais nafkah; dan (3) tindakan asusila. Kegiatan anak jalanan itu erat kaitannya dengan tempat mereka mangkal sehari-hari, yakni di alun-alun, bioskop, jalan raya, simpang jalan, stasiun kereta api, terminal, pasar, pertokoan, dan mall.
B. Penyebabkan Anak Menjadi Anak Jalanan
Keadaan kota mengundang maraknya anak jalanan. Kota yang padat penduduknya dan banyak keluarga bermasalah membuat anak yang kurang gizi, kurang perhatian, kurang pendidikan, kurang kasih sayang dan kehangatan jiwa, serta kehilangan hak untuk bermain, bergembira, bermasyarakat, dan hidup merdeka, atau bahkan mengakibatkan anak-anak dianiaya batin, fisik, dan seksual oleh keluarga, teman, orang lain lebih dewasa.
Di antara anak-anak jalanan, sebagian ada yang sering berpindah antar kota. Mereka tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan membuatnya berperilaku negatif. Seorang anak yang terhempas dari keluarganya, lantas menjadi anak jalanan disebabkan oleh banyak hal. Penganiayaan kepada anak merupakan penyebab utama anak menjadi anak jalanan. Penganiayaan itu meliputi mental dan fisik mereka. Lain dari pada itu, pada umumnya anak jalanan berasal dari keluarga yang pekerjaannya berat dan ekonominya lemah
Berdasarkan pembahasan yang telah diungkapkan pada bagian sebelumnya dan dari beberapa teori penelitian yang ada maka penulis mengambil sebuah pemikiran bahwa anak jalanan, dapat dilihat dari uraian sebagai berikut.
Pertama, dilihat dari profil anak jalanan terdapat beberapa kecenderungan, yaitu (a) sebagian besar anak jalanan melakukan aktifitas berjualan di jalan, (b) tempat tinggal mereka di rumah, (c) memperoleh makanan dengan cara membeli sendiri, (d) lama tinggal di jalan dalam satu hari di atas 12 jam, (e) memperoleh uang dari hasil berjualan dan mengamen, (f) uang yang diperoleh digunakan untuk membantu keluarga, (g) jarang bertemu orang tua, (h) sering mendapat kesulitan di rumah, (i) kurang betah tinggal di rumah, (y) meminta tolong pada saudaranya ketika mengalami kesulitan sebagai pihak yang dianggap paling dekat.
Kedua, dilihat dari profil keluarga anak jalanan, terdapat beberapa kecenderungan, yaitu (a) sebagian besar keluarga anak jalanan orang tuanya menikah, (b) jumlah anaknya 3-4 orang, (c) bersikap mendukung anaknya bekerja di jalan, (d) bersikap mendukung bila anaknya sekolah, (e) pernah mendapat penyuluhan tentang usaha bersama tetapi tidak pernah mengikuti kegiatan tersebut karena berpandangan bahwa kegiatan tersebut tidak membantu perekonomian keluarga, (f) bekerja di sektor non-formal dengan pendapatan tidak tetap, dan (g) menempati rumah dengan status sewa atau tanah Negara.
Ketiga, Peta permasalahan anak jalanan di Indonesia dapat dikategorikan menjadi enam, yaitu (1) anak jalanan turun ke jalan karena adanya desakan ekonomi keluarga sehingga justru orang tua menyuruh anaknya untuk turun ke jalan guna mencari tambahan ekonomi keluarga, (2) rumah tinggal yang kumuh membuat ketidakbetahan anak berada di rumah sehingga perumahan kumuh menjadi salah satu faktor pendorong untuk anak turun ke jalan, (3) rendahnya pendidikan orang tua menyebabkan mereka tidak mengetahui fungsi dan peran sebagai orang tua dan juga tidak mengetahui hak-hak anak, (4) belum adanya payung kebijakan mengenai anak yang turun ke jalan baik dari kepolisian, Pemerintah Kota (Pemko) maupun Departemen Sosial (Depsos) menyebabkan penanganan anak jalanan tidak terkoordinasi dengan baik, (5) peran masyarakat dalam memberikan kontrol sosial masih sangat rendah, dan (6) lembaga-lembaga organisasi sosial belum berperan dalam mendorong partisipasi masyarakat menangani masalah anak jalanan (7) rendahnya pemahaman agama.
Keempat, Secara umum masyarakat memandang bahwa masalah anak jalanan merupakan masalah yang sangat kompleks bahkan ia membentuk sebuah lingkaran yang berujung pada sulitnya dilihat ujung pangkalnya. Kalangan aparat hukum, polisi misalnya, memandang bahwa payung kebijakan yang dapat digunakan untuk menangani anak jalanan belum ada. Mereka sulit untuk melakukan tindakan hukum berhubung tidak adanya undang-undang khusus mengenai anak jalanan seperti misalnya Perda, Perpu atau yang lainnya sehingga dirasa sulit untuk mengadakan pencegahan agar anak-anak tidak berada di jalan. Selanjutnya tokoh agama berpandangan bahwa munculnya masalah anak jalanan merupakan wujud dari tidak optimalnya pengelolaan zakat baik zakat mal, zakat fitrah, dan lainnya. Mereka mengharapkan agar dana zakat dapat dikelola sebaik mungkin agar disalurkan kepada mustahik dan dapat dimanfaatkan sebaik-sebaiknya oleh mereka. Disamping itu, kalangan akademisi memandang bahwa masalah anak jalanan merupakan masalah yang berkaitan dengan bagaimana hubungan antara pemerintah kota dengan daerah penyangga. Menurut mereka, penanganan masalah anak jalanan harus melibatkan juga aparat pemerintah pada daerah penyangga. Pemerintah misalnya, juga harus mengalokasikan dana pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat. Terakhir, aktifis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) memandang bahwa penanganan anak jalanan harus dilakukan dengan melibatkan institusi sekolah, rumah singgah, dan pemberdayaan keluarga dengan memberikan modal usaha keluarga.
Kelima, alternatif model penanganan anak jalanan mengarah kepada 3 jenis model yaitu family base, institutional base dan multi-system base.
C. Gambaran Umum Kegiatan Anak Jalanan
Aktivitas mereka bekerja tanpa ada batasan waktu yang tetap, tetapi waktu yang mereka habiskan untuk bekerja rata-rata antara lima sampai dua belas jam per hari Anak jalanan yang bekerja sebagai pedagang, memiliki waktu memulai bekerja relatif teratur dan menyelesaikan pekerjaannya ketika barang dagangan yang dibawa habis. Sedangkan anak jalanan yang bekerja sebagai pengamen tidak memiliki keteraturan waktu bekerja. Mereka memulai dan mengakhiri pekerjaannya bergantung kepada keinginan dirinya saat itu. Namun demikian ada kesamaan pada setiap anak jalanan dalam bekerja, yaitu mereka dapat bekerja dan bermain dalam aktivitasnya. Hal ini sulit ditemukan pada pekerja anak di sektor formal yang terikat pada ketentuan-ketentuan perusahaan tempat mereka bekerja. Rata-rata anak jalanan di lokasi penelitian mengaku mempunyai keluarga dengan tempat tinggal tetap di sekitar wilayah Kota Medan. Meskipun demikian tidak semua dari mereka yang tinggal menetap bersama keluarganya. Sebagian dari mereka setiap harinya pulang ke rumah, sebagian lagi dalam seminggu hanya dua sampai tiga hari pulang kerumah, bahkan ada diantara mereka dalam satu bulan seringkali hanya pulang satu atau dua kali saja, itupun untuk keperluan mengantarkan uang yang dikumpulkan selama satu bulan untuk keluarganya. Dilihat dari lama waktu bekerja dan jenis pekerjaan yang menuntut mobilitas tinggi, anak jalanan termasuk pekerja keras. Apalagi jika mengacu pada kebijakan tentang perlindungan anak bahwa seorang anak dibawah umur empat belas tahun yang terpaksa bekerja, seharusnya tidak boleh bekerja lebih dari empat jam dalam satu hari. Mereka bekerja di tengah kepadatan arus kendaraan dan berinteraksi dengan lingkungan terminal yang rentan terhadap tindak criminal dan kecelakaan lalu lintas.
Selain itu, dari aspek kesehatan mereka rentan terhadap penyakit karena polusi asap kendaraan dan pola konsumsi yang kurang baik. Dalam hal berpakaian terdapat kecenderungan perbedaan antara anak jalanan yang masih mendapatkan perhatian keluarga dengan anak jalanan yang kurang atau tidak mendapatkan perhatian dari keluarga. Anak jalanan yang masih mendapatkan perhatian dari keluarganya memiliki penampilan relatif lebih baik. Sebaliknya, untuk anak jalanan yang kurang atau tidak mendapatkan perhatian keluarga, memiliki penampilan relatif tidak terurus. Mereka membersihkan diri dengan mandi di toilet-toilet umum dengan pakaian yang terkadang tidak dicuci untuk waktu di atas tiga hari. Bahkan, sebagian dari mereka terkadang enggan untuk mengganti pakaiannya meski sudah kotor sekalipun. Mereka akan terus memakai pakaian yang mereka suka hingga mereka bosan, setelah itu mereka akan membuangnya dan membeli pakaian yang baru.
C. Pergaulan Anak Jalanan
Anak jalanan banyak berinteraksi dengan orang-orang yang lebih dewasa, seperti sopir, kernet, dan pedagang kaki lima. Kekerasan hidup, uang, dan bagaimana memenuhi kebutuhan konsumtif adalah hal-hal yang memenuhi orientasi hidup mereka. Sehingga secara umum perkembangan orientasi pemikiran mereka mengalami akselerasi dibandingkan dengan anak seusianya. Mereka cenderung teraleniasi dari dunia anak-anak.
Dalam interaksi sosialnya dengan lingkungan, biasanya anak jalanan yang masih mendapat cukup perhatian dari orang tuanya, menampakkan adanya filterisasi dalam menyerap nilai dan norma lingkungan mereka di jalan. Hal ini nampak dalam tingkat ketahanan diri anak terhadap kecenderungan perilaku menyimpang seperti tindakan asusila maupun tindakan kejahatan lainnya. Sebagian dari mereka tetap melaksanakan kewajiban agama dan menghindari ajakan teman dari perbuatan asusila. Kuatnya pertahanan diri ini lebih dikarenakan masih adanya bimbingan orang tua dalam kehidupan mereka terkhusus masalah keagamaan dan moral. Sedangkan untuk anak jalanan yang kurang atau tanpa perhatian orang tua, mereka rentan terhadap pengaruh lingkungannya. Kurangnya perhatian orang tua terutama dalam bentuk bimbingan untuk bersikap dan berperilaku serta disiplin dan kontrol diri yang baik, membuat pertahanan diri mereka rapuh. Mereka mengadopsi perilaku lingkungan di terminal tanpa filterisasi. Perilaku sekelilingnya seringkali diadopsi sebagai acuan dalam bersikap dan berperilaku, yang seringkali perilaku acuan yang mereka dapati adalah perilaku yang kurang dan bahkan bertentangan dengan norma sosial yang ada.
BAB III
Agama dan Mentalitas
A. Sikap Keagamaan
Sikap keagamaan merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatannya terhadap agama. Sikap keagamaan tersebut oleh adanya konsistensi antara kepercayaan terhadap agama sebagai unsur kognitif, perasaan terhadap agama sebagai unsur efektif dan perilaku terhadap agama sebagai unsur konatif.
B. Fungsi Agama
a. Menghormati akal sekaligus memfungsikannya secara baik, agar manusia dapat berpikir cerdas tentang kejadian alam semesta serta dapat mengambil pelajaran dari alam itu, bahwa kejadiannya yang indah menjadi bukti nyata atas kekuasaan Allah yang maha besar, pencipta alam dan pengaturnya.
b. Menyinari jiwa agar tunduk kepada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
c. Menyucikan hati manusia agar berakhlakul karimah, sehingga ia hidup dalam ketenangan baik jasmani maupun rohani.
d. Menjadi obor penerangan agar manusia dapat menempuh jalan kebaikan.
e. Menjamin kebaikan bagi seluruh masyarakat agar kehidupan tetap stabil.
f. Menjadi tali yang kokoh untuk mempertautkan segala hati, karena pertalian yang harmonis di masyarakat bersumber pada keselarasan dan keikhlasan hati.
g. Menjadi obat bagi penyakit sosial yang berkembang di masyarakat
Dunia mengenal kita sebagai bangsa yang mayoritas penduduknya mengisi kolom agama di KTP. Apa yang sebenarnya terjadi dengan masyarakat kita. Korupsi, suap menyuap menjadi suatu hal yang wajar. Kecurangan menjadi tata nilai yang hadir di setiap proses perjalanan hidup. Berita bunuh diri akibat alasan minimnya kemampuan ekonomi menjadi kolom yang rutin di surat kabar. Kasus anak-anak yang menunggu ajal akibat gizi buruk hampir setiap harinya berselingan dengan iklan launching apartemen mewah ataupun pusat perbelanjaan, entah bernama mall, town square atau Trade Center. Mungkin kita semua ini seperti kata Kyai Mustofa Bisri, tak tahu diri, lupa diri, dan tidak tahu mengukur diri sendiri. Setiap kita seakan-akan merasa sudah menjadi makhluk yang sudah mulia. Kita lebih memfungsikan keimanan sebagai alat untuk menghakimi keimanan dan keyakinan orang lain, bukan sebagai pemicu untuk menjadi pribadi yang berkualitas yang dapat memberi manfaat bagi banyak orang. Misi penting yang dibawa Nabi Muhamad SAW menebarkan kasih sayang di semesta raya (rahmatan lil ‘alamin), Kita telah menjadi masyarakat instan yang hanya mau melakukan yang praktis-praktis saja. Kita tidak mau repot belajar tetek-bengek tentang agama. Biar tidak susah-susah menahan nafsu, yang menggoda nafsu harus tidak ada di depan mata kita. Kita tidak mau repot melatih dan mengatur nafsu agar bisa tahan di berbagai macam keadaan.
Keberagamaan kita masih lebih banyak disibukkan untuk “ngurusi Tuhan”. Masjid dan mushalla di bangun dengan cukup megah di pelosok negeri, seakan-akan untuk memberi persembahan kepada Tuhan. Sementara tidak jauh dari mesjid seringkali saudara kita harus memutar otak 27 kali agar mampu bertahan hidup. Pergi Haji atau Umrah hampir setiap tahun, dengan alasan mengunjungi rumah Tuhan. Sementara di lain pihak tidak jauh dari jangkauan tangan, saudara kita harus mengais-ngais sampah untuk sekedar dapat hidup. Rasulullah Saw menjelaskan dalam haditsnya yang sekira artinya :
“Iman itu bukanlah angan-angan dan juga bukan perhiasan: tetapi Iman itu adalah
sesuatu yang menetap di dalam hati, dan dibenarkan dengan amal.”
(H.R. Ad Dailami)
C. Peran Agama Dalam Kehidupan
Orang yang mengaku beragama dan konsekuen terhadap pengakuannya memiliki keterikatan pikiran dan emosi dengan keyakinan atau agama beserta aturan-aturan/syariat yang ada di dalamnya. Terdapat tiga ranah utama yang dapat diamati pada orang beragama menurut pandangan Islam, yaitu: Iman, Islam, dan Pengamalan agama yang benar dalam kehidupan sehari-hari atau Ikhsan. Sementara itu orang yang beriman akan cenderung berperilaku lebih baik karena apa yang mereka kerjakan didasari oleh kerelaan, mempunyai makna demi kemuliaan Tuhan. Selanjutnya agama mempunyai makna yang penting bagi manusia karena iman dapat berfungsi sebagai penghibur di kala duka, menjadi sumber kekuatan batin pada saat menghadapi kesulitan, pemicu semangat dan harapan berkat doa yang dipanjatkan, pemberi sarana aman karena merasa selalu berada dalam lindungan-Nya, penghalau rasa takut karena merasa selalu dalam pengawasan-Nya, tegar dalam menghadapi masalah karena selalu ada petunjuk melalui firman-firman-Nya, menjaga kemuliaan moral dan berperilaku baik terhadap lingkungan sebagaimana dicontohkan para rasul-Nya.
Inti dari Peranan agama dalam kehidupan adalah sebagai pendorong atau penggerak serta pengontrol dari tindakan-tindakan para anggota masyarakat untuk tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan ajaran-ajaran agamanya, sehingga tercipta ketertiban sosial.
I. Peran agama terhadap kondisi psikologik
Unsur utama dalam beragama adalah iman atau percaya kepada keberadaan Tuhan dengan sifat-sifatnya, antara lain: Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun, Maha Pemberi, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Suci, serta nilai-nilai lebih/Maha yang lainnya. Oleh karena itu, orang yang merasa dirinya dekat dengan Tuhan, diharapkan akan timbul rasa tenang dan aman, yang merupakan salah satu ciri sehat mental.
Terkait dengan manfaat kesehatan mental dari religiusitas, Abernethy (2000) mengusulkan ada beberapa mekanisme keagamaan untuk mempengaruhi kesehatan antara lain: 1. mengatur pola hidup individu dengan kebiasaan hidup sehat, 2. memperbaiki persepsi ke arah positif, 3. memiliki cara penyelesaian masalah yang spesifik, 4. mengembangkan emosi positif, 5. mendorong kepada kondisi yang lebih sehat. Menurut Culliford orang dengan komitmen agama yang tinggi akan meningkatkan kualitas ketahanan mentalnya karena memiliki self control, self esteem dan confidence yang tinggi. Juga mereka mampu mempercepat penyembuhan ketika sakit karena mereka mampu meningkatkan potensi diri serta mampu bersikap tabah dan ikhlas dalam menghadapi musibah.
II. Peran agama terhadap perilaku sosial
Umumnya para penganut agama akan melakukan kegiatan ibadah atau kegiatan sosial lainnya secara bersama-sama, dan kegiatan bersama seperti ini dilakukan secara berulang-ulang, sehingga dapat menimbulkan rasa kebersamaan dan meningkatkan solidaritas antar jamaah. Oleh karena itu, Abernethy mengatakan bahwa orang yang memiliki komitmen agama yang tinggi akan mendapatkan dukungan sosial yang tinggi pula, sedangkan Dervic (2004) menyatakan bahwa orang dengan komitmen agama yang tinggi dapat diharapkan memiliki moralitas yang terpuji pula. Penelitian Kendler (2003) mendapatkan pada orang-orang yang komitmen agamanya tinggi ketaatan terhadap norma sosialnya tinggi pula. Juga terdapat korelasi negatif yang signifikan antara skor religiusitas dan skor perilaku antisosial. Menurut Culliford (2002), orang yang tingkat religiusitasnya tinggi kualitas hidupnya diharapkan juga tinggi. Hal ini tercermin pada hubungan sosial dengan masyarakat yang baik, keberadaannya dapat diterima baik oleh masyarakat di sekitarnya.
Agama mengarahkan perhatian umat manusia kepada masalah maha penting yang selalu menggoda, yaitu masalah "arti dan makna" (the problem of meaning). Manusia membutuhkan bukan saja pengaturan emosi, tetapi juga kepastian kognitif tentang perkara-perkara yang tidak dapat dielakkan dari pikirannya: penderitaan, kematian, nasib. Terhadap persoalan tersebut, agama menunjukkan jalan dan arah kemana manusia dapat mencari jawabannya. Maraknya berbagai tindak kriminalitas dan kenakalan remaja merupakan indikasi dari menurunnya kualitas perilaku beragama remaja dan rendahnya perhatian institusi keluarga maupun sekolah dalam proses sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai religius di dalamnya
Inti dari Peranan agama dalam kehidupan adalah sebagai pendorong atau penggerak serta pengontrol dari tindakan-tindakan para pemeluknya (masyarakat) untuk tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan norma hukum, sehingga tercipta ketertiban sosial.
وعن أبي يحيى صهيب بن سنان رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله له خير، وليس ذلك لأحد إلا للمؤمن : إن أصابته سراء شكر فكان خيراً له، وإن أصابته ضراء صبر فكان خيراً له" ((رواه مسلم)).
Dari Abu Yahya, yaitu Shuhaib bin Sinan r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Menakjubkan keadaan seorang mu'min itu, sesungguhnya semua keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada kecuali hanaya pada diri seorang mu'min, yaitu apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, iapun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya,sedang apabila ia ditimpa kesukaran yakni yang bencana ia pun bersabar dan hal inipun merupakan kebaikan baginya." (Riwayat Muslim)
Dapat dipastikan bahwa Keyakinan beragama menjadi bagian integral dari kepribadian seseorang yang akan mengawasi segala tindakan, perkataan bahkan perasaannya. Pada saat seseorang tertarik pada sesuatu yang tampaknya menyenangkan, maka keimanannya akan bertindak, menimbang dan meneliti apakah hal tersebut boleh atau tidak oleh agamanya. Agama mempunyai peran penting dalam pembinaan moral karena nilai-nilai moral yang datang dari agama bersifat tetap dan universal. Apabila seseorang dihadapkan pada suatu dilema, ia akan menggunakan pertimbangan-pertimbangan berdasarkan nilai-nilai moral yang datang dari agama. Oleh karena itu, orang yang berada dimanapun dan dalam posisi apapun, akan tetap memegang prinsip moral yang telah tertanam dalam hati nuraninya. Berdasarkan hal inilah, sehingga nilai-nilai agama yang telah diinternalisasi oleh seseorang diharapkan mampu menuntun semua perilakunya menuju kehidupan sosial yang lebih baik.
D. Konsekwensi Logis Keberagamaan
Tentunya apa saja yang dihadapkan kepada kita sebagai manusia yang berakal mempunyai tanggung jawab, dan aturan sesuai dengan norma hukum yang berlaku, misalnya ketika kita dihadiahi akal oleh Allah SWT maka konsekwensinya kita disuruh berpikir, ketika kita mempunyai seorang isteri maka tanggung jawabnya sebagai suami adalah memberikan nafkah dan menjaga kehormatannya, diberikan agama oleh Tuhan maka realitas yang harus kita jalani adalah dengan menjalankan syariat dari-Nya dan membangun hubungan vertikal kepada Allah dan horizontal kepada sesama manusia dan diakhirat kelak kita diminta pertanggung jawabannya. Oleh karena itu agar tidak terkesan apologis dan sebatas wacana maka penulis menekankan aspek keagamaan apa saja yang perlu kiranya diteliti kepada anak jalanan sehingga pembahasannya lebih fokus dalam penelitian dilapangan nantinya.
Pertama, Dimensi Ritual; yaitu aspek yang mengukur sejauh mana seseorang melakukan kewajiban ritualnya dalam agama yang dianut, misalnya; pergi ke tempat ibadah, berdoa pribadi, berpuasa, dan lain-lain. Dimensi ritual ini merupakan perilaku keberagamaan yang berupa peribadatan yang berbentuk upacara keagamaan. Perilaku seperti ini dalam Islam dikenal dengan istilah mahdaah yaitu meliputi shalat, puasa, haji dan kegiatan lain yang bersifat ritual, merendahan diri kepada Allah dan mengagungkannya. Inilah ibadah vertikal sedangkan untuk wilayah horizontalnya sesama manusia adalah sejauh mana seseorang itu mau berkomitmen dengan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari, misalnya menolong orang lain, bersikap jujur, mau berbagi, tidak mencuri, dan lain-lain.
Kedua, Dimensi Ideologis; yang mengukur tingkatan sejauh mana seseorang menerima hal-hal yang bersifar dogmatis dalam agamanya. Misalnya; menerima keberadaan Tuhan, malaikat dan setan, surga dan neraka, dan lain-lain. Dalam konteks ajaran Islam, dimensi ideologis ini menyangkut kepercayaan seseorang terhadap kebenaran agama-agamanya. Semua ajaran yang bermuara dari Al quran dan Hadits harus menjadi pedoman bagi segala bidang kehidupan. Keberagaman ditinjau dari segi ini misalnya mendarma baktikan diri terhadap masyarakat yang menyampaikan amar ma’ruf nahi mungkar dan amaliah lainnya dilakukan dengan ikhlas.
Ketiga, Dimensi Intelektual; yaitu tentang seberapa jauh seseorang mengetahui, mengerti, dan paham tentang ajaran agamanya, dan sejauh mana seseorang itu mau melakukan aktivitas untuk semakin menambah pemahamannya dalam hal keagamaan yang berkaitan dengan agamanya, misalnya; mengikuti penyuluhan keagamaan, membaca buku agama, mendengar ceramah, dan lain-lain.
Keempat, Dimensi Pengalaman; berkaitan dengan sejauh mana orang tersebut pernah mengalami pengalaman yang merupakan keajaiban dari Tuhan-nya. Misalnya; merasa doanya dikabulkan, merasa diselamatkan, dan lain-lain.
Tolok ukur yang dipakai pada penelitian tersebut adalah kedalaman seseorang atas kepercayaanya seperti rutinitas melakukan ibadah sehari-hari doa, membaca kitab suci menolong sesama, atau munculnya berbagai pertanyaan tentang hubungan vertikal antara hamba dengan Tuhan (Sang Pencipta). Menurut Prof. Mahmud Syaltut, ajaran Islam terdiri atas tiga bagian, yaitu : akidah ( kepercayaan atau keimanan ), syariah (hukum-hukum agama, yang meliputi ibadah dan muamalah ), dan akhlak ( budi pekerti) dengan menggunakan istilah lain, agama Islam itu terdiri atas tiga pilar, yaitu iman, lslam, dan ihsan. Seseorang dikatakan mencapai derajat kaffah jika dia telah melaksanakan tiga bidang ajaran itu dengan sebaiknya.
Dalam tinjauan Islam, mungkin ada orang yang telah mengamalkan iman, yaitu dengan mengimani rukun iman yang enam dan mengamalkan Islam, yaitu minimal mengamalkan rukun Islam yang lima. Tetapi mungkin saja dia belum mengamalkan ihsan, yaitu suatu kesadaran spiritual, bahwa dirinya selalu berada dalam pengawasan dan perlindungan Tuhan. Dalam hal ini, Islam sebagai agama bukan hanya sekedar kaya dengan ritual, namun juga menjunjung tinggi etos yakni kerja, amal dan pikir.
Daftar Pustaka
Abu al Hasan bin Muhammad al Faqih, 10 Langkah Sukses Muslim, Cakrawala Publishing, Jakarta,2004
Ali Muhammad al Hasyimi, Muslim Ideal, “Pribadi Islami Dalam Al Quran dan As Sunnah, Mitra Pustaka,Yokyakarta, Cet IV, Maret, 2003
Anwar, dkk, Masalah Anak dan Implikasi Ekonomi dalam Prisma, LP3ES, Jakarta, 1997
Amin Rais, Tauhid Sosial, Formula mengumpul Kesenjangan Sosial, Mizan, Bandung, Juni, 1998
Burhan Bungin, Analisis Data Penelitian Kualitatif, Pemahaman Filosofis ke Arah Penguasa Model Aplikasi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003
Bustam, Ali, Penelantaran dan Perlakukan Salah Terhadap Anak, Dalam Kumpulan Makalah Seminar Nasional, Yogyakarta Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada dan BP3K Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Gadjah Mada University Press. 1982
Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, KBBI, 1998
Hawari, Dadang, Doa dan Dzikir Sebagai Pelengkap Terapi Medis, PT. Dhani Bhakti Primayasa, Jakarta, 1997
http://id.wikipedia.org/wiki/Anak_jalananKategori: Kemiskinan
Ishaq, M. "Pengembangan Modul Literasi Jalanan untuk Peningkatan Kemampuan Hidup Bermasyarakat Anak-anak Jalanan". Makalah. Lokakarya Modul Literasi Jalanan di BPKB Jayagiri-Lembang, Bandung : Yayasan Bahtera-Unicef, Maret 1998
Indrawan WS, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Lintas Media Jombang, 1998
Jalaluddin Rakhmat, Metode Penelitian Dilengkapi Statistik Contoh Analisis Statistik, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1984
Muhammad Nur, Antropologi Agama, Pustaka Setia, Surabaya, 2002
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta, 1997
Rosyadi Ruslan, Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi, PT Grapindo Persada, Jakarta, 2004
Wibowo, Antonius, Perlindungan Anak Dalam Respon , Atmajaya, Jakarta, 1998
Wiyono, Nur Hadi, Anak-anak Jalanan Dalam Warta Demografi, Univesitas Indonesia, Jakarta 1994
Rabu, 15 Desember 2010
Al Quran Tentang Tuhan dan Manusia
BAB I
PENDAHULUAN
Orientalis H.A.R. Gibb pernah menulis bahwa: "Tidak ada seorang pun dalam seribu lima ratus tahun ini telah memainkan 'alat' bernada nyaring yang demikian mampu dan berani, dan demikian luas getaran jiwa yang diakibatkannya, seperti yang dibaca Muhammad (Al-Quran)." Demikian terpadu dalam Al-Quran keindahan bahasa, ketelitian, dan keseimbangannya, dengan kedalaman makna, kekayaan dan kebenarannya, serta kemudahan pemahaman dan kehebatan kesan yang ditimbulkannya.
Tiada bacaan seperti Al-Quran yang dipelajari bukan hanya susunan redaksi dan pemilihan kosakatanya, tetapi juga kandungannya yang tersurat, tersirat bahkan sampai kepada kesan yang ditimbulkannya. Semua dituangkan dalam jutaan jilid buku, generasi demi generasi. Kemudian apa yang dituangkan dari sumber yang tak pernah kering itu, berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kemampuan dan kecenderungan mereka, namun semua mengandung hikmah. Al-Quran layaknya sebuah permata yang memancarkan cahaya yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang masing-masing.
Penyebaran Islam melalui kitab ini merupakan kebutuhan mutlak generasi muslim awal hingga sekarang, kini nabi sudah tidak lagi hadir di tengah-tengah kita untuk ditanya atau dirujuk langsung, sementara Sunnah beliau sudah demikian mengalami perubahan, pengurangan, distorsi, sudah diadaptasi untuk kepentingan selera rendah. karena itu sekarang ini sulit sekali menemukan kebenaran hakiki ditengah simpang siurnya beragam pandangan dan interpretasi. Perlu ada upaya keras untuk mendapatkan pengetahuan tentang kebenaran. Kebenaran bukanlah sesuatu yang siap santap. Harus ada upaya keras untuk mendapatkannya. Untuk itulah kiranya kita harus bisa memahami konteks yang lalu untuk kita jadikan sebuah pegangan dan rahmat dengan menariknya kepada sebuah pemahaman dan konsep yang bersifat universal shalih likulli zaman wa al makan .
Dalam al Quran seperti yang disebutkan diatas memberikan bermacam ragam pendidikan bagi makhluk yang kemudian menjadi dasar untuk keutuhan hidup dan kehidupan memberikan garansi yang layak bagi hamba-hamba yang beriman, didalamnya termaktub tentang bagaimana sesungguhnya konsep Tuhan berdiri atas kekuasaannya, maha atas segalanya dan raja diatas segala raja.
Sungguh indah ilustrasi yang dikemukakan oleh ulama besar dan philosof muslim kontemporer Abdulkarim Alkhatib menyangkut fenomena ketuhanan. Dalam bukunya “Qadiyat Al-Uluihiyah Bainal Falsafah Wad Din”" Dia menulis lebih kurang sperti berikut: “Yang melihat/ Mengenal Tuhan, pada hakekatnya hanya melihat-Nya melalui wujud yang terhampar di bumi serta yang terbentang di langit. Yang demikian itu adalah penglihatan tidak langsung serta memerlukan pandangan hati yang tajam, akal yang cerdas lagi kalbu yang bersih.
Pada zaman Darwin, evolusi merupakan tantangan terhadap pemahaman tradisional ihwal status umat manusia. Sejak saat itu, banyak disiflin ilmiah mengumpulkan berbagai bukti akan kenyataan bahwa manusia merupakan keturunan leluhur pramanusia. Dari biologi molekuler dewasa ini, kita mengetahui bahwa simpanse dan manusia memiliki sekitar 99 persen DNA yang sama, walaupun tentu saja satu persen yang berbeda itu sangatlah penting . Jadi perlu disimpulkan bahwa manusia secara utuh bukanlah kera dan bukan juga bermetamorposis dari kera, karena ini tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Jadi untuk lebih memanusiakan manusia kita akan melihat bagaimana Al quran menggambarkan manusia. Segala upaya manusia disepanjang hidupnya disamping karena kecintaan kepada dirinya sendiri juga dimotivasi oleh kecenderungan esensialnya kepada kesempurnaan dan kebahagiaan, oleh karena al Quran adalah Inspirasi yang akan menjadikan hidup lebih bermakna maka di dalamnya akan kita jumpai sebuah konsep yang juga membicarakan tentang manusia, bentuk penghambaan yang paling manusiawi, sebuah gerbang pencerahan menuju insan yang sempurna “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yg sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yg serendah-rendahnya kecuali orang-orang yg beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka bagi mereka pahala yg tiada putus-putusnya”. Manusia adalah mahluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah SWT. Kesempurnaan yang dimiliki oleh manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka, Manusia dalam pandangan al-Qur’an bukanlah makhluk anthropomorfisme yaitu makhluk penjasadan Tuhan, atau mengubah Tuhan menjadi manusia. Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai makhluk theomorfis yang memiliki sesuatu yang agung di dalam dirinya. Disamping itu manusia dianugerahi akal yang memungkinkan dia dapat membedakan nilai baik dan buruk, sehingga membawa dia pada sebuah kualitas tertinggi sebagai manusia takwa akan tetapi tidak menutup suatu kemungkinan bahwa penghambaan seorang manusia berubah kepada penghambaan terhadap sesuatu hal selain kepada Tuhan yang menciptakannya.
Maka adapun pokok-pokok permasalahan dalam makalah ini adalah :
1. Seperti apakah Alquran menjadi Inspirasi universal.
2. Bagaimana Al quran memperkenalkan Tuhan sebagai Ilah yang Maha atas segalanya.
3. Apakah Hakikat Penciptaan Manusia.
4. Bagaimanakah Hubungan Manusia dengan Tuhan
Sebagai rumusan masalah sehingga tidak melebar dari pokok permasalahan maka penulis menyampaikan pembahasan secara khusus adalah “ Al Quran tentang Tuhan dan Manusia”.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Universal Al Quran
Di antara ayat-ayat-Nya, Allah Swt berfirman, “Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menumbuhkan dengan hujan itu segala jenis buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Oleh karena itu, janganlah kamu menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”[1] “Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu. Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah dari sebagian rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”[2] “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”[3]
Sungguh, ayat-ayat Al-Quran merupakan serat yang membentuk tenunan kehidupan Muslim, serta benang yang menjadi rajutan jiwanya. Karena itu seringkali pada saat Al-Quran berbicara tentang satu persoalan menyangkut satu dimensi atau aspek tertentu, tiba-tiba ayat lain muncul berbicara tentang aspek atau dimensi lain yang secara sepintas terkesan tidak saling berkaitan. Tetapi bagi orang yang tekun mempelajarinya akan menemukan keserasian hubungan yang amat mengagumkan, sama dengan keserasian hubungan yang memadukan gejolak dan bisikan-bisikan hati manusia, sehingga pada akhirnya dimensi atau aspek yang tadinya terkesan kacau, menjadi terangkai dan terpadu indah, bagai kalung mutiara yang tidak diketahui di mana ujung pangkalnya.
Al quran biasa didefinisikan sebagai firman-firman Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril sesuai redaksiNya kepada nabi Muhammad SAW dan diterima oleh umat Islam secara Mutawatir . Al quran adalah sumber ajaran Islam, kitab suci ini seperti disebutkan diatas menempati posisi sentral, bukan saja dalam perkembangan dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman akan tetapi pemadu gerakan umat Islam. Dari mata rantai sejarah yang tersusun disepanjang kehidupan manusia sudah banyak hal yang dapat teruji dari kebenaran kitab suci ini, mulai dari sistem yang menyangkut kajian sejarah, antropologi, science dan kedokteran yang awalnya ditolak secara mentah oleh mereka yang enggan dengan kebenaran Ilahi.
"Mengapa mereka tidak mendalami Al-Quran, kalau sekiranya itu bukan dari sisi Allah tentulah mereka dapati banyak pertentangan di dalamnya" (QS. 4 An Nisaa 82).
Tidak dapat disangkal oleh siapapun yang memiliki obyektifitas bahwa kitab suci Al quran memiliki keistimewaan-keistimewaan. Keistimewaan tersebut diakui oleh kawan dan lawan sejak dahulu hingga kini.
B. Al Quran Membicarakan Tuhan
Dalam semua agama Tuhan merupakan personal God atau Tuhan berpribadi, dan karena itu dia masuk dalam ruang dan waktu. Hanya saja, kalau berhenti disitu Tuhan menjadi antropomorfis, menjadi manusia dan itu mengakibatkan syirik dan berseberangan dengan konsep sebuah agama yakni Islam. Dalam agama yang mempercayai eksistensi Tuhan, konsep tentang Tuhan menjadi inti dari seluruh keyakinan, ajaran dan praktiknya. Konsep tentang Tuhan juga memberikan batas-batas apa yang boleh dan apa yang tidak boleh bagi pemeluk agama yang mempercayai eksistensi Tuhan itu. Tiap agama biasanya memiliki kitab suci berisi ayat-ayat Tuhan. Ayat-ayat tersebut adalah petunjuk dalam mengarungi samudera hayat yang penuh ketidakjelasan. Allah SWT adalah pemilik mutlak segala sesuatu. Dia tidak memiliki sekutu dalam kepemilikan-Nya. Karena itu, dengan sebenar-benarnya tanpa basa-basi, “Dialah yang memiliki kerajaan dan Dialah yang memiliki segala puji, dan kepadan-Nyalah segala urusan dikembalikan” . Alam ini adalah sesuatu yang relatif. Ia butuh terhadap sesuatu yang menjadi sebab kemunculannya, karena eksistensinya tidak terjadi dengan dengan sendirinya, dengan demikian didalam menetapkan eksistensi pertama kita tidak perlu merenungkan sesuatu selain Allah itu sendiri. Didalam pembuktian eksistensi-Nya kita tidak memerlukan satu makhluk-Nya. Meskipun keberadaan makhluk merupakan dalil bagi eksistensi-Nya, namun pembuktian pertama adalah lebh kuat dan lebih agung .
Di dalam al asmaul husna digunakan sifat-sifat yang seolah-olah paradoks: ada Ghafur, Wadud, Rahim, Rahman, dan sebagainya yang semuanya itu sebetulnya meminjam bahasa manusia. Pada saat bersamaan juga disebutkan sifat-sifat Tuhan yang sebaliknya, yaitu, Jabbar, Mutakabbir, Muntaqim, dan sebagainya . Digambarkan demikian, karena kalau Tuhan hanya digambarkan bersifat lunak manusia akan meremehkan Tuhan, dan itu mempunyai efek terhadap melemahnya etika dan moral. Sebaliknya, kalau Tuhan juga dipahami hanya serba keras, juga akan mempengaruhi sikap manusia, sebagaimana dinyatakan dalam psikologi agama . Artinya kita juga akan serbakeras. Orang Islam sekarang ini tampaknya memahami Tuhan sebagai hakim, sehingga tidak heran sikaf orang Islam cenderung menghakimi segala sesuatu atas nama Tuhan . Meskipun Tuhan digambarkan dengan ilustrasi-ilustrasi seperti manusia yang bisa marah, senang, ridha, dan sebagainya, ada juga pernyataan dalam surat al Ikhlas bahwa Dan tidak ada apapun seperti Dia (Q.112:4) selain kitab suci, Tuhan menabur ayat-ayatnya di tiap titik alam semesta. Bagi manusia yang mengunakan akalnya, ayat-ayat Tuhan tersingkap jelas di sekitarnya. Baik dalam diri manusia sendiri maupun isi langit dan bumi. Tentu jumlahnya lebih banyak dari ayat dalam al-Qur’an karena sesungguhnya Tuhan yakni Allah SWT memperkenalkan dirinya sebagai pribadi yang maha atas segala kemahaan alam semesta baik yang physic dan metaphysic.
Konsep ketuhanan berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits
a. Konsep Al Quran
Dalam konsep Islam, Tuhan diyakini sebagai Zat Maha Tinggi Yang Nyata dan Esa, Pencipta Yang Maha Kuat dan Maha Tahu, Yang Abadi, Penentu Takdir, dan Hakim bagi semesta alam. Islam menitik beratkan konseptualisasi Tuhan sebagai Yang Tunggal dan Maha Kuasa. Dia itu wahid dan Esa (ahad), Maha Pengasih dan Maha Kuasa. Menurut ajaran Islam, Tuhan muncul dimana pun tanpa harus menjelma dalam bentuk apa pun Menurut al-Qur'an, "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS al-An'am 6:103)
Tuhan dalam Islam tidak hanya Maha Agung dan Maha Kuasa, namun juga Tuhan yang personal. Menurut al-Qur'an, Dia lebih dekat pada manusia daripada urat nadi manusia. Dia menjawab bagi yang membutuhkan dan memohon pertolongan jika mereka berdoa pada-Nya. Di atas itu semua, Dia memandu manusia pada jalan yang lurus, “jalan yang diridhai-Nya. Menurut para mufasir, melalui wahyu pertama al-Qur'an (Al-'Alaq 96:1-5), Tuhan menunjukkan dirinya sebagai pengajar manusia. Tuhan mengajarkan manusia berbagai hal termasuk diantaranya konsep ketuhanan. Umat Muslim percaya al-Qur'an adalah kalam Allah, sehingga semua keterangan Allah dalam al-Qur'an merupakan penuturan Allah tentang diri-Nya .
Selain itu menurut Al-Qur'an sendiri, pengakuan akan Tuhan telah ada dalam diri manusia sejak manusia pertama kali diciptakan (Al-A'raf 7:172). Ketika masih dalam bentuk roh, dan sebelum dilahirkan ke bumi, Allah menguji keimanan manusia terhadap-Nya dan saat itu manusia mengiyakan Allah dan menjadi saksi. Sehingga menurut ulama, pengakuan tersebut menjadikan bawaan alamiah bahwa manusia memang sudah mengenal Tuhan. Seperti ketika manusia dalam kesulitan, otomatis akan ingat keberadaan Tuhan. Al-Qur'an menegaskan ini dalam surah Az-Zumar 39:8 dan surah Luqman 31:32.
b. Konsep Hadits
Dengan merujuk pada literatur-luteratur hadis, menjadi jelas bahwa pembahasan sifat Tuhan dalam hadis juga mengikuti langkah al-Quran. Dalam sebuah hadis dari Amirul Mukminin Ali Radhiallahu anhu dikatakan bahwa dalam tafsir ayat 110 surah Thaha, beliau bersabda, “Semua makhluk mustahil meliputi Tuhan dengan ilmu, karena Dia meletakkan tirai di atas mata hati, tak satupun pikiran yang mampu menjangkau dzat-Nya dan tak ada satu hatipun yang bisa menggambarkan batasan-Nya, oleh karena itu, jangan kalian menyifati-Nya kecuali dengan sifat-sifat yang diperkenalkan oleh-Nya, sebagaimana Dia berfirman, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.” Imam Ali pada awal perkataannya menjelaskan bahwa tak ada satupun makhluk yang meliputi dzat Tuhan. Secara lahiriah, maksud dari “meletakkan tirai pada mata hati” adalah keterbatasan pengenalan makhluk yang menyebabkan ketidakmampuannya meliputi dzat tak terbatas Tuhan. Imam Ali adalam kelanjutan tema ini menegaskan bahwa dalam menyifati Tuhan kita harus mencukupkan diri dengan menggunakan sifat-sifat yang telah Dia perkenalkan kepada kita.
Tuhan yang sejati adalah Tuhan yang kehadirannya sangat dibutuhkan justeru sebagai syarat keberadaan alam semesta. Karena menurut al Syaikh Al Akbar, Ibn Arabi (w. 1240), sedetik saja Ia menarik kehadiran-Nya di dunia ini, niscaya alam akan semesta akan hancur berkeping-keping. Ia lah Tuhan yang kehadiran-Nya sangat jelas, tetapi karena begitu jelasnya sehingga banyak dari kita justeru tidak dapat melihat-Nya. Sang matahari kebenaran begitu cemerlang dan menyilaukan sehingga mata-mata kelelawar tidak mampu menatapnya .
Suatu hari, Rasulullah ditanya oleh para sahabat, Ya Rasulullah, dimanakah Allah itu berada, dilangit atau dibumi?, Rasul menjawab “Allah bersemayam dihati hamba-hambanya yang berIman”. Sebenarnya Tuhan selalu berbicara kepada hamba-Nya setiap saat. Di mata-Nya tidak ada yang baik dan buruk. Semuanya adalah paket kehidupan yang tidak boleh dibuka berbeda. Akan tetapi dimata manusia, dihati manusia, apa yang tidak bisa sesuai dengan keinginannya adalah buruk dan apa yang sesuai dengan keinginannya adalah baik. Sesorang yang telah menemukan sinar-Nya hanya kebaikan atau hal-hal baik yang selalu dilihatnya, bahkan saat musbah datang pun dimatanya Tuhan sedang menyapanya. Kadang-kadang, Tuhan menemui hamba yang dicintai-Nya dengan cara memberi paket kesedihan, paket ketidak nyamanan, paket kekurangan bahkan mungkin paket kesedihan. Lalu Tuhan hanya melihat hamba yang dicinta-Nya mampu atau tidak melewati, memaknai, dan mensyukuri semua paket tersebut .
c. Teori ketuhanan
Paham ketuhanan yang beraneka penjelasan tersebut, berdasarkan teori atau pendekatan yang digunakan dapat dikelompokkan sebagai berikut:
Dalil Logik. Sesuatu yang tidak dapat dilihat atau kesan tidak semestinya tiada. Sekiranya kita tidak dapat melihat atau mengesan nyawa, tidak bererti nyawa itu tidak wujud. Sekiranya cetusan eletrik dalam otak diukur sebagi nyawa, komputer yang mempunyai prinsip yang sama masih tidak dianggap bernyawa.
Dalil Kesempurnaan. Tuhan adalah sempurna dari segala sifat kecacatan , dengan itu mengatakan Tuhan tidak mampu adalah salah, sebagai contoh "Adakah Tuhan itu berkuasa untuk mencipta satu batu yang terlalu berat, yang tidak mampu diangkat oleh dirinya sendiri?" menunjukkan keinginan meletakkan sifat manusia kepada Tuhan. Berat adalah hukum yang dicipta Tuhan, apa yang berat di bumi tidak bererti di angkasa. Berat tidak membawa apa-apa arti di alam ghaib.
Dalil Kosmologikal. Dari segi kosmologi, Tuhan seharusnya wujud sebagai puncak kepada kewujudan alam. Dengan premis "segala sesuatu itu berpuncak", maka adalah tidak masuk akal untuk mengatakan alam ini wujud tanpa mempunyai puncak, yakni Tuhan. Di alam ini semuanya tersusun dengan hukum-hukum yang tertentu dengan ketentuan Tuhan, yang mana dari segi sains pula dikenali sebagai hukum alam.
Dalil Antropofik. Kewujudan manusia dan fitrahnya untuk mengenal tuhan sudah membuktikan kewujudan Tuhan.
C. Manusia dalam Al Quran
Sudah merupakan pengetahuan umum dan baku dikalangan muslim bahwa manusia menurut kitab suci adalah puncak ciptaan Tuhan dan makhluknya yang tertinggi . Ibnu Sina mendefinisikan kesempurnaan manusia sebagai berikut, “Seorang yang memiliki ilmu yang telah sampai pada tingkatan kesucian, sehingga terlepas dari segala pengaruh materi dan keterikatan raganya. Dia berjalan dengan ikhlas ke alam tertinggi malakuti dan merasakan kelezatan-kelezatan yang lebih tinggi .”
Tahapan kejadian manusia :
1) Proses Kejadian Manusia Pertama (Adam)
Di dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Adam diciptakan oleh Allah dari tanah yang kering kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah sempurna maka oleh Allah ditiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya :
"Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah". (QS. As Sajdah (32) : 7)
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk". (QS. Al Hijr (15) : 26)
Disamping itu Allah juga menjelaskan secara rinci tentang penciptaan manusia pertama itu dalah surat Al Hijr ayat 28 dan 29 . Di dalam sebuah Hadits Rasulullah saw bersabda :
"Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah". (HR. Bukhari)
2) Proses Kejadian Manusia Kedua (Siti Hawa)
Pada dasarnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini selalu dalam keadaan berpasang-pasangan. Demikian halnya dengan manusia, Allah berkehendak menciptakan lawan jenisnya untuk dijadikan kawan hidup (isteri). Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam salah sati firman-Nya :
"Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui" (QS. Yaasiin (36) : 36)
Adapun proses kejadian manusia kedua ini oleh Allah dijelaskan di dalam surat An Nisaa’ ayat 1 yaitu :
"Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang sangat banyak..." (QS. An Nisaa’ (4) : 1)
3) Proses Kejadian Manusia Ketiga (semua keturunan Adam dan Hawa)
Kejadian manusia ketiga adalah kejadian semua keturunan Adam dan Hawa kecuali Nabi Isa a.s. Dalam proses ini disamping dapat ditinjau menurut Al Qur’an dan Al Hadits dapat pula ditinjau secara medis. Di dalam Al Qur’an proses kejadian manusia secara biologis dejelaskan secara terperinci melalui firman-Nya :
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kamudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah , Pencipta Yang Paling Baik." (QS. Al Mu’minuun (23) : 12-14).
Kemudian dalam salah satu hadits Rasulullah SAW bersabda :
"Telah bersabda Rasulullah SAW dan dialah yang benar dan dibenarkan. Sesungguhnya seorang diantara kamu dikumpulkannya pembentukannya (kejadiannya) dalam rahim ibunya (embrio) selama empat puluh hari. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan segumpal darah. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan sepotong daging. Kemudian diutuslah beberapa malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya (untuk menuliskan/menetapkan) empat kalimat (macam) : rezekinya, ajal (umurnya), amalnya, dan buruk baik (nasibnya)." (HR. Bukhari-Muslim)
Ungkapan ilmiah dari Al Qur’an dan Hadits 15 abad silam telah menjadi bahan penelitian bagi para ahli biologi untuk memperdalam ilmu tentang organ-organ jasad manusia. Selanjutnya yang dimaksud di dalam Al Qur’an dengan "saripati berasal dari tanah" sebagai substansi dasar kehidupan manusia adalah protein, sari-sari makanan yang kita makan yang semua berasal dan hidup dari tanah. Yang kemudian melalui proses metabolisme yang ada di dalam tubuh diantaranya menghasilkan hormon (sperma), kemudian hasil dari pernikahan (hubungan seksual), maka terjadilah pembauran antara sperma (lelaki) dan ovum (sel telur wanita) di dalam rahim. Kemudian berproses hingga mewujudkan bentuk manusia yang sempurna (seperti dijelaskan dalam ayat diatas).
Dari ungkapan Al Qur’an dan hadits banyak mengilhami para scientist (ilmuwan) sekarang untuk mengetahui perkembangan hidup manusia yang diawali dengan sel tunggal (zygote) yang terbentuk ketika ovum (sel kelamin betina) dibuahi oleh sperma (sel kelamin jantan). Kesemuanya itu belum diketahui oleh Spalanzani sampai dengan eksperimennya pada abad ke-18, demikian pula ide tentang perkembangan yang dihasilkan dari perencanaan genetik dari kromosom zygote belum ditemukan sampai akhir abad ke-19. Tetapi jauh sebelumnya Al Qur’an telah menegaskan dari nutfah Dia (Allah) menciptakannya dan kemudian (hadits menjelaskan bahwa Allah) menentukan sifat-sifat dan nasibnya .
Sebagai bukti yang konkrit di dalam penelitian ilmu genetika (janin) bahwa selama embriyo berada di dalam kandungan ada tiga selubung yang menutupinya yaitu dinding abdomen (perut) ibu, dinding uterus (rahim), dan lapisan tipis amichirionic (kegelapan di dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup/membungkus anak dalam rahim). Hal ini ternyata sangat cocok dengan apa yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Qur’an :
"...Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan (kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim)..." (QS. Az Zumar (39) : 6).
Manusia dengan makhluk Allah lainnya sangat berbeda apalagi manusia memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk yang lain salah satunya manusia diciptakan dengan sebaik-baik bentuk penciptaan namun kemuliaan manusia bukan terletak pada penciptaannya yang baik tetapi tergantung pada apakah dia bisa menjalankan tugas dan peran yang telah digariskan Allah atau tidak bila tidak maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka dengan segala kesengsaraannya . Allah SWT berfirman yang artinya “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yg sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yg serendah-rendahnya kecuali orang-orang yg beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka bagi mereka pahala yg tiada putus-putusnya”.
Al-Qur’an menegaskan kualitas dan nilai manusia dengan menggunakan tiga macam istilah yang satu sama lain saling berhubungan, yakni al-insaan, an-naas, al-basyar, dan banii Aadam . Manusia disebut al-insaan karena dia sering menjadi pelupa sehingga diperlukan teguran dan peringatan. Sedangkan kata an-naas (terambil dari kata an-naws yang berarti gerak; dan ada juga yang berpendapat bahwa ia berasal dari kata unaas yang berarti nampak) digunakan untuk menunjukkan sekelompok manusia baik dalam arti jenis manusia atau sekelompok tertentu dari manusia. Manusia disebut al-basyar, karena dia cenderung perasa dan emosional sehingga perlu disabarkan dan di damaikan. Manusia disebut sebagai banii Aadam karena dia menunjukkan pada asal-usul yang bermula dari nabi Adam as sehingga dia bisa tahu dan sadar akan jati dirinya. Misalnya, dari mana dia berasal, untuk apa dia hidup, dan ke mana ia akan kembali .
Dalam al Quran, manusia berulang-ulang kali diangkat derajatnya, berulang-ulang kali pula direndahkan, mereka dinobatkan jauh mengungguli alam surga, bumi dan para bahkan para malaikat, tetapi pada saat yang sama mereka bisa tiak lebih berarti dibandingkan dengan setan terkutuk dan binatang jahannam sekalipun. Manusia dihargai sebagai makhluk yang mampu menaklukkan alam, namun bisa juga mereka merosot menjadi yang paling rendah dari segala yang rendah. Oleh karena itu makhluk manusia sendiri yang harus menetapkan sikap dan menentukan nasib akhir mereka sendiri . Di dalam Al Quran Allah memperingatkan mereka dengan sebuah celaan;
... Manusia sangat benar-benar mengingkari nikmat. (QS. 22:66)
Ketahuilah sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. (QS. 96:6-7)
... Adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (QS. 17:16)
Apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada kami dalam keadaan berbaring atau berdiri tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu dari padanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. (QS. 10:12)
Ada realitas tunggal di seluruh dunia ini, yaitu pengetahuan tentang diri. Siapa yang mengenal dirinya akan mengenal pula Tuhan dan segala ciptaan-Nya. Siapa yang tidak punya pengetahuan semacam itu, ia tidak mempunyai pengetahuan apapun. Di dunia ini hanya ada satu kekuatan, satu jenis kemerdekaan dan satu bentuk keadilan yaitu kuasa untuk mengendalikan diri. Siapa yang mampu menguasai dirinya akan mampu menguasai dunia. Hanya ada satu bentuk kebaikan di dunia, yaitu mencintai orang lain sebagimana mencintai dirinya sendiri. Dengan kata lain menghargai orang lain sebagaimana menghargai diri kita sendiri. Diluar itu, yang ada hanyalah ilusi dan kehampaan semata.
(Kritik yang disampaikan oleh Mahatma Gandhi [1869-1948] dalam bukunya my Religion).
a. Fithrah Manusia :
1. Manusia adalah makhluk utama, yaitu diantara semua makhluk natural dan supranatural, manusia mempunyai jiwa bebas dan hakikat hakikat yang mulia.
2. Manusia adalah makhluk yang sadar diri. Ini berarti bahwa ia adalah satu-satuna makhluk hidup yang mempunyai pengetahuan atas kehadirannya sendiri ; ia mampu mempelajari, manganalisis, mengetahui dan menilai dirinya.
3. Manusia adalah makhluk kreatif . Aspek kreatif tingkah lakunya ini memisahkan dirinya secara keseluruhan dari alam, dan menempatkannya di samping Tuhan. Hal ini menyebabkan manusia memiliki kekuatan ajaib-semu quasi-miracolous yang memberinya kemampuan untuk melewati parameter alami dari eksistensi dirinya, memberinya perluasan dan kedalaman eksistensial yang tak terbatas, dan menempatkannya pada suatu posisi untuk menikmati apa yg belum diberikan alam.
4. Manusia adalah makhluk idealis, pemuja yang ideal. Dengan ini berarti ia tidak pernah puas dengan apa yang ada, tetapi berjuang untuk mengubahnya menjadi apa yg seharusnya. Idealisme adalah faktor utama dalam pergerakan dan evolusi manusia. Idealisme tidak memberikan kesempatan untuk puas di dalam pagar-pagar kokoh realita yg ada. Kekuatan inilah yg selalu memaksa manusia untuk merenung, menemukan, menyelidiki, mewujudkan, membuat dan mencipta dalam alam jasmaniah dan ruhaniah.
5. Manusia adalah makhluk moral. Di sinilah timbul pertanyaan penting mengenai nilai. Nilai terdiri dari ikatan yg ada antara manusia dan setiap gejala, perilaku, perbuatan atau dimana suatu motif yg lebih tinggi daripada motif manfaat timbul. Ikatan ini mungkin dapat disebut ikatan suci, karena ia dihormati dan dipuja begitu rupa sehingga orang merasa rela untuk membaktikan atau mengorbankan kehidupan mereka demi ikatan ini .
b. Tujuan Penciptaan Manusia
Allah SWT berfirman dalam surat Ad-dzariyat 56: ”Allah tidak menciptakan manusia kecuali untuk mengabdi kepadanya” mengabdi dalam jalan ibadah dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya seperti tercantum dalam Al-qur’an. Kisah tentang manusia ini bermula dari penciptaan Adam, bapak semua manusia. Di sini saya tidak akan membahas kaitan teori evolusi dengan penciptaan Adam. Teks al Quran hanya menceritakan bahwa adam adalah manusia pertama yang menurunkan manusia-manusia sesudahnya. Ia juga mengisyaratkan Allah telah menciptakan manusia dalam beberapa fase-fase kejadian. Berpedoman kepada QS Al Baqoroh: 30-36, maka peran yang dilakukan adalah sebagai pelaku ajaran Allah dan sekaligus pelopor dalam membudayakan ajaran Allah. Untuk menjadi pelaku ajaran Allah, apalagi menjadi pelopor pembudayaan ajaran Allah, seseorang dituntut memulai dari diri dan keluarganya, baru setelah itu kepada orang lain.
Manusia diserahi tugas hidup yang merupakan amanat Allah dan harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Tugas hidup yang dipikul manusia di muka bumi adalah tugas kekhalifaan, yaitu tugas kepemimpinan , wakil Allah di muka bumi, serta pengelolaan dan pemeliharaan alam. Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang mandat Tuhan untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan kepada manusia bersifat kreatif, yang memungkinkan dirinya serta mendayagunakan apa yang ada di muka bumi untuk kepentingan hidupnya.
Sebagai khalifah, manusia diberi wewenang berupa kebebasan memilih dan menentukan, sehingga kebebasannya melahirkan kreatifitas yang dinamis, inilah kajian filsafat yang paling menonjol dikalangan sejarah pemikiran Islam . Kebebasan manusia sebagai khalifah bertumpu pada landasan tauhidullah, sehingga kebebasan yang dimiliki tidak menjadikan manusia bertindak sewenang-wenang. Kekuasaan manusia sebagai wakil Tuhan dibatasi oleh aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh yang diwakilinya, yaitu hukum-hukum Tuhan baik yang baik yang tertulis dalam kitab suci (al-Qur’an), maupun yang tersirat dalam kandungan alam semesta (al-kaun). Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang diwakili adalah wakil yang mengingkari kedudukan dan peranannya, serta mengkhianati kepercayaan yang diwakilinya. Oleh karena itu, ia diminta pertanggungjawaban terhadap penggunaan kewenangannya di hadapan yang diwakilinya, sebagaimana firman Allah dalam QS 35 (Faathir : 39) yang artinya adalah: “Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah dimuka bumi. Barang siapa yang kafir, maka (akibat) kekafiran orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka”.
Kedudukan manusia di muka bumi sebagai khalifah dan juga sebagai hamba Allah, bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan suatu kesatuan yang padu dan tidak terpisahkan. Kekhalifahan adalah realisasi dari pengabdian kepada Allah yang menciptakannya. Dua sisi tugas dan tanggung jawab ini tertata dalam diri setiap muslim sedemikian rupa. Apabila terjadi ketidakseimbangan, maka akan lahir sifat-sifat tertentu yang menyebabkan derajat manusia meluncur jatuh ketingkat yang paling rendah, seperti fiman-Nya dalam QS (at-tiin: 4)
c. Keutamanan Manusia
Ditinjau dari ukuran fisik dan kekuatan lahiriah manusia itu makhluk yang kecil dan lemah. Tetapi dari segi psikis dan potensi internal yang tersimpan dalam dirinya, tak bisa diingkari bahwa manusia adalah makhluk pilihan . Bahkan dari segi tubuhnya yang serba lengkap itu saja telah menjadi miniatur alam raya ini. Tepat sekali apa yang dikatakan oleh seorang penyair :
“Obatmu ada dalam dirimu, tetapi kamu tidak melihatnya
Penyakitmu ada didalam dirimu tetapi kamu tidak menyadarinya.
Kamu menyangka dirimu materi yang mungil
Padahal di dalam dirimu terangkum alam yang besar”.
Sebagaimana pengakuan agama-agama pada umumnya dan Islam pada khususnya mengenai kemuliaan manusia, al Quran menyebut perihal manusia dalam beratus-ratus ayat. Bahkan sejak dari lima ayat pertama yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, al Quran telah menyebutkan perihal manusia. “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajrakan manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. 96.1-5)
D. Antara Manusia Dengan Tuhan
Jika kita mengajukan pertanyaan “apakah yang menjadi perhatian utama dalam kehidupan manusia?” salah satu jawaban yang pasti akan kita terima adalah Kebahagiaan. Mazhab etika hedonis menarik kesimpulan tentang seluruh kehidupan etis dari pengalaman kebahagiaan dan penderitaan yang datang dari berbagai tindakan akan tetapi kita tidak perlu melangkah lebih jauh dengan aliran ini, akan tetapi harus kita akui bahwa kenikmatan yang langgeng adalah ketika bisa merasakan kehadiran Tuhan dan mendapatkan pengalaman spritual yang tidak bisa dihargakan .
Tuhan tidak memerlukan manusia, tetapi justeru manusialah yang membutuhkan kehadiran Tuhan demi kemanusiaannya sendiri. Apresiasi yang sejati terhadap nilai Ketuhanan dengan sendirinya menghasilkan apresiasi sejati terhadap nilai kemanusiaan. Ketuhanan tanpa kemanusiaan dikutuk oleh Tuhan dan kemanusiaan tanpa Ketuhanan adalah bagaikan fatamorgana . Seluruh ibadah dalam Islam mempunyai tujuan untuk membina hubungan kita dengan Allah, hubungan itu akan menjadi intensif kalau kita menghayati Tuhan melalui nama-nama-Nya atau sifat-sifat-Nya yang baik. Allah kita hadirkan dalam bentuk kualitas-kualitas agar ditransfer kedalam diri kita, sehingga kita akan mengalami pengembangan pribadi yang sempurna. Maka sebetulnya menghayati Tuhan melalui sifat-Nya yang maha kasih itu saja dengan segala pengertiannya yang luas sudah cukup. Diharapkan bahwa kualitas-kualitas seperti itu kemudian ditransfer kedalam diri kita sehingga menjadi bagian dari bahan untuk mengembangkan kepribadian kita. Inilah akhlak Ilahi. Moralitas ketuhanan.
Dari sini kita mengenal istilah yang memperkaya kebudayaan kita sendiri yaitu “manusia seutuhnya”. Manusia akan utuh hanya bila dia mencerminkan sifat-sifat Ilahi dalam dirinya, bila dia memenuhi perintah Allah. Sebaliknya bagi orang yang lupa kepada Tuhan maka dia tidak akan mungkin akan menjadi manusia yang integral, manusia yang utuh. Allah memeperingatkan dalam al Quran “Dan Janganlah seperti mereka yang melupakan Allah, dan Allah akan memebuat mereka lupa akan dirinya sendiri” (Q. 59:19). Artinya kita akan kehilangan makna hidup, kehilangan tujuan hidup dan integritas kepribadian sehingga kita tidak akan mempunyai harapan karena sejatinya kita dapat bertahan hidup adalah karena Allah yang dilukiskan sebagai al Shamad.
Tidak ada satu ibadah pun yang diwajibkan oleh Tuhan melainkan ia menjadi perantara serta cara untuk mensucikan jiwa orang mukmin dan meningkatkan derajat ruhnya. Namun sangat sedikit energi yang dikeluarkan untuk beribadah itu jika dibandingkan dengan kebaikan yang didapatkan dibalik ibadah yang dilakukan tersebut. Dan tidak ada satu perkara pun yang diharamkan oleh agama untuk dikerjakan manusia, melainkan ia menjadi pemelihara bagi akal, jiwa, akhlak, harta, kehormatan dan keturunannya.
Ketika agama mengharamkan sesuatu bagi manusia, secara konsisten ia pasti menyediakan pengganti yang lebih baik yang tak mendatangkan kerusakan sebagaimana yang diharamkan itu. Dengan demikian seorang hamba/manusia tidak akan merugi dengan beribadah kepada Allah dan memelihara diri dari perkara yang diharamkan. Justeru ia akan mendapatkan keberuntungan dan kebaikan serta mampu menguasai hawa nafsu. Dia pun akan mendapatkan bentuk keberuntungan yang lain yakni jiwa yang tenang dan kehidupan yang damai . Berdasarkan analisis atas kesadaran yang baru saja kita suguhkan, kita berhak mengajukan sebuah pertanyaan, jika benar bahwa diri dengan realitas ontologisnya sendiri selalu hadir di dalam Tuhan maka Tuhan pun akan selalu hadir di dalam diri . Hidup ini bukanlah lingkaran tertutup yang tanpa ujung pangkal, ia berpangkal dari sesuatu dan berujung kepada sesuatu yaitu Tuhan pemberi kehidupan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Al quran biasa didefinisikan sebagai firman-firman Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril sesuai redaksiNya kepada nabi Muhammad SAW dan diterima oleh umat Islam secara Mutawatir. Al quran adalah sumber ajaran Islam, kitab suci ini seperti disebutkan diatas menempati posisi sentral, bukan saja dalam perkembangan dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman akan tetapi pemadu gerakan umat Islam.
Tuhan dalam Islam tidak hanya Maha Agung dan Maha Kuasa, namun juga Tuhan yang personal. Menurut al-Qur'an, Dia lebih dekat pada manusia daripada urat nadi manusia. Dia menjawab bagi yang membutuhkan dan memohon pertolongan jika mereka berdoa pada-Nya. Di atas itu semua, Dia memandu manusia pada jalan yang lurus, “jalan yang diridhai-Nya. Menurut para mufasir, melalui wahyu pertama al-Qur'an (Al-'Alaq 96:1-5), Tuhan menunjukkan dirinya sebagai pengajar manusia. Tuhan mengajarkan manusia berbagai hal termasuk diantaranya konsep ketuhanan. Umat Muslim percaya al-Qur'an adalah kalam Allah, sehingga semua keterangan Allah dalam al-Qur'an merupakan penuturan Allah tentang diri-Nya.
Manusia adalah mahluk Allah yang paling mulia,di dalam Al-qur’an banyak sekali ayat-ayat Allah yang memuliakan manusia dibandingkan dengan mahluk yang lainnya.Dan dengan adanya ciri-ciri dan sifat-sifat utama yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia menjadikannya makhluk yang terpilih diantara lainnya memegang gelar sebagai khalifah di muka bumi untuk dapat meneruskan,melestarikan,dan memanfaatkan segala apa yang telah Allah ciptakan di alam ini dengan sebaik-baiknya.
Tugas utama manusia adalah beribadah kepada Allah SWT.Semua ibadah yang kita lakukan dengan bentuk beraneka ragam itu akan kembali kepada kita dan bukan untuk siapa-siapa.Patuh kepada Allah SWT, menjadi khalifah,melaksanakan ibadah,dan hal-hal lainnya dari hal besar sampai hal kecil yang termasuk ibadah adalah bukan sesuatu yang ringan yang bisa dikerjakan dengan cara bermain-main terlebih apabila seseorang sampai mengingkarinya.
Daftar Pustaka
Achmad Muchaddam Fahham, Tuhan Dalam Filsafat Allamah Thabathaba’i, Teraju, Bandung, Cet I, Juli 2004
Adi Suryadi Culla, Masyarakat Madani, PT Raja Grapindo, Jakarta, 1999
Aisyah Abdurrahman, Manusia Sensivitas Hermeneutika Al Quran, LKPSM, Yogyakarta, Januari 1997
Budhy Munawar Rachman, Penyunting, Ensiklopedi Nurchalish Madjid “Pemikiran Islam di Kampas Peradaban”, Mizan, Jakarta, Cet I
http://www.f-adikusumo.staff.ugm.ac.id/artikel/manusia1.html
Ian G. Barbour, Natur, Human Natur, and God, “Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporer dan Agama, terj Fransiskus Borgias, Mizan, Bandung, 2005
Ilyas Ismail, HIKMAH, “Mewariskan Kebaikan, Harian Republika, Rabu, 1 Desember 2010
Mehdi Ha’iri Yazdi, The Principles of Epistemology in Islamic Philosophy, Terj. Ahsin Muhammad, Epistimologis Iluminasionis dalam Filsafat Islam, Mizan, Bandung, Agustus 2003, hal 270
Muhammad Yasir Nasution, Manusia Menurut Al Ghazali, PT. Raja Grapindo Persada, Jakarta, Juni 1999
Murtadha Mutahhari, Perspektif Al Quran tentang Manusia dan Agama, Mizan, Bandung, Pebruari, 1989/Rajab 1409
¬¬¬-------- Al Adly al Ilahy, Terj. Agus Efendi, Keadilan Ilahi, Mizan, Pebruari 2009
Nadim al Jisr, Qishshas al Iman Bayn al Falsafah wa al Ilm wa al Quran, Terj. Mochtar Zoerni, Para Pencari Tuhan, Pustaka Hidayah, Bandung, 1998
Nanang Qosim Yusuf, The 7 Awareness, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2009
Nurchalish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, “Sebuah Telaah Kritis Tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan”, Yayasan Wakaf Paramadina, Jakarta, Cet ke IV, September 2000
Quraish Shihab, Membumikan Al Quran, Mizan, Bandung, Maret 1999
Shehab Magdy, dkk, Al I’jaz al Ilmi fi Alquran wa Sunnah, Terj. Masyah Syarif Hade , Ensiklopedia Mukjizat Al Quran dan Hadits, “ Kemukjizatan Penciptaan Manusia” Sapta Pesona, Bekasi, Indonesia, 2008
Suyoto (Abu Ashfa), Andai Tuhan Komersial, Aditya Media, Yogyakarta, November 2003
William James, The Variates of Religious Experience, United States of America by Longman, USA , 1902
Yasin T al Jibouri, The Concept of God in Islam, “Konsep Tuhan Menurut Islam”, Ansariyan Publications, Qum, Iran, 1418 H/1997
Yusuf Qardhawi, Al Iman wal Hayat, Merasakan Kehadiran Tuhan, Terj, Jazirotul Islamiyah, Mitra Pustaka, Yogyakarta, Mei 2000
PENDAHULUAN
Orientalis H.A.R. Gibb pernah menulis bahwa: "Tidak ada seorang pun dalam seribu lima ratus tahun ini telah memainkan 'alat' bernada nyaring yang demikian mampu dan berani, dan demikian luas getaran jiwa yang diakibatkannya, seperti yang dibaca Muhammad (Al-Quran)." Demikian terpadu dalam Al-Quran keindahan bahasa, ketelitian, dan keseimbangannya, dengan kedalaman makna, kekayaan dan kebenarannya, serta kemudahan pemahaman dan kehebatan kesan yang ditimbulkannya.
Tiada bacaan seperti Al-Quran yang dipelajari bukan hanya susunan redaksi dan pemilihan kosakatanya, tetapi juga kandungannya yang tersurat, tersirat bahkan sampai kepada kesan yang ditimbulkannya. Semua dituangkan dalam jutaan jilid buku, generasi demi generasi. Kemudian apa yang dituangkan dari sumber yang tak pernah kering itu, berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kemampuan dan kecenderungan mereka, namun semua mengandung hikmah. Al-Quran layaknya sebuah permata yang memancarkan cahaya yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang masing-masing.
Penyebaran Islam melalui kitab ini merupakan kebutuhan mutlak generasi muslim awal hingga sekarang, kini nabi sudah tidak lagi hadir di tengah-tengah kita untuk ditanya atau dirujuk langsung, sementara Sunnah beliau sudah demikian mengalami perubahan, pengurangan, distorsi, sudah diadaptasi untuk kepentingan selera rendah. karena itu sekarang ini sulit sekali menemukan kebenaran hakiki ditengah simpang siurnya beragam pandangan dan interpretasi. Perlu ada upaya keras untuk mendapatkan pengetahuan tentang kebenaran. Kebenaran bukanlah sesuatu yang siap santap. Harus ada upaya keras untuk mendapatkannya. Untuk itulah kiranya kita harus bisa memahami konteks yang lalu untuk kita jadikan sebuah pegangan dan rahmat dengan menariknya kepada sebuah pemahaman dan konsep yang bersifat universal shalih likulli zaman wa al makan .
Dalam al Quran seperti yang disebutkan diatas memberikan bermacam ragam pendidikan bagi makhluk yang kemudian menjadi dasar untuk keutuhan hidup dan kehidupan memberikan garansi yang layak bagi hamba-hamba yang beriman, didalamnya termaktub tentang bagaimana sesungguhnya konsep Tuhan berdiri atas kekuasaannya, maha atas segalanya dan raja diatas segala raja.
Sungguh indah ilustrasi yang dikemukakan oleh ulama besar dan philosof muslim kontemporer Abdulkarim Alkhatib menyangkut fenomena ketuhanan. Dalam bukunya “Qadiyat Al-Uluihiyah Bainal Falsafah Wad Din”" Dia menulis lebih kurang sperti berikut: “Yang melihat/ Mengenal Tuhan, pada hakekatnya hanya melihat-Nya melalui wujud yang terhampar di bumi serta yang terbentang di langit. Yang demikian itu adalah penglihatan tidak langsung serta memerlukan pandangan hati yang tajam, akal yang cerdas lagi kalbu yang bersih.
Pada zaman Darwin, evolusi merupakan tantangan terhadap pemahaman tradisional ihwal status umat manusia. Sejak saat itu, banyak disiflin ilmiah mengumpulkan berbagai bukti akan kenyataan bahwa manusia merupakan keturunan leluhur pramanusia. Dari biologi molekuler dewasa ini, kita mengetahui bahwa simpanse dan manusia memiliki sekitar 99 persen DNA yang sama, walaupun tentu saja satu persen yang berbeda itu sangatlah penting . Jadi perlu disimpulkan bahwa manusia secara utuh bukanlah kera dan bukan juga bermetamorposis dari kera, karena ini tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Jadi untuk lebih memanusiakan manusia kita akan melihat bagaimana Al quran menggambarkan manusia. Segala upaya manusia disepanjang hidupnya disamping karena kecintaan kepada dirinya sendiri juga dimotivasi oleh kecenderungan esensialnya kepada kesempurnaan dan kebahagiaan, oleh karena al Quran adalah Inspirasi yang akan menjadikan hidup lebih bermakna maka di dalamnya akan kita jumpai sebuah konsep yang juga membicarakan tentang manusia, bentuk penghambaan yang paling manusiawi, sebuah gerbang pencerahan menuju insan yang sempurna “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yg sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yg serendah-rendahnya kecuali orang-orang yg beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka bagi mereka pahala yg tiada putus-putusnya”. Manusia adalah mahluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah SWT. Kesempurnaan yang dimiliki oleh manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka, Manusia dalam pandangan al-Qur’an bukanlah makhluk anthropomorfisme yaitu makhluk penjasadan Tuhan, atau mengubah Tuhan menjadi manusia. Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai makhluk theomorfis yang memiliki sesuatu yang agung di dalam dirinya. Disamping itu manusia dianugerahi akal yang memungkinkan dia dapat membedakan nilai baik dan buruk, sehingga membawa dia pada sebuah kualitas tertinggi sebagai manusia takwa akan tetapi tidak menutup suatu kemungkinan bahwa penghambaan seorang manusia berubah kepada penghambaan terhadap sesuatu hal selain kepada Tuhan yang menciptakannya.
Maka adapun pokok-pokok permasalahan dalam makalah ini adalah :
1. Seperti apakah Alquran menjadi Inspirasi universal.
2. Bagaimana Al quran memperkenalkan Tuhan sebagai Ilah yang Maha atas segalanya.
3. Apakah Hakikat Penciptaan Manusia.
4. Bagaimanakah Hubungan Manusia dengan Tuhan
Sebagai rumusan masalah sehingga tidak melebar dari pokok permasalahan maka penulis menyampaikan pembahasan secara khusus adalah “ Al Quran tentang Tuhan dan Manusia”.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Universal Al Quran
Di antara ayat-ayat-Nya, Allah Swt berfirman, “Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menumbuhkan dengan hujan itu segala jenis buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Oleh karena itu, janganlah kamu menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”[1] “Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu. Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah dari sebagian rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”[2] “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”[3]
Sungguh, ayat-ayat Al-Quran merupakan serat yang membentuk tenunan kehidupan Muslim, serta benang yang menjadi rajutan jiwanya. Karena itu seringkali pada saat Al-Quran berbicara tentang satu persoalan menyangkut satu dimensi atau aspek tertentu, tiba-tiba ayat lain muncul berbicara tentang aspek atau dimensi lain yang secara sepintas terkesan tidak saling berkaitan. Tetapi bagi orang yang tekun mempelajarinya akan menemukan keserasian hubungan yang amat mengagumkan, sama dengan keserasian hubungan yang memadukan gejolak dan bisikan-bisikan hati manusia, sehingga pada akhirnya dimensi atau aspek yang tadinya terkesan kacau, menjadi terangkai dan terpadu indah, bagai kalung mutiara yang tidak diketahui di mana ujung pangkalnya.
Al quran biasa didefinisikan sebagai firman-firman Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril sesuai redaksiNya kepada nabi Muhammad SAW dan diterima oleh umat Islam secara Mutawatir . Al quran adalah sumber ajaran Islam, kitab suci ini seperti disebutkan diatas menempati posisi sentral, bukan saja dalam perkembangan dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman akan tetapi pemadu gerakan umat Islam. Dari mata rantai sejarah yang tersusun disepanjang kehidupan manusia sudah banyak hal yang dapat teruji dari kebenaran kitab suci ini, mulai dari sistem yang menyangkut kajian sejarah, antropologi, science dan kedokteran yang awalnya ditolak secara mentah oleh mereka yang enggan dengan kebenaran Ilahi.
"Mengapa mereka tidak mendalami Al-Quran, kalau sekiranya itu bukan dari sisi Allah tentulah mereka dapati banyak pertentangan di dalamnya" (QS. 4 An Nisaa 82).
Tidak dapat disangkal oleh siapapun yang memiliki obyektifitas bahwa kitab suci Al quran memiliki keistimewaan-keistimewaan. Keistimewaan tersebut diakui oleh kawan dan lawan sejak dahulu hingga kini.
B. Al Quran Membicarakan Tuhan
Dalam semua agama Tuhan merupakan personal God atau Tuhan berpribadi, dan karena itu dia masuk dalam ruang dan waktu. Hanya saja, kalau berhenti disitu Tuhan menjadi antropomorfis, menjadi manusia dan itu mengakibatkan syirik dan berseberangan dengan konsep sebuah agama yakni Islam. Dalam agama yang mempercayai eksistensi Tuhan, konsep tentang Tuhan menjadi inti dari seluruh keyakinan, ajaran dan praktiknya. Konsep tentang Tuhan juga memberikan batas-batas apa yang boleh dan apa yang tidak boleh bagi pemeluk agama yang mempercayai eksistensi Tuhan itu. Tiap agama biasanya memiliki kitab suci berisi ayat-ayat Tuhan. Ayat-ayat tersebut adalah petunjuk dalam mengarungi samudera hayat yang penuh ketidakjelasan. Allah SWT adalah pemilik mutlak segala sesuatu. Dia tidak memiliki sekutu dalam kepemilikan-Nya. Karena itu, dengan sebenar-benarnya tanpa basa-basi, “Dialah yang memiliki kerajaan dan Dialah yang memiliki segala puji, dan kepadan-Nyalah segala urusan dikembalikan” . Alam ini adalah sesuatu yang relatif. Ia butuh terhadap sesuatu yang menjadi sebab kemunculannya, karena eksistensinya tidak terjadi dengan dengan sendirinya, dengan demikian didalam menetapkan eksistensi pertama kita tidak perlu merenungkan sesuatu selain Allah itu sendiri. Didalam pembuktian eksistensi-Nya kita tidak memerlukan satu makhluk-Nya. Meskipun keberadaan makhluk merupakan dalil bagi eksistensi-Nya, namun pembuktian pertama adalah lebh kuat dan lebih agung .
Di dalam al asmaul husna digunakan sifat-sifat yang seolah-olah paradoks: ada Ghafur, Wadud, Rahim, Rahman, dan sebagainya yang semuanya itu sebetulnya meminjam bahasa manusia. Pada saat bersamaan juga disebutkan sifat-sifat Tuhan yang sebaliknya, yaitu, Jabbar, Mutakabbir, Muntaqim, dan sebagainya . Digambarkan demikian, karena kalau Tuhan hanya digambarkan bersifat lunak manusia akan meremehkan Tuhan, dan itu mempunyai efek terhadap melemahnya etika dan moral. Sebaliknya, kalau Tuhan juga dipahami hanya serba keras, juga akan mempengaruhi sikap manusia, sebagaimana dinyatakan dalam psikologi agama . Artinya kita juga akan serbakeras. Orang Islam sekarang ini tampaknya memahami Tuhan sebagai hakim, sehingga tidak heran sikaf orang Islam cenderung menghakimi segala sesuatu atas nama Tuhan . Meskipun Tuhan digambarkan dengan ilustrasi-ilustrasi seperti manusia yang bisa marah, senang, ridha, dan sebagainya, ada juga pernyataan dalam surat al Ikhlas bahwa Dan tidak ada apapun seperti Dia (Q.112:4) selain kitab suci, Tuhan menabur ayat-ayatnya di tiap titik alam semesta. Bagi manusia yang mengunakan akalnya, ayat-ayat Tuhan tersingkap jelas di sekitarnya. Baik dalam diri manusia sendiri maupun isi langit dan bumi. Tentu jumlahnya lebih banyak dari ayat dalam al-Qur’an karena sesungguhnya Tuhan yakni Allah SWT memperkenalkan dirinya sebagai pribadi yang maha atas segala kemahaan alam semesta baik yang physic dan metaphysic.
Konsep ketuhanan berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits
a. Konsep Al Quran
Dalam konsep Islam, Tuhan diyakini sebagai Zat Maha Tinggi Yang Nyata dan Esa, Pencipta Yang Maha Kuat dan Maha Tahu, Yang Abadi, Penentu Takdir, dan Hakim bagi semesta alam. Islam menitik beratkan konseptualisasi Tuhan sebagai Yang Tunggal dan Maha Kuasa. Dia itu wahid dan Esa (ahad), Maha Pengasih dan Maha Kuasa. Menurut ajaran Islam, Tuhan muncul dimana pun tanpa harus menjelma dalam bentuk apa pun Menurut al-Qur'an, "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS al-An'am 6:103)
Tuhan dalam Islam tidak hanya Maha Agung dan Maha Kuasa, namun juga Tuhan yang personal. Menurut al-Qur'an, Dia lebih dekat pada manusia daripada urat nadi manusia. Dia menjawab bagi yang membutuhkan dan memohon pertolongan jika mereka berdoa pada-Nya. Di atas itu semua, Dia memandu manusia pada jalan yang lurus, “jalan yang diridhai-Nya. Menurut para mufasir, melalui wahyu pertama al-Qur'an (Al-'Alaq 96:1-5), Tuhan menunjukkan dirinya sebagai pengajar manusia. Tuhan mengajarkan manusia berbagai hal termasuk diantaranya konsep ketuhanan. Umat Muslim percaya al-Qur'an adalah kalam Allah, sehingga semua keterangan Allah dalam al-Qur'an merupakan penuturan Allah tentang diri-Nya .
Selain itu menurut Al-Qur'an sendiri, pengakuan akan Tuhan telah ada dalam diri manusia sejak manusia pertama kali diciptakan (Al-A'raf 7:172). Ketika masih dalam bentuk roh, dan sebelum dilahirkan ke bumi, Allah menguji keimanan manusia terhadap-Nya dan saat itu manusia mengiyakan Allah dan menjadi saksi. Sehingga menurut ulama, pengakuan tersebut menjadikan bawaan alamiah bahwa manusia memang sudah mengenal Tuhan. Seperti ketika manusia dalam kesulitan, otomatis akan ingat keberadaan Tuhan. Al-Qur'an menegaskan ini dalam surah Az-Zumar 39:8 dan surah Luqman 31:32.
b. Konsep Hadits
Dengan merujuk pada literatur-luteratur hadis, menjadi jelas bahwa pembahasan sifat Tuhan dalam hadis juga mengikuti langkah al-Quran. Dalam sebuah hadis dari Amirul Mukminin Ali Radhiallahu anhu dikatakan bahwa dalam tafsir ayat 110 surah Thaha, beliau bersabda, “Semua makhluk mustahil meliputi Tuhan dengan ilmu, karena Dia meletakkan tirai di atas mata hati, tak satupun pikiran yang mampu menjangkau dzat-Nya dan tak ada satu hatipun yang bisa menggambarkan batasan-Nya, oleh karena itu, jangan kalian menyifati-Nya kecuali dengan sifat-sifat yang diperkenalkan oleh-Nya, sebagaimana Dia berfirman, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.” Imam Ali pada awal perkataannya menjelaskan bahwa tak ada satupun makhluk yang meliputi dzat Tuhan. Secara lahiriah, maksud dari “meletakkan tirai pada mata hati” adalah keterbatasan pengenalan makhluk yang menyebabkan ketidakmampuannya meliputi dzat tak terbatas Tuhan. Imam Ali adalam kelanjutan tema ini menegaskan bahwa dalam menyifati Tuhan kita harus mencukupkan diri dengan menggunakan sifat-sifat yang telah Dia perkenalkan kepada kita.
Tuhan yang sejati adalah Tuhan yang kehadirannya sangat dibutuhkan justeru sebagai syarat keberadaan alam semesta. Karena menurut al Syaikh Al Akbar, Ibn Arabi (w. 1240), sedetik saja Ia menarik kehadiran-Nya di dunia ini, niscaya alam akan semesta akan hancur berkeping-keping. Ia lah Tuhan yang kehadiran-Nya sangat jelas, tetapi karena begitu jelasnya sehingga banyak dari kita justeru tidak dapat melihat-Nya. Sang matahari kebenaran begitu cemerlang dan menyilaukan sehingga mata-mata kelelawar tidak mampu menatapnya .
Suatu hari, Rasulullah ditanya oleh para sahabat, Ya Rasulullah, dimanakah Allah itu berada, dilangit atau dibumi?, Rasul menjawab “Allah bersemayam dihati hamba-hambanya yang berIman”. Sebenarnya Tuhan selalu berbicara kepada hamba-Nya setiap saat. Di mata-Nya tidak ada yang baik dan buruk. Semuanya adalah paket kehidupan yang tidak boleh dibuka berbeda. Akan tetapi dimata manusia, dihati manusia, apa yang tidak bisa sesuai dengan keinginannya adalah buruk dan apa yang sesuai dengan keinginannya adalah baik. Sesorang yang telah menemukan sinar-Nya hanya kebaikan atau hal-hal baik yang selalu dilihatnya, bahkan saat musbah datang pun dimatanya Tuhan sedang menyapanya. Kadang-kadang, Tuhan menemui hamba yang dicintai-Nya dengan cara memberi paket kesedihan, paket ketidak nyamanan, paket kekurangan bahkan mungkin paket kesedihan. Lalu Tuhan hanya melihat hamba yang dicinta-Nya mampu atau tidak melewati, memaknai, dan mensyukuri semua paket tersebut .
c. Teori ketuhanan
Paham ketuhanan yang beraneka penjelasan tersebut, berdasarkan teori atau pendekatan yang digunakan dapat dikelompokkan sebagai berikut:
Dalil Logik. Sesuatu yang tidak dapat dilihat atau kesan tidak semestinya tiada. Sekiranya kita tidak dapat melihat atau mengesan nyawa, tidak bererti nyawa itu tidak wujud. Sekiranya cetusan eletrik dalam otak diukur sebagi nyawa, komputer yang mempunyai prinsip yang sama masih tidak dianggap bernyawa.
Dalil Kesempurnaan. Tuhan adalah sempurna dari segala sifat kecacatan , dengan itu mengatakan Tuhan tidak mampu adalah salah, sebagai contoh "Adakah Tuhan itu berkuasa untuk mencipta satu batu yang terlalu berat, yang tidak mampu diangkat oleh dirinya sendiri?" menunjukkan keinginan meletakkan sifat manusia kepada Tuhan. Berat adalah hukum yang dicipta Tuhan, apa yang berat di bumi tidak bererti di angkasa. Berat tidak membawa apa-apa arti di alam ghaib.
Dalil Kosmologikal. Dari segi kosmologi, Tuhan seharusnya wujud sebagai puncak kepada kewujudan alam. Dengan premis "segala sesuatu itu berpuncak", maka adalah tidak masuk akal untuk mengatakan alam ini wujud tanpa mempunyai puncak, yakni Tuhan. Di alam ini semuanya tersusun dengan hukum-hukum yang tertentu dengan ketentuan Tuhan, yang mana dari segi sains pula dikenali sebagai hukum alam.
Dalil Antropofik. Kewujudan manusia dan fitrahnya untuk mengenal tuhan sudah membuktikan kewujudan Tuhan.
C. Manusia dalam Al Quran
Sudah merupakan pengetahuan umum dan baku dikalangan muslim bahwa manusia menurut kitab suci adalah puncak ciptaan Tuhan dan makhluknya yang tertinggi . Ibnu Sina mendefinisikan kesempurnaan manusia sebagai berikut, “Seorang yang memiliki ilmu yang telah sampai pada tingkatan kesucian, sehingga terlepas dari segala pengaruh materi dan keterikatan raganya. Dia berjalan dengan ikhlas ke alam tertinggi malakuti dan merasakan kelezatan-kelezatan yang lebih tinggi .”
Tahapan kejadian manusia :
1) Proses Kejadian Manusia Pertama (Adam)
Di dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Adam diciptakan oleh Allah dari tanah yang kering kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah sempurna maka oleh Allah ditiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya :
"Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah". (QS. As Sajdah (32) : 7)
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk". (QS. Al Hijr (15) : 26)
Disamping itu Allah juga menjelaskan secara rinci tentang penciptaan manusia pertama itu dalah surat Al Hijr ayat 28 dan 29 . Di dalam sebuah Hadits Rasulullah saw bersabda :
"Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah". (HR. Bukhari)
2) Proses Kejadian Manusia Kedua (Siti Hawa)
Pada dasarnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini selalu dalam keadaan berpasang-pasangan. Demikian halnya dengan manusia, Allah berkehendak menciptakan lawan jenisnya untuk dijadikan kawan hidup (isteri). Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam salah sati firman-Nya :
"Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui" (QS. Yaasiin (36) : 36)
Adapun proses kejadian manusia kedua ini oleh Allah dijelaskan di dalam surat An Nisaa’ ayat 1 yaitu :
"Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang sangat banyak..." (QS. An Nisaa’ (4) : 1)
3) Proses Kejadian Manusia Ketiga (semua keturunan Adam dan Hawa)
Kejadian manusia ketiga adalah kejadian semua keturunan Adam dan Hawa kecuali Nabi Isa a.s. Dalam proses ini disamping dapat ditinjau menurut Al Qur’an dan Al Hadits dapat pula ditinjau secara medis. Di dalam Al Qur’an proses kejadian manusia secara biologis dejelaskan secara terperinci melalui firman-Nya :
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kamudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah , Pencipta Yang Paling Baik." (QS. Al Mu’minuun (23) : 12-14).
Kemudian dalam salah satu hadits Rasulullah SAW bersabda :
"Telah bersabda Rasulullah SAW dan dialah yang benar dan dibenarkan. Sesungguhnya seorang diantara kamu dikumpulkannya pembentukannya (kejadiannya) dalam rahim ibunya (embrio) selama empat puluh hari. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan segumpal darah. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan sepotong daging. Kemudian diutuslah beberapa malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya (untuk menuliskan/menetapkan) empat kalimat (macam) : rezekinya, ajal (umurnya), amalnya, dan buruk baik (nasibnya)." (HR. Bukhari-Muslim)
Ungkapan ilmiah dari Al Qur’an dan Hadits 15 abad silam telah menjadi bahan penelitian bagi para ahli biologi untuk memperdalam ilmu tentang organ-organ jasad manusia. Selanjutnya yang dimaksud di dalam Al Qur’an dengan "saripati berasal dari tanah" sebagai substansi dasar kehidupan manusia adalah protein, sari-sari makanan yang kita makan yang semua berasal dan hidup dari tanah. Yang kemudian melalui proses metabolisme yang ada di dalam tubuh diantaranya menghasilkan hormon (sperma), kemudian hasil dari pernikahan (hubungan seksual), maka terjadilah pembauran antara sperma (lelaki) dan ovum (sel telur wanita) di dalam rahim. Kemudian berproses hingga mewujudkan bentuk manusia yang sempurna (seperti dijelaskan dalam ayat diatas).
Dari ungkapan Al Qur’an dan hadits banyak mengilhami para scientist (ilmuwan) sekarang untuk mengetahui perkembangan hidup manusia yang diawali dengan sel tunggal (zygote) yang terbentuk ketika ovum (sel kelamin betina) dibuahi oleh sperma (sel kelamin jantan). Kesemuanya itu belum diketahui oleh Spalanzani sampai dengan eksperimennya pada abad ke-18, demikian pula ide tentang perkembangan yang dihasilkan dari perencanaan genetik dari kromosom zygote belum ditemukan sampai akhir abad ke-19. Tetapi jauh sebelumnya Al Qur’an telah menegaskan dari nutfah Dia (Allah) menciptakannya dan kemudian (hadits menjelaskan bahwa Allah) menentukan sifat-sifat dan nasibnya .
Sebagai bukti yang konkrit di dalam penelitian ilmu genetika (janin) bahwa selama embriyo berada di dalam kandungan ada tiga selubung yang menutupinya yaitu dinding abdomen (perut) ibu, dinding uterus (rahim), dan lapisan tipis amichirionic (kegelapan di dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup/membungkus anak dalam rahim). Hal ini ternyata sangat cocok dengan apa yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Qur’an :
"...Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan (kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim)..." (QS. Az Zumar (39) : 6).
Manusia dengan makhluk Allah lainnya sangat berbeda apalagi manusia memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk yang lain salah satunya manusia diciptakan dengan sebaik-baik bentuk penciptaan namun kemuliaan manusia bukan terletak pada penciptaannya yang baik tetapi tergantung pada apakah dia bisa menjalankan tugas dan peran yang telah digariskan Allah atau tidak bila tidak maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka dengan segala kesengsaraannya . Allah SWT berfirman yang artinya “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yg sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yg serendah-rendahnya kecuali orang-orang yg beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka bagi mereka pahala yg tiada putus-putusnya”.
Al-Qur’an menegaskan kualitas dan nilai manusia dengan menggunakan tiga macam istilah yang satu sama lain saling berhubungan, yakni al-insaan, an-naas, al-basyar, dan banii Aadam . Manusia disebut al-insaan karena dia sering menjadi pelupa sehingga diperlukan teguran dan peringatan. Sedangkan kata an-naas (terambil dari kata an-naws yang berarti gerak; dan ada juga yang berpendapat bahwa ia berasal dari kata unaas yang berarti nampak) digunakan untuk menunjukkan sekelompok manusia baik dalam arti jenis manusia atau sekelompok tertentu dari manusia. Manusia disebut al-basyar, karena dia cenderung perasa dan emosional sehingga perlu disabarkan dan di damaikan. Manusia disebut sebagai banii Aadam karena dia menunjukkan pada asal-usul yang bermula dari nabi Adam as sehingga dia bisa tahu dan sadar akan jati dirinya. Misalnya, dari mana dia berasal, untuk apa dia hidup, dan ke mana ia akan kembali .
Dalam al Quran, manusia berulang-ulang kali diangkat derajatnya, berulang-ulang kali pula direndahkan, mereka dinobatkan jauh mengungguli alam surga, bumi dan para bahkan para malaikat, tetapi pada saat yang sama mereka bisa tiak lebih berarti dibandingkan dengan setan terkutuk dan binatang jahannam sekalipun. Manusia dihargai sebagai makhluk yang mampu menaklukkan alam, namun bisa juga mereka merosot menjadi yang paling rendah dari segala yang rendah. Oleh karena itu makhluk manusia sendiri yang harus menetapkan sikap dan menentukan nasib akhir mereka sendiri . Di dalam Al Quran Allah memperingatkan mereka dengan sebuah celaan;
... Manusia sangat benar-benar mengingkari nikmat. (QS. 22:66)
Ketahuilah sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. (QS. 96:6-7)
... Adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (QS. 17:16)
Apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada kami dalam keadaan berbaring atau berdiri tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu dari padanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. (QS. 10:12)
Ada realitas tunggal di seluruh dunia ini, yaitu pengetahuan tentang diri. Siapa yang mengenal dirinya akan mengenal pula Tuhan dan segala ciptaan-Nya. Siapa yang tidak punya pengetahuan semacam itu, ia tidak mempunyai pengetahuan apapun. Di dunia ini hanya ada satu kekuatan, satu jenis kemerdekaan dan satu bentuk keadilan yaitu kuasa untuk mengendalikan diri. Siapa yang mampu menguasai dirinya akan mampu menguasai dunia. Hanya ada satu bentuk kebaikan di dunia, yaitu mencintai orang lain sebagimana mencintai dirinya sendiri. Dengan kata lain menghargai orang lain sebagaimana menghargai diri kita sendiri. Diluar itu, yang ada hanyalah ilusi dan kehampaan semata.
(Kritik yang disampaikan oleh Mahatma Gandhi [1869-1948] dalam bukunya my Religion).
a. Fithrah Manusia :
1. Manusia adalah makhluk utama, yaitu diantara semua makhluk natural dan supranatural, manusia mempunyai jiwa bebas dan hakikat hakikat yang mulia.
2. Manusia adalah makhluk yang sadar diri. Ini berarti bahwa ia adalah satu-satuna makhluk hidup yang mempunyai pengetahuan atas kehadirannya sendiri ; ia mampu mempelajari, manganalisis, mengetahui dan menilai dirinya.
3. Manusia adalah makhluk kreatif . Aspek kreatif tingkah lakunya ini memisahkan dirinya secara keseluruhan dari alam, dan menempatkannya di samping Tuhan. Hal ini menyebabkan manusia memiliki kekuatan ajaib-semu quasi-miracolous yang memberinya kemampuan untuk melewati parameter alami dari eksistensi dirinya, memberinya perluasan dan kedalaman eksistensial yang tak terbatas, dan menempatkannya pada suatu posisi untuk menikmati apa yg belum diberikan alam.
4. Manusia adalah makhluk idealis, pemuja yang ideal. Dengan ini berarti ia tidak pernah puas dengan apa yang ada, tetapi berjuang untuk mengubahnya menjadi apa yg seharusnya. Idealisme adalah faktor utama dalam pergerakan dan evolusi manusia. Idealisme tidak memberikan kesempatan untuk puas di dalam pagar-pagar kokoh realita yg ada. Kekuatan inilah yg selalu memaksa manusia untuk merenung, menemukan, menyelidiki, mewujudkan, membuat dan mencipta dalam alam jasmaniah dan ruhaniah.
5. Manusia adalah makhluk moral. Di sinilah timbul pertanyaan penting mengenai nilai. Nilai terdiri dari ikatan yg ada antara manusia dan setiap gejala, perilaku, perbuatan atau dimana suatu motif yg lebih tinggi daripada motif manfaat timbul. Ikatan ini mungkin dapat disebut ikatan suci, karena ia dihormati dan dipuja begitu rupa sehingga orang merasa rela untuk membaktikan atau mengorbankan kehidupan mereka demi ikatan ini .
b. Tujuan Penciptaan Manusia
Allah SWT berfirman dalam surat Ad-dzariyat 56: ”Allah tidak menciptakan manusia kecuali untuk mengabdi kepadanya” mengabdi dalam jalan ibadah dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya seperti tercantum dalam Al-qur’an. Kisah tentang manusia ini bermula dari penciptaan Adam, bapak semua manusia. Di sini saya tidak akan membahas kaitan teori evolusi dengan penciptaan Adam. Teks al Quran hanya menceritakan bahwa adam adalah manusia pertama yang menurunkan manusia-manusia sesudahnya. Ia juga mengisyaratkan Allah telah menciptakan manusia dalam beberapa fase-fase kejadian. Berpedoman kepada QS Al Baqoroh: 30-36, maka peran yang dilakukan adalah sebagai pelaku ajaran Allah dan sekaligus pelopor dalam membudayakan ajaran Allah. Untuk menjadi pelaku ajaran Allah, apalagi menjadi pelopor pembudayaan ajaran Allah, seseorang dituntut memulai dari diri dan keluarganya, baru setelah itu kepada orang lain.
Manusia diserahi tugas hidup yang merupakan amanat Allah dan harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Tugas hidup yang dipikul manusia di muka bumi adalah tugas kekhalifaan, yaitu tugas kepemimpinan , wakil Allah di muka bumi, serta pengelolaan dan pemeliharaan alam. Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang mandat Tuhan untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan kepada manusia bersifat kreatif, yang memungkinkan dirinya serta mendayagunakan apa yang ada di muka bumi untuk kepentingan hidupnya.
Sebagai khalifah, manusia diberi wewenang berupa kebebasan memilih dan menentukan, sehingga kebebasannya melahirkan kreatifitas yang dinamis, inilah kajian filsafat yang paling menonjol dikalangan sejarah pemikiran Islam . Kebebasan manusia sebagai khalifah bertumpu pada landasan tauhidullah, sehingga kebebasan yang dimiliki tidak menjadikan manusia bertindak sewenang-wenang. Kekuasaan manusia sebagai wakil Tuhan dibatasi oleh aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh yang diwakilinya, yaitu hukum-hukum Tuhan baik yang baik yang tertulis dalam kitab suci (al-Qur’an), maupun yang tersirat dalam kandungan alam semesta (al-kaun). Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang diwakili adalah wakil yang mengingkari kedudukan dan peranannya, serta mengkhianati kepercayaan yang diwakilinya. Oleh karena itu, ia diminta pertanggungjawaban terhadap penggunaan kewenangannya di hadapan yang diwakilinya, sebagaimana firman Allah dalam QS 35 (Faathir : 39) yang artinya adalah: “Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah dimuka bumi. Barang siapa yang kafir, maka (akibat) kekafiran orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka”.
Kedudukan manusia di muka bumi sebagai khalifah dan juga sebagai hamba Allah, bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan suatu kesatuan yang padu dan tidak terpisahkan. Kekhalifahan adalah realisasi dari pengabdian kepada Allah yang menciptakannya. Dua sisi tugas dan tanggung jawab ini tertata dalam diri setiap muslim sedemikian rupa. Apabila terjadi ketidakseimbangan, maka akan lahir sifat-sifat tertentu yang menyebabkan derajat manusia meluncur jatuh ketingkat yang paling rendah, seperti fiman-Nya dalam QS (at-tiin: 4)
c. Keutamanan Manusia
Ditinjau dari ukuran fisik dan kekuatan lahiriah manusia itu makhluk yang kecil dan lemah. Tetapi dari segi psikis dan potensi internal yang tersimpan dalam dirinya, tak bisa diingkari bahwa manusia adalah makhluk pilihan . Bahkan dari segi tubuhnya yang serba lengkap itu saja telah menjadi miniatur alam raya ini. Tepat sekali apa yang dikatakan oleh seorang penyair :
“Obatmu ada dalam dirimu, tetapi kamu tidak melihatnya
Penyakitmu ada didalam dirimu tetapi kamu tidak menyadarinya.
Kamu menyangka dirimu materi yang mungil
Padahal di dalam dirimu terangkum alam yang besar”.
Sebagaimana pengakuan agama-agama pada umumnya dan Islam pada khususnya mengenai kemuliaan manusia, al Quran menyebut perihal manusia dalam beratus-ratus ayat. Bahkan sejak dari lima ayat pertama yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, al Quran telah menyebutkan perihal manusia. “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajrakan manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. 96.1-5)
D. Antara Manusia Dengan Tuhan
Jika kita mengajukan pertanyaan “apakah yang menjadi perhatian utama dalam kehidupan manusia?” salah satu jawaban yang pasti akan kita terima adalah Kebahagiaan. Mazhab etika hedonis menarik kesimpulan tentang seluruh kehidupan etis dari pengalaman kebahagiaan dan penderitaan yang datang dari berbagai tindakan akan tetapi kita tidak perlu melangkah lebih jauh dengan aliran ini, akan tetapi harus kita akui bahwa kenikmatan yang langgeng adalah ketika bisa merasakan kehadiran Tuhan dan mendapatkan pengalaman spritual yang tidak bisa dihargakan .
Tuhan tidak memerlukan manusia, tetapi justeru manusialah yang membutuhkan kehadiran Tuhan demi kemanusiaannya sendiri. Apresiasi yang sejati terhadap nilai Ketuhanan dengan sendirinya menghasilkan apresiasi sejati terhadap nilai kemanusiaan. Ketuhanan tanpa kemanusiaan dikutuk oleh Tuhan dan kemanusiaan tanpa Ketuhanan adalah bagaikan fatamorgana . Seluruh ibadah dalam Islam mempunyai tujuan untuk membina hubungan kita dengan Allah, hubungan itu akan menjadi intensif kalau kita menghayati Tuhan melalui nama-nama-Nya atau sifat-sifat-Nya yang baik. Allah kita hadirkan dalam bentuk kualitas-kualitas agar ditransfer kedalam diri kita, sehingga kita akan mengalami pengembangan pribadi yang sempurna. Maka sebetulnya menghayati Tuhan melalui sifat-Nya yang maha kasih itu saja dengan segala pengertiannya yang luas sudah cukup. Diharapkan bahwa kualitas-kualitas seperti itu kemudian ditransfer kedalam diri kita sehingga menjadi bagian dari bahan untuk mengembangkan kepribadian kita. Inilah akhlak Ilahi. Moralitas ketuhanan.
Dari sini kita mengenal istilah yang memperkaya kebudayaan kita sendiri yaitu “manusia seutuhnya”. Manusia akan utuh hanya bila dia mencerminkan sifat-sifat Ilahi dalam dirinya, bila dia memenuhi perintah Allah. Sebaliknya bagi orang yang lupa kepada Tuhan maka dia tidak akan mungkin akan menjadi manusia yang integral, manusia yang utuh. Allah memeperingatkan dalam al Quran “Dan Janganlah seperti mereka yang melupakan Allah, dan Allah akan memebuat mereka lupa akan dirinya sendiri” (Q. 59:19). Artinya kita akan kehilangan makna hidup, kehilangan tujuan hidup dan integritas kepribadian sehingga kita tidak akan mempunyai harapan karena sejatinya kita dapat bertahan hidup adalah karena Allah yang dilukiskan sebagai al Shamad.
Tidak ada satu ibadah pun yang diwajibkan oleh Tuhan melainkan ia menjadi perantara serta cara untuk mensucikan jiwa orang mukmin dan meningkatkan derajat ruhnya. Namun sangat sedikit energi yang dikeluarkan untuk beribadah itu jika dibandingkan dengan kebaikan yang didapatkan dibalik ibadah yang dilakukan tersebut. Dan tidak ada satu perkara pun yang diharamkan oleh agama untuk dikerjakan manusia, melainkan ia menjadi pemelihara bagi akal, jiwa, akhlak, harta, kehormatan dan keturunannya.
Ketika agama mengharamkan sesuatu bagi manusia, secara konsisten ia pasti menyediakan pengganti yang lebih baik yang tak mendatangkan kerusakan sebagaimana yang diharamkan itu. Dengan demikian seorang hamba/manusia tidak akan merugi dengan beribadah kepada Allah dan memelihara diri dari perkara yang diharamkan. Justeru ia akan mendapatkan keberuntungan dan kebaikan serta mampu menguasai hawa nafsu. Dia pun akan mendapatkan bentuk keberuntungan yang lain yakni jiwa yang tenang dan kehidupan yang damai . Berdasarkan analisis atas kesadaran yang baru saja kita suguhkan, kita berhak mengajukan sebuah pertanyaan, jika benar bahwa diri dengan realitas ontologisnya sendiri selalu hadir di dalam Tuhan maka Tuhan pun akan selalu hadir di dalam diri . Hidup ini bukanlah lingkaran tertutup yang tanpa ujung pangkal, ia berpangkal dari sesuatu dan berujung kepada sesuatu yaitu Tuhan pemberi kehidupan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Al quran biasa didefinisikan sebagai firman-firman Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril sesuai redaksiNya kepada nabi Muhammad SAW dan diterima oleh umat Islam secara Mutawatir. Al quran adalah sumber ajaran Islam, kitab suci ini seperti disebutkan diatas menempati posisi sentral, bukan saja dalam perkembangan dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman akan tetapi pemadu gerakan umat Islam.
Tuhan dalam Islam tidak hanya Maha Agung dan Maha Kuasa, namun juga Tuhan yang personal. Menurut al-Qur'an, Dia lebih dekat pada manusia daripada urat nadi manusia. Dia menjawab bagi yang membutuhkan dan memohon pertolongan jika mereka berdoa pada-Nya. Di atas itu semua, Dia memandu manusia pada jalan yang lurus, “jalan yang diridhai-Nya. Menurut para mufasir, melalui wahyu pertama al-Qur'an (Al-'Alaq 96:1-5), Tuhan menunjukkan dirinya sebagai pengajar manusia. Tuhan mengajarkan manusia berbagai hal termasuk diantaranya konsep ketuhanan. Umat Muslim percaya al-Qur'an adalah kalam Allah, sehingga semua keterangan Allah dalam al-Qur'an merupakan penuturan Allah tentang diri-Nya.
Manusia adalah mahluk Allah yang paling mulia,di dalam Al-qur’an banyak sekali ayat-ayat Allah yang memuliakan manusia dibandingkan dengan mahluk yang lainnya.Dan dengan adanya ciri-ciri dan sifat-sifat utama yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia menjadikannya makhluk yang terpilih diantara lainnya memegang gelar sebagai khalifah di muka bumi untuk dapat meneruskan,melestarikan,dan memanfaatkan segala apa yang telah Allah ciptakan di alam ini dengan sebaik-baiknya.
Tugas utama manusia adalah beribadah kepada Allah SWT.Semua ibadah yang kita lakukan dengan bentuk beraneka ragam itu akan kembali kepada kita dan bukan untuk siapa-siapa.Patuh kepada Allah SWT, menjadi khalifah,melaksanakan ibadah,dan hal-hal lainnya dari hal besar sampai hal kecil yang termasuk ibadah adalah bukan sesuatu yang ringan yang bisa dikerjakan dengan cara bermain-main terlebih apabila seseorang sampai mengingkarinya.
Daftar Pustaka
Achmad Muchaddam Fahham, Tuhan Dalam Filsafat Allamah Thabathaba’i, Teraju, Bandung, Cet I, Juli 2004
Adi Suryadi Culla, Masyarakat Madani, PT Raja Grapindo, Jakarta, 1999
Aisyah Abdurrahman, Manusia Sensivitas Hermeneutika Al Quran, LKPSM, Yogyakarta, Januari 1997
Budhy Munawar Rachman, Penyunting, Ensiklopedi Nurchalish Madjid “Pemikiran Islam di Kampas Peradaban”, Mizan, Jakarta, Cet I
http://www.f-adikusumo.staff.ugm.ac.id/artikel/manusia1.html
Ian G. Barbour, Natur, Human Natur, and God, “Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporer dan Agama, terj Fransiskus Borgias, Mizan, Bandung, 2005
Ilyas Ismail, HIKMAH, “Mewariskan Kebaikan, Harian Republika, Rabu, 1 Desember 2010
Mehdi Ha’iri Yazdi, The Principles of Epistemology in Islamic Philosophy, Terj. Ahsin Muhammad, Epistimologis Iluminasionis dalam Filsafat Islam, Mizan, Bandung, Agustus 2003, hal 270
Muhammad Yasir Nasution, Manusia Menurut Al Ghazali, PT. Raja Grapindo Persada, Jakarta, Juni 1999
Murtadha Mutahhari, Perspektif Al Quran tentang Manusia dan Agama, Mizan, Bandung, Pebruari, 1989/Rajab 1409
¬¬¬-------- Al Adly al Ilahy, Terj. Agus Efendi, Keadilan Ilahi, Mizan, Pebruari 2009
Nadim al Jisr, Qishshas al Iman Bayn al Falsafah wa al Ilm wa al Quran, Terj. Mochtar Zoerni, Para Pencari Tuhan, Pustaka Hidayah, Bandung, 1998
Nanang Qosim Yusuf, The 7 Awareness, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2009
Nurchalish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, “Sebuah Telaah Kritis Tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan”, Yayasan Wakaf Paramadina, Jakarta, Cet ke IV, September 2000
Quraish Shihab, Membumikan Al Quran, Mizan, Bandung, Maret 1999
Shehab Magdy, dkk, Al I’jaz al Ilmi fi Alquran wa Sunnah, Terj. Masyah Syarif Hade , Ensiklopedia Mukjizat Al Quran dan Hadits, “ Kemukjizatan Penciptaan Manusia” Sapta Pesona, Bekasi, Indonesia, 2008
Suyoto (Abu Ashfa), Andai Tuhan Komersial, Aditya Media, Yogyakarta, November 2003
William James, The Variates of Religious Experience, United States of America by Longman, USA , 1902
Yasin T al Jibouri, The Concept of God in Islam, “Konsep Tuhan Menurut Islam”, Ansariyan Publications, Qum, Iran, 1418 H/1997
Yusuf Qardhawi, Al Iman wal Hayat, Merasakan Kehadiran Tuhan, Terj, Jazirotul Islamiyah, Mitra Pustaka, Yogyakarta, Mei 2000
Dinding-dinding Harapan Yang Mengkotak-kotakkan Kesempatan
Bagi siapa saja yang berkunjung ke Negeri ini pasti akan berdecak kagum ketika melihat bangunan indah yang menghiasi kota Jakarta apalagi ketika menyaksikan kemegahan Monas, Istiqlal, sederet kebudayaan dan peradaban Indonesia seperti Borobudur, Prambanan, serta pesona alam pulau Komodo, Sanur dan Lombok, seolah semua pulau, daerah mencerminkan kekayaan dari bangsa ini. Sebuah design yang maha karya atas kuasa Ilahi yang dipersembahkan atas kegigihan dan kesabaran putra dan putri yang bernama Indonesia. Maka memang pantaslah kado terindah itu di jaga dan diperjuangkan untuk mengangkat dan membuat penduduknya berbangga hati dan dihormati oleh segala mata yang melihat di peradaban dunia ini.
Ketika membandingkan antara satu penduduk dengan penduduk lainnya di belahan benua seperti Amerika, Afrika, Eropa dan Asia maka Indonesia juga mempunyai arti tersendiri yang seharusnya menjadi tumpuan harapan bagi negara lainnya, kenapa hal itu menjadi penting untuk disimpulkan, bukan hanya karena Indonesia mempunyai belasan ribu pulau, kuantitas yang mendominasi di belahan negara tapi juga Indonesia adalah paru-paru dunia disamping mereka (negara lain) banyak bergantung dengan Tenaga-tenaga kerja serta kebutuhan Ekspor Impor untuk membangun tatanan perekonomian yang baik di Dunia hal senda telah disampaikan sang presiden USA, ketika kunjungan Barack Husein Obama ke Indonesia dalam pidato singkat durasi tiga puluh menit itu ia menyatakan untuk menjadikan Amerika dan Indonesia itu sejajar dan sebanding untuk menumbuhkan perekonomian global.
Begitulah seharusnya penghargaan dari semua pihak kepada bangsa yang bernama Indonesia, tapi realita hari ini seolah ada yang kontra produktif dengan latar belakang yang telah disebutkan diatas, betapa miris hati kita ketika sebahagian warga harus menjual jasa dan bahkan harga diri demi mengisi perut dan bertahan hidup di negeri lain yang mempekerjakan warga negara Indonesia, tidak hanya itu, penghormatan itu seolah bias diterbangkan oleh angin sehingga hanya tinggal kewibawaan tanpa arti sama sekali. Kalaupun ditanya sebahagian purta-putri negara lain tentang Indonesia tidak sedikit yang mengatakan no comment, itu berarti karena memang mereka tidak pernah tahu bahwa Indonesia menyimpan salah satu keajaiban dunia seperti Borobudur dan kemudiannya pulau Komodo. Selanjutnya apa sesungguhnya kurangnya Indonesia ini?
Berawal dari sebuah pemimpin bahwa ketika siapa saja yang menjadi icon moral jauh dari indikasi kebobrokan, sepert birokrasi yang transparan dan kepedulian terhadap warga maka merupakan cikal bakal wujud masyarkat yang sejahtera negara yang handal, itu sebabnya dalam gubahan syair ada disebutkan ikan itu busuknya dari kepala, artinya segala sesuatu itu berawal dari pimpinan sehingga akan dicontohkan oleh orang yang ada dibawahnya. Bukan sesuatu hal yang baru lagi ketika kita mendengar adanya calo untuk seorang yang ingin mengikuti pelamaran CPNS maka tawar menawar adalah sesuatu hal yang lazim bagi sebahagian mereka yang menjadi pejabat teras disalah satu instansi pemerintahan, belum lagi untuk mengisi posisi penting dan strategis di Instansi Pendidikan, Pemkab dan Pemko begitu juga halnya ketika memasuki jenjang pendidikan militer semuanya pasti menghamburkan uang, terjadilah korupsi, kolusi dan nepotisme. Sebuah niat yang baik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, melayani rakyat dan menajaga stabilitas dan keamanan negara tapi dimulai dengan sebuah langkah dan sistem yang tidak baik, lantas apa sebenarnya niat itu akan bisa terwujud ketika kita sudah merogoh uang puluhan bahkan ratusan juta untuk mendapatkan posisi itu sebagai Pegawai Negeri Sipil? Ataukah tugas mulia itu hanya sekedar gengsi berseragam biru dan kuning dihadapan masyarakat dan tidak menghiraukan bahwa mereka kerja keras bermandikan keringat untuk sesuap nasi, maka sesungguhnya siapakah yang layak disebut sebagai pahlawan dan abdi negara? Mereka yang berseragam atau tanpa seragam namun bermandikan keringat, lihatlah ketulusan mereka.
Harian kompas bahkan menyebutkan (Jumat 12 November 2010), sebagai bentuk teguran kepada pengelola negeri “Relawan, Bekerja tanpa pamrih tanpa ekspos, sebaliknya Politisi tidak bekerja banyak ekspos” , dimanakah nurani yang fithrah dari bangsa ini sehingga seorang cerdas ketika lulus perguruan tinggi atau seorang miskin yang mempunyai potensi tidak mendapatkan fasilitas yang layak untuk mengeksplorasikan teori dan analisa pikirnya, maka ketika uang, dukun, dan keluarga hanya dijadikan alat untuk mengelola negeri ini maka kata kanjeng Rasul “fantashiru sa’ah” lihatlah kehancurannya. Apakah kita akan rela dan membiarkan saja tetes darah dan nyawa yang dibayar para pahlawan kemerdekaan ini hanya berujung kepada kegagalan.
Sebagai bentuk kepedulian sudah saatnya kita sadar diri, mari kita menyingsingkan lengan bersatu padu dalam berkarya, teringat Prof. Dr. Nurchalish Madjid ketika ditawarkan untuk menggantikan rezim Soeharto oleh beberapa tokoh bangsa yang menginginkan arah dan paradigma baru Indonesia maka tawaran itu disambut dengan senyuman seraya berkata “kita semua adalah pemimpin maka mari kita pimpin bersama” , sebuah jawaban yang sederhana dan bermakna, melihat kekayaan dan khasanah bangsa yang luar biasa ini seharusnya umat itu sudah sejahtera dan bisa mandiri namun kondisi Jakarta ketika melihat gedung bertingkat serta sederet keindahannya seolah kontras begitu saja ketika sepintas kita melihat bahwa betapa banyak anak-anak dibawah umur yang harus bekerja keras mulai dari pekerjaan yang halal, mulia dan baik sampai pekerjaan kurang layak dan hina sungguh sesuatu hal memperihatinkan, belum lagi sederet kemiskinan dan kesempatan yang tidak pernah memihak kepada rakyat jelata ini.
Seharusnya kita dapat berkaca kepada negara lain seperti Mesir, Sudan, India dan negara Barat bahwa walau sebahagian mereka itu miskin masih mempunyai niat yang tulus untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa sehingga pendidikan itu adalah milik semua warga bukan hanya kalangan elit saja, menyediakan beasiswa bagi warga bahkan sekalipun dari luar warganya sudah banyak dari intelektual kita yang merasakan pendidikan gratis itu. Disamping itu hijrah spritual dari zero kepada hero adalah sebuah keniscayaan bagi manusia yang berpikir, kapan lagi kita membangun dan memberikan kesempatan kepada anak bangsa ini ataukah kita mengorbankan kesempatan mereka dengan meraup semua keuntungan yang ada untuk dinikmati secara sendiri, kalau demikianlah halnya kita sudah menjadi makhluk yang egois dan tak tahu diri.
Ketika membandingkan antara satu penduduk dengan penduduk lainnya di belahan benua seperti Amerika, Afrika, Eropa dan Asia maka Indonesia juga mempunyai arti tersendiri yang seharusnya menjadi tumpuan harapan bagi negara lainnya, kenapa hal itu menjadi penting untuk disimpulkan, bukan hanya karena Indonesia mempunyai belasan ribu pulau, kuantitas yang mendominasi di belahan negara tapi juga Indonesia adalah paru-paru dunia disamping mereka (negara lain) banyak bergantung dengan Tenaga-tenaga kerja serta kebutuhan Ekspor Impor untuk membangun tatanan perekonomian yang baik di Dunia hal senda telah disampaikan sang presiden USA, ketika kunjungan Barack Husein Obama ke Indonesia dalam pidato singkat durasi tiga puluh menit itu ia menyatakan untuk menjadikan Amerika dan Indonesia itu sejajar dan sebanding untuk menumbuhkan perekonomian global.
Begitulah seharusnya penghargaan dari semua pihak kepada bangsa yang bernama Indonesia, tapi realita hari ini seolah ada yang kontra produktif dengan latar belakang yang telah disebutkan diatas, betapa miris hati kita ketika sebahagian warga harus menjual jasa dan bahkan harga diri demi mengisi perut dan bertahan hidup di negeri lain yang mempekerjakan warga negara Indonesia, tidak hanya itu, penghormatan itu seolah bias diterbangkan oleh angin sehingga hanya tinggal kewibawaan tanpa arti sama sekali. Kalaupun ditanya sebahagian purta-putri negara lain tentang Indonesia tidak sedikit yang mengatakan no comment, itu berarti karena memang mereka tidak pernah tahu bahwa Indonesia menyimpan salah satu keajaiban dunia seperti Borobudur dan kemudiannya pulau Komodo. Selanjutnya apa sesungguhnya kurangnya Indonesia ini?
Berawal dari sebuah pemimpin bahwa ketika siapa saja yang menjadi icon moral jauh dari indikasi kebobrokan, sepert birokrasi yang transparan dan kepedulian terhadap warga maka merupakan cikal bakal wujud masyarkat yang sejahtera negara yang handal, itu sebabnya dalam gubahan syair ada disebutkan ikan itu busuknya dari kepala, artinya segala sesuatu itu berawal dari pimpinan sehingga akan dicontohkan oleh orang yang ada dibawahnya. Bukan sesuatu hal yang baru lagi ketika kita mendengar adanya calo untuk seorang yang ingin mengikuti pelamaran CPNS maka tawar menawar adalah sesuatu hal yang lazim bagi sebahagian mereka yang menjadi pejabat teras disalah satu instansi pemerintahan, belum lagi untuk mengisi posisi penting dan strategis di Instansi Pendidikan, Pemkab dan Pemko begitu juga halnya ketika memasuki jenjang pendidikan militer semuanya pasti menghamburkan uang, terjadilah korupsi, kolusi dan nepotisme. Sebuah niat yang baik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, melayani rakyat dan menajaga stabilitas dan keamanan negara tapi dimulai dengan sebuah langkah dan sistem yang tidak baik, lantas apa sebenarnya niat itu akan bisa terwujud ketika kita sudah merogoh uang puluhan bahkan ratusan juta untuk mendapatkan posisi itu sebagai Pegawai Negeri Sipil? Ataukah tugas mulia itu hanya sekedar gengsi berseragam biru dan kuning dihadapan masyarakat dan tidak menghiraukan bahwa mereka kerja keras bermandikan keringat untuk sesuap nasi, maka sesungguhnya siapakah yang layak disebut sebagai pahlawan dan abdi negara? Mereka yang berseragam atau tanpa seragam namun bermandikan keringat, lihatlah ketulusan mereka.
Harian kompas bahkan menyebutkan (Jumat 12 November 2010), sebagai bentuk teguran kepada pengelola negeri “Relawan, Bekerja tanpa pamrih tanpa ekspos, sebaliknya Politisi tidak bekerja banyak ekspos” , dimanakah nurani yang fithrah dari bangsa ini sehingga seorang cerdas ketika lulus perguruan tinggi atau seorang miskin yang mempunyai potensi tidak mendapatkan fasilitas yang layak untuk mengeksplorasikan teori dan analisa pikirnya, maka ketika uang, dukun, dan keluarga hanya dijadikan alat untuk mengelola negeri ini maka kata kanjeng Rasul “fantashiru sa’ah” lihatlah kehancurannya. Apakah kita akan rela dan membiarkan saja tetes darah dan nyawa yang dibayar para pahlawan kemerdekaan ini hanya berujung kepada kegagalan.
Sebagai bentuk kepedulian sudah saatnya kita sadar diri, mari kita menyingsingkan lengan bersatu padu dalam berkarya, teringat Prof. Dr. Nurchalish Madjid ketika ditawarkan untuk menggantikan rezim Soeharto oleh beberapa tokoh bangsa yang menginginkan arah dan paradigma baru Indonesia maka tawaran itu disambut dengan senyuman seraya berkata “kita semua adalah pemimpin maka mari kita pimpin bersama” , sebuah jawaban yang sederhana dan bermakna, melihat kekayaan dan khasanah bangsa yang luar biasa ini seharusnya umat itu sudah sejahtera dan bisa mandiri namun kondisi Jakarta ketika melihat gedung bertingkat serta sederet keindahannya seolah kontras begitu saja ketika sepintas kita melihat bahwa betapa banyak anak-anak dibawah umur yang harus bekerja keras mulai dari pekerjaan yang halal, mulia dan baik sampai pekerjaan kurang layak dan hina sungguh sesuatu hal memperihatinkan, belum lagi sederet kemiskinan dan kesempatan yang tidak pernah memihak kepada rakyat jelata ini.
Seharusnya kita dapat berkaca kepada negara lain seperti Mesir, Sudan, India dan negara Barat bahwa walau sebahagian mereka itu miskin masih mempunyai niat yang tulus untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa sehingga pendidikan itu adalah milik semua warga bukan hanya kalangan elit saja, menyediakan beasiswa bagi warga bahkan sekalipun dari luar warganya sudah banyak dari intelektual kita yang merasakan pendidikan gratis itu. Disamping itu hijrah spritual dari zero kepada hero adalah sebuah keniscayaan bagi manusia yang berpikir, kapan lagi kita membangun dan memberikan kesempatan kepada anak bangsa ini ataukah kita mengorbankan kesempatan mereka dengan meraup semua keuntungan yang ada untuk dinikmati secara sendiri, kalau demikianlah halnya kita sudah menjadi makhluk yang egois dan tak tahu diri.
Menjemput Spritual yang hilang (Refleksi atas Gonjang-ganjing Media)
Semua makhluk yang ada di muka bumi ini dibagi menjadi dua kelompok; makhluk bernyawa dan makhluk tidak bernyawa. Makhluk tidak bernyawa seperti air, api, batu, dan tanah, tidak memainkan peran apapun dalam membangun dan mengembangkan dirinya. Mereka mewujud dan tumbuh semata-mata dibawah pengaruh faktor-faktor eksternal. Mereka tidak melibatkan diri dalam kegiatan apapun untuk tujuan mengembangkan eksistensi mereka. Sebaliknya makhluk-makhluk hidup seperti tumbuhan, hewan dan manusia senantiasa melakukan upaya-upaya tertentu untuk mempertahankan diri dari aneka kesulitan memperoleh makanan dan berkembang biak.
Dalam al Quran, manusia berulang-ulang kali diangkat derajatnya, berulang-ulang kali pula direndahkan, mereka dinobatkan jauh mengungguli alam surga, bumi dan bahkan para malaikat, tetapi pada saat yang sama mereka bisa tidak lebih berarti dibandingkan dengan setan terkutuk dan binatang jahannam sekalipun. Manusia dihargai sebagai makhluk yang mampu menaklukkan alam, namun bisa juga mereka merosot menjadi yang paling rendah dari segala yang rendah. Oleh karena itu makhluk manusia sendiri yang harus menetapkan sikap dan menentukan nasib akhir mereka sendiri. Karena sesungguhnya seperti kata Dr. Daud Rasyid hidup ini ibarat sebuah perjalanan yang mana kita menuju sebuah tempat dimana ketika sebuah persimpangan yang ada membuat kita bingung antara timur, barat, utara dan selatan, kemanakah kaki melangkah ? untungnya ada sebuah petunjuk dari rambu lalu lintas dan dinas perhubungan yang terpampang dengan jelasnya di pinggiran jalan, ketika kita bermaksud menuju Jakarta dari Yogyakarta maka janganlah berangkat dari simpang jalan yang mengarahkan anda ke Surabaya, karena ketika anda salah jalan sementara rambu sudah jelas maka anda tidak akan dapat menyalahkan pemerintah, dinas lalu lintas dan polantas yang ada karena itu murni sesungguhnya kesalahan anda yang tidak patuh terhadap peraruturan, begitulah kiranya kehidupan dunia ini yang akan menghantarkan kita menuju istana terang kemilau sang maha raja cahaya untuk menjumpai TuhanNya. Sudah jelas undang-undang dan petunjuk dariNya oleh karena itu ketika kita salah jalan maka tidak ada hak kita untuk menggugat Tuhan karena dia sudah memberikan sesuatu yang berharga berupa kode etiknya permainan yang bernama dunia ini. Maka janganlah sampai kalah dalam sebuah kesempatan yang ada dan pelajarilah dengan mantap sebuah kitab kebahagiaan itu.
Seorang filosof muslim yang masyhur namanya di belahan dunia seperti Ibn Sina (Avicenna) pernah menyampaikan bahwa Jiwa manusia ini terbahagi tiga yaitu jiwa, nabati, hayawani dan nafsani, kecenderungan ketiga jiwa ini jelas sangat berbeda yang menggambarkan inilah dia realitas kehidupan manusia hari ini.
Jiwa pertama...
Dimaksudkan kondisi manusia seperti halnya tumbuhan yang tidak mempunyai pergerakan dan tidak ambil pusing dengan tumbuhan disekitarnya, hidup, tumbuh, berkembang dan mati, inilah kondisi manusia yang tidak mempunyai nurani terhadap sekitarnya, hal ini sangat banyak kita jumpai di kota metropolitan seperti halnya rumah gedongan perumahan yang satu sama lain tidak butuh tegur sapa, semua sibuk dengan aktivitas masing-masing, hidup dan matinya hanya untuk individual dan komunitasnya saja. Tidak melahirkan kesalehan sosial sehingga kehidupannya seolah tanpa makna dan manfaat bagi manusia lainnya. Begitu juga seorang yang alim misalnya kalau dia itu beribadah di sebuah hutan yang tidak dihuni oleh makhluk yang bernama manuia selain dirinya, dia pergi meninggalkan kaumnya dan kerabatnya karena tidak mau disibukkan dengan yang namanya syiar dan tabligh. Bahkan seorang nabi pun ketika lari dari kaumnya itu maka langsung akan ditegur oleh Tuhannya, maka menarik sesungguhnya apa yang disampaikan oleh Habiburrahman el Shirazy bahwa seorang abid yang hidup disebuah gunung bukan berarti lebih baik dengan seorang alim yang hidup di metropolitan karena memang obyek yang kita harus shibgah itu jelas adanya dan kita tidak akan menjadi manusia egois yang mementingkan diri secara pribadi untuk bermesraan dengan sesuatu obyek yang bernama Tuhan.
Jiwa kedua...
Jiwa hayawani, jikalau kecenderungan yang nabati lebih banyak mengurusi internal tanpa tidak sama sekali untuk kondisi yang lain berbeda seratus delapan puluh derajat dengan jiwa hayawani, jiwa ini justeru aktif bergerak dan berbuat tapi mengenaskan, tidak ada hal menjadi penghalang sepanjang semuanya itu mempunyai kesenangan dan untung kepada diri, sehingga hitam bisa jadi putih dan putih berubah hitam, halal di haramkan sementara haram dihalalkan. Penghalang hanyalah ruang-ruang kekuasaan dan itupun kalau masih memungkinkan celah untuk memasukinya yang walaupun secara rahasia masih dilakukan juga. menggelapkan uang negara, tidak peduli itu milik siapa yang penting adalah untung dan kesenangan. Lihatlah segerombolan kera yang ingin memetik buah pisang atau tupai yang menginginkan kelapa tidak pernah permisi untuk izin sama sekali kepada pemiliknya, dan metode ini ternyata menginspirasi orang yang lebih parah dan hina dari pada kera dan tupai. Pantaslah Allah SWT dalam sebuah maklumatnya menyampaikan bahwa DIA bisa saja mensejajarkan manusia dengan binatang bahkan yang lebih hina dari pada itu.
Untuk membangkitkan kesadaran dan lamunan serta inspirasi kebinatangan yang tidak wajar ini maka Allah SWT dalam Al Quran banyak mencela manusia untuk kemudian lebih tahu diri dan bisa memanfaatkan waktu yang ada.
... Manusia sangat benar-benar mengingkari nikmat. (QS. 22:66)
Ketahuilah sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. (QS. 96:6-7)
... Adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (QS. 17:16)
Apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada kami dalam keadaan berbaring atau berdiri tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu dari padanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. (QS. 10:12)
Jiwa ketiga...
Insani, berbeda dengan jiwa pertama dan kedua, mempunyai karakter yang lebih mulia, dengan suara hati yang fithrah ia berusaha untuk mengenal dirinya demi untuk mendekatkan diri kepada TuhanNya, menginfakkan hidup untuk kemaslahatan umat tidak ada istilah itu kan mereka bukan gue, sadar akan hakikat penciptaan dirinya sebagai pengelola (khalifah fi al ardh) dan untuk beribadah kepada sang pencipta maka ia membangun sebuah garis yang jelas dan menuntun orang disekitarnya untuk bersama berjalan menuju Tuhan pencipta langit dan bumi. Inilah kesalehan sosial yang mengajak, menyeru dan memanusiakan manusia, bahkan dari sini akan lahir generasi-generasi yang berpikir untuk kemaslahatan umat, negeri dan bangsanya. Dan out put darinya adalah makhluk yang dinamis, kreatif, inovatif dan responsitif dengan metode islamisasi ilmu pengetahuan dan modernitas. Seorang ulama kenamaan Persia menyampaikan dalam sebuah gubahan syair;
Anak-anak Adam laksana anggota tubuh;
Sebab mereka tercipta dari lempung yang sama.
Jika satu bagian terlanda lara,
Yang lain menderita resah hebat.
Engkau yang ingkar derita manusia,
Tak pantas bernama manusia.
Sedangkan Media informasi baik ia cetak dan elektronik, yang seharusnya menjadi icon penggerak dan mempunyai andil besar sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya yaitu sebagai, kontrol sosial, pendidikan dan hiburan kerap berubah seolah makhluk yang menjelma menjadi dajjal perusak moral dan tatanan kehidupan yang layak. Kebebesan Pers yang tak terkendali dewasa ini dikhawatirkan semakin menjadi ancaman serius bagi masyarakat. Dengan dalih kebebesan pers, semakin banyak penampilan media yang cenderung menyimpang dari tugas mulianya, lihatlah gosip, infotaiment yang menyajikan aib, urusan pribadi yang tak pantas ekspos, perselingkuhan, bahkan juga nama tuhan dibajak untuk kepentingan industri perfilmana di Indonesia. Dalam pengelolaan pers di tanah air, sesungguhnya ada aturan main yang menjadi acuan bagi setiap wartawan yaitu kode etik jurnalistik. Pedoman yang dimuat dalam kode etik jurnalistik secara umum adalah memberi arahan kepada wartawan, begitu juga dengan entertainment berupa penyiaran di beberapa stasiun televisi mempunyai lembaga sensor film yang berhak membatasi dan mengarahkan dunia acting artis dan selebriti. Lantas kenapa gonjang-ganjing media menjadi isu yang seolah paling diminati dijagat ini ? karena sesungguhnya karakter kita sebagai manusia yang berjiwa insani telah dikerubungi oleh indahnya hedonis dan pragmatis.
Berbagai proses terkadang dilakukan untuk mengeliminasi bintang yang cahayanya tidak memancarkan karakter budaya, adat, norma dan agama yang hanif, kita betul prihatin terhadap nuansa yang tidak elegan dan wajar di bumi yang dihuni masyarakat beradab dan berketuhanan ini. Khawatir menyalahkan arti sebuah demokrasi sehingga ujungnya hanyalah kegagalan dalam menciptakan masyarakat yang baik dan mandiri menuju baldatun thayibbatun wa rabbun ghafur. Jangan kiranya kesuksesan finansial dan materi dianggap hanya sebagai tolak ukur mutlak kehidupan ini. Sesungguhnya kalau kita melihat beberapa kasus dinegara maju seperti Amerika dan beberapa negara di Eropa banyak yang menjumpai harta, bergelimang kemewahan namun kering secara spritual sehingga ujung dari karir nya hanyalah mati bunuh diri karena tidak tahu apa sesungguhnya yang dicari dalam hidup ini, maka tidak heran di San Paransisco ada jembatan yang menjadi tempat faforit mengakhiri hidup (bunuh diri). Sungguh sangat disayangkan icon negeri ini apabila mempunyai paradigma dan pola pikir yang sama sekuler dan ateis ditambah hedonis dan pragmatis hilang idealis.
Melihat akhir-akhir ini tentang prestasi yang diukir oleh sebahagian sutradara kita dan beberapa naskah yang sempat diangkat ceritanya ke layar lebar, yang tentunya mempunyai pesan moral, budaya, adat dan agama serta nasionalis yang tinggi maka pantas untuk kita garis bawahi bahwa sesungguhnya kita memang merindukan hiburan dan inspirasi untuk mengisi ruang kosong didalam dada. Lihatlah dalam mihrab cinta, AAC,KCB, Laskar Pelangi, Sang Pencerah, Sang Pemimpi, Tanah Air Beta, Merah Putih dan lain sebagainya yang telah menempatkan posisi ideal dimata negeri dan dipuja oleh luar negeri. Menjadi bahagian untuk mempertajam mata hati dan menelusuri jejak para nabi.
Dari pengamatan ini perlu kiranya kita berpikir untuk memberikan nilai yang lebih kepada media yang ada di Indonesia sehingga industri perfilman dan dunia pers ditanah air adalah pilar kebangkitan umat setelah masjid dan kampus. Ketika beberapa kasus di Indonesia ini mendapat respon yang hangat oleh beberapa pengamat, Praktisi dan masyarakat, lantas kenapa tidak demikian halnya kepada media yang satu ini. Harusnya pengawasan dan lembaga yang independent atas nama hukum berdiri tegak sebagai pelopor, penggerak dan kontrol yang serius seperti halnya KPK menjaring tikus-tikus berdasi, karena kebobrokan darinya akan melahirkan mental yang yang sangat fatal bagi generasi bangsa yang menonton dan mengikuti jejaknya.
Wallahu ‘alam ,,,
Dalam al Quran, manusia berulang-ulang kali diangkat derajatnya, berulang-ulang kali pula direndahkan, mereka dinobatkan jauh mengungguli alam surga, bumi dan bahkan para malaikat, tetapi pada saat yang sama mereka bisa tidak lebih berarti dibandingkan dengan setan terkutuk dan binatang jahannam sekalipun. Manusia dihargai sebagai makhluk yang mampu menaklukkan alam, namun bisa juga mereka merosot menjadi yang paling rendah dari segala yang rendah. Oleh karena itu makhluk manusia sendiri yang harus menetapkan sikap dan menentukan nasib akhir mereka sendiri. Karena sesungguhnya seperti kata Dr. Daud Rasyid hidup ini ibarat sebuah perjalanan yang mana kita menuju sebuah tempat dimana ketika sebuah persimpangan yang ada membuat kita bingung antara timur, barat, utara dan selatan, kemanakah kaki melangkah ? untungnya ada sebuah petunjuk dari rambu lalu lintas dan dinas perhubungan yang terpampang dengan jelasnya di pinggiran jalan, ketika kita bermaksud menuju Jakarta dari Yogyakarta maka janganlah berangkat dari simpang jalan yang mengarahkan anda ke Surabaya, karena ketika anda salah jalan sementara rambu sudah jelas maka anda tidak akan dapat menyalahkan pemerintah, dinas lalu lintas dan polantas yang ada karena itu murni sesungguhnya kesalahan anda yang tidak patuh terhadap peraruturan, begitulah kiranya kehidupan dunia ini yang akan menghantarkan kita menuju istana terang kemilau sang maha raja cahaya untuk menjumpai TuhanNya. Sudah jelas undang-undang dan petunjuk dariNya oleh karena itu ketika kita salah jalan maka tidak ada hak kita untuk menggugat Tuhan karena dia sudah memberikan sesuatu yang berharga berupa kode etiknya permainan yang bernama dunia ini. Maka janganlah sampai kalah dalam sebuah kesempatan yang ada dan pelajarilah dengan mantap sebuah kitab kebahagiaan itu.
Seorang filosof muslim yang masyhur namanya di belahan dunia seperti Ibn Sina (Avicenna) pernah menyampaikan bahwa Jiwa manusia ini terbahagi tiga yaitu jiwa, nabati, hayawani dan nafsani, kecenderungan ketiga jiwa ini jelas sangat berbeda yang menggambarkan inilah dia realitas kehidupan manusia hari ini.
Jiwa pertama...
Dimaksudkan kondisi manusia seperti halnya tumbuhan yang tidak mempunyai pergerakan dan tidak ambil pusing dengan tumbuhan disekitarnya, hidup, tumbuh, berkembang dan mati, inilah kondisi manusia yang tidak mempunyai nurani terhadap sekitarnya, hal ini sangat banyak kita jumpai di kota metropolitan seperti halnya rumah gedongan perumahan yang satu sama lain tidak butuh tegur sapa, semua sibuk dengan aktivitas masing-masing, hidup dan matinya hanya untuk individual dan komunitasnya saja. Tidak melahirkan kesalehan sosial sehingga kehidupannya seolah tanpa makna dan manfaat bagi manusia lainnya. Begitu juga seorang yang alim misalnya kalau dia itu beribadah di sebuah hutan yang tidak dihuni oleh makhluk yang bernama manuia selain dirinya, dia pergi meninggalkan kaumnya dan kerabatnya karena tidak mau disibukkan dengan yang namanya syiar dan tabligh. Bahkan seorang nabi pun ketika lari dari kaumnya itu maka langsung akan ditegur oleh Tuhannya, maka menarik sesungguhnya apa yang disampaikan oleh Habiburrahman el Shirazy bahwa seorang abid yang hidup disebuah gunung bukan berarti lebih baik dengan seorang alim yang hidup di metropolitan karena memang obyek yang kita harus shibgah itu jelas adanya dan kita tidak akan menjadi manusia egois yang mementingkan diri secara pribadi untuk bermesraan dengan sesuatu obyek yang bernama Tuhan.
Jiwa kedua...
Jiwa hayawani, jikalau kecenderungan yang nabati lebih banyak mengurusi internal tanpa tidak sama sekali untuk kondisi yang lain berbeda seratus delapan puluh derajat dengan jiwa hayawani, jiwa ini justeru aktif bergerak dan berbuat tapi mengenaskan, tidak ada hal menjadi penghalang sepanjang semuanya itu mempunyai kesenangan dan untung kepada diri, sehingga hitam bisa jadi putih dan putih berubah hitam, halal di haramkan sementara haram dihalalkan. Penghalang hanyalah ruang-ruang kekuasaan dan itupun kalau masih memungkinkan celah untuk memasukinya yang walaupun secara rahasia masih dilakukan juga. menggelapkan uang negara, tidak peduli itu milik siapa yang penting adalah untung dan kesenangan. Lihatlah segerombolan kera yang ingin memetik buah pisang atau tupai yang menginginkan kelapa tidak pernah permisi untuk izin sama sekali kepada pemiliknya, dan metode ini ternyata menginspirasi orang yang lebih parah dan hina dari pada kera dan tupai. Pantaslah Allah SWT dalam sebuah maklumatnya menyampaikan bahwa DIA bisa saja mensejajarkan manusia dengan binatang bahkan yang lebih hina dari pada itu.
Untuk membangkitkan kesadaran dan lamunan serta inspirasi kebinatangan yang tidak wajar ini maka Allah SWT dalam Al Quran banyak mencela manusia untuk kemudian lebih tahu diri dan bisa memanfaatkan waktu yang ada.
... Manusia sangat benar-benar mengingkari nikmat. (QS. 22:66)
Ketahuilah sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. (QS. 96:6-7)
... Adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (QS. 17:16)
Apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada kami dalam keadaan berbaring atau berdiri tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu dari padanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. (QS. 10:12)
Jiwa ketiga...
Insani, berbeda dengan jiwa pertama dan kedua, mempunyai karakter yang lebih mulia, dengan suara hati yang fithrah ia berusaha untuk mengenal dirinya demi untuk mendekatkan diri kepada TuhanNya, menginfakkan hidup untuk kemaslahatan umat tidak ada istilah itu kan mereka bukan gue, sadar akan hakikat penciptaan dirinya sebagai pengelola (khalifah fi al ardh) dan untuk beribadah kepada sang pencipta maka ia membangun sebuah garis yang jelas dan menuntun orang disekitarnya untuk bersama berjalan menuju Tuhan pencipta langit dan bumi. Inilah kesalehan sosial yang mengajak, menyeru dan memanusiakan manusia, bahkan dari sini akan lahir generasi-generasi yang berpikir untuk kemaslahatan umat, negeri dan bangsanya. Dan out put darinya adalah makhluk yang dinamis, kreatif, inovatif dan responsitif dengan metode islamisasi ilmu pengetahuan dan modernitas. Seorang ulama kenamaan Persia menyampaikan dalam sebuah gubahan syair;
Anak-anak Adam laksana anggota tubuh;
Sebab mereka tercipta dari lempung yang sama.
Jika satu bagian terlanda lara,
Yang lain menderita resah hebat.
Engkau yang ingkar derita manusia,
Tak pantas bernama manusia.
Sedangkan Media informasi baik ia cetak dan elektronik, yang seharusnya menjadi icon penggerak dan mempunyai andil besar sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya yaitu sebagai, kontrol sosial, pendidikan dan hiburan kerap berubah seolah makhluk yang menjelma menjadi dajjal perusak moral dan tatanan kehidupan yang layak. Kebebesan Pers yang tak terkendali dewasa ini dikhawatirkan semakin menjadi ancaman serius bagi masyarakat. Dengan dalih kebebesan pers, semakin banyak penampilan media yang cenderung menyimpang dari tugas mulianya, lihatlah gosip, infotaiment yang menyajikan aib, urusan pribadi yang tak pantas ekspos, perselingkuhan, bahkan juga nama tuhan dibajak untuk kepentingan industri perfilmana di Indonesia. Dalam pengelolaan pers di tanah air, sesungguhnya ada aturan main yang menjadi acuan bagi setiap wartawan yaitu kode etik jurnalistik. Pedoman yang dimuat dalam kode etik jurnalistik secara umum adalah memberi arahan kepada wartawan, begitu juga dengan entertainment berupa penyiaran di beberapa stasiun televisi mempunyai lembaga sensor film yang berhak membatasi dan mengarahkan dunia acting artis dan selebriti. Lantas kenapa gonjang-ganjing media menjadi isu yang seolah paling diminati dijagat ini ? karena sesungguhnya karakter kita sebagai manusia yang berjiwa insani telah dikerubungi oleh indahnya hedonis dan pragmatis.
Berbagai proses terkadang dilakukan untuk mengeliminasi bintang yang cahayanya tidak memancarkan karakter budaya, adat, norma dan agama yang hanif, kita betul prihatin terhadap nuansa yang tidak elegan dan wajar di bumi yang dihuni masyarakat beradab dan berketuhanan ini. Khawatir menyalahkan arti sebuah demokrasi sehingga ujungnya hanyalah kegagalan dalam menciptakan masyarakat yang baik dan mandiri menuju baldatun thayibbatun wa rabbun ghafur. Jangan kiranya kesuksesan finansial dan materi dianggap hanya sebagai tolak ukur mutlak kehidupan ini. Sesungguhnya kalau kita melihat beberapa kasus dinegara maju seperti Amerika dan beberapa negara di Eropa banyak yang menjumpai harta, bergelimang kemewahan namun kering secara spritual sehingga ujung dari karir nya hanyalah mati bunuh diri karena tidak tahu apa sesungguhnya yang dicari dalam hidup ini, maka tidak heran di San Paransisco ada jembatan yang menjadi tempat faforit mengakhiri hidup (bunuh diri). Sungguh sangat disayangkan icon negeri ini apabila mempunyai paradigma dan pola pikir yang sama sekuler dan ateis ditambah hedonis dan pragmatis hilang idealis.
Melihat akhir-akhir ini tentang prestasi yang diukir oleh sebahagian sutradara kita dan beberapa naskah yang sempat diangkat ceritanya ke layar lebar, yang tentunya mempunyai pesan moral, budaya, adat dan agama serta nasionalis yang tinggi maka pantas untuk kita garis bawahi bahwa sesungguhnya kita memang merindukan hiburan dan inspirasi untuk mengisi ruang kosong didalam dada. Lihatlah dalam mihrab cinta, AAC,KCB, Laskar Pelangi, Sang Pencerah, Sang Pemimpi, Tanah Air Beta, Merah Putih dan lain sebagainya yang telah menempatkan posisi ideal dimata negeri dan dipuja oleh luar negeri. Menjadi bahagian untuk mempertajam mata hati dan menelusuri jejak para nabi.
Dari pengamatan ini perlu kiranya kita berpikir untuk memberikan nilai yang lebih kepada media yang ada di Indonesia sehingga industri perfilman dan dunia pers ditanah air adalah pilar kebangkitan umat setelah masjid dan kampus. Ketika beberapa kasus di Indonesia ini mendapat respon yang hangat oleh beberapa pengamat, Praktisi dan masyarakat, lantas kenapa tidak demikian halnya kepada media yang satu ini. Harusnya pengawasan dan lembaga yang independent atas nama hukum berdiri tegak sebagai pelopor, penggerak dan kontrol yang serius seperti halnya KPK menjaring tikus-tikus berdasi, karena kebobrokan darinya akan melahirkan mental yang yang sangat fatal bagi generasi bangsa yang menonton dan mengikuti jejaknya.
Wallahu ‘alam ,,,
Langganan:
Komentar (Atom)