Jumat, 29 April 2011

Renungan Sufistik Dari Bahasa Simbolik

Sebuah Testimoni dari sang pecinta menuju Sang pemberi cinta;
Kembalilah padaku, oh cahaya kalbuku,
Tumpukan hasratku.
Perlahan kau datang dengan gairah cinta yang lempang.
Bila kau datang, bahagia hati ‘kan kujelang:
Jika tidak, kesedihan yang dalam
‘kan jadi sewaan.
Kau penaka mentari, meski jauh
Dekat kurasakan;
Kembalilah, oh, kau yang jauh di sana,
Tapi kujumpa di sini.

A. Latar Belakang

Pada dasarnya tasawuf adalah ekspresi (seni) seseorang atau kelompok dalam aktifitas keberagamaan. Ketika semua adagium fiqh, kalam dan filsafat dirasa tak lagi mampu membawa manusia ke dalam tujuan hakiki beragama (Tuhan), maka tak pelak lagi, tasawuf dengan jalan pencarian mengedepankan dimensi batin dan spiritual banyak dilirik. Tasawuf dengan demikian, tidak bisa dikatakan lepas sepenuhnya dari agama (Islam). Ia (tasawuf) tumbuh dalam rengkuhan nilai-nilai spiritual Islam. Meski demikian, tidak bisa dinafikan adanya anggapan bahwa tasawuf bukan bagian dari Islam, melainkan satu hal lain yang tumbuh dalam tubuh Islam.
Di era modern tasawuf seakan menjadi oase bagi padang tandus yang bernama ‘kehidupan’. Tasawuf dalam prakteknya mampu mengangkat kembali aspek esoteris Memuncaknya kehausan manusia akan nilai-nilai spiritual yang tergerus semangat modernitas tersebut ditandai dengan semakin tumbuhnya kesadaran (sebagian) umat manusia atas dekadensi moral yang kian hari kian akut. Seiring dengan berserakannya residu-residu permasalahan yang mengerak dalam struktur kehidupan, manusia semakin sadar bahwa modernitas dan segala adagiumnya yang menjauhkan manusia dari Tuhan dan kebertuhanan ternyata tidak mampu membawa manusia pada zona nyaman dalam kehidupan. Di ruang-ruang itulah sufisme atau dalam era kebangkitan kembalinya disebut oleh Fazlur Rahman sebagai Neo-Sufisme menjamur dengan subur.
Dengan demikian, tidak berlebihan kiranya pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf merupakan jawaban atas gagalnya modernitas, sekaligus solusi jitu untuk mengantarkan manusia menuju kesejatian diri. Anne Marie Schimmel , bahkan menyebut tasawuf sebagai media aktualisasi manusia yang paling ideal. Meskipun di banyak sisi, tasawuf dituduh sebagai ‘pembunuh otoritas akal’, namun di sisi yang lain, keberhasilannya membangun kepribadian manusia serta ide-idenya tentang cinta kasih, perdamaian, kesederhanaan, penyucian jiwa dan solidaritas memberi andil yang tidak sedikit dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Konsep cinta dalam hal ini merupakan unsur penting dalam perjalanan pencarian kesejatian melalui jalan tasawuf. Perbincangan tentang konsep cinta dalam tasawuf tentu tidak akan utuh tanpa menyertakan nama seorang Jalaluddin Rumi. Dengan tanpa mengesampingkan para sufi lainnya yang mengedepankan konsep cinta dalam ajaran tasawufnya, nama Jalaluddin Rumi adalah ‘jaminan’ bagi dunia sufistik yang menjanjikan pengalaman esoteris yang menarik, bukan hanya untuk dipraktekkan melainkan juga untuk dikaji secara lebih mendalam.
Jalaluddin Rumi yang tidak hanya masyhur di dunia Islam, namun juga di dunia Barat telah mencatatkan dirinya sebagai figur penting dalam dunia tasawuf. Pemikiran sufistik yang seluruhnya ia ekspresikan melalui jutaan baris sajak dan puisi mampu membuai manusia dari generasi satu ke generasi lain. Rumi, mungkin satu-satunya sosok Sufi yang mendunia, terkenal di dunia Islam sekaligus Barat. Di Barat, Rumi lebih dikenal sebagai figur pluralis dan humanis. Ajaran tasawuf cinta Rumi banyak menginspirasi gerakan masyarakat Barat untuk bangkit setelah sekian lama terseret arus pola pikir materialis dan pragmatis, di mana akal seolah-olah memiliki otoritas melebihi apapun, bahkan Tuhan sekalipun. Walau tidak bisa menafikan kenyataan bahwa penerjemahan karya-karya Rumi ke dalam bahasa Barat banyak diiringi dengan intrik khas orientalis yang berusaha mencerabut Rumi dari akar historisitasnya (dunia Islam), keterkenalan puisi-puisi Rumi adalah bukti bahwa ajaran tasawuf yang dikembangkannya bersifat universal. Tulisan singkat ini sedianya menguraikan pembahasan seputar tasawuf cinta yang dikonsepkan oleh Rumi.
Fokus utama tulisan ini adalah menjawab permasalahan seputar bagaimana sebenarnya konsep cinta dalam ajaran tasawuf Jalaluddin Rumi? Sebuah kajian tentang aspek-aspek keagamaan tentu akan hambar tanpa mengaitkannya dengan realitas sosial yang dinamis seiring semangat zaman. Oleh karena itu, penulis merasa perlu untuk melacak signifikansi pemikiran tasawuf cinta ala Jalaluddin Rumi dengan fenomena sosial kekinian. Tentunya sebagai sebuah tawaran atau solusi untuk mengatasi beraneka rupa problematika yang membelit manusia.
Di kalangan ahli tasawuf, merupakan hal yang biasa bila mereka merepresentasikan kerinduan ilahiyah dan capaian ilahiyah mereka ke dalam bentuk karya seni atau sastra. Puisi atau syiir merupakan bentuk utama pengungkapan syahwat ilahiyah para ahli tasawuf, sesuatu yang mendekati keharusan dalam sejarah khasanah persufian Islam. Jalaluddin Rumi adalah seorang tokoh sufi yang banyak menyandarkan pengucapan gejolak dan kegelisahan cinta ilahiyahnya dalam bentuk syiir, yang dibawakannya sambil menari. Makalah ini merupakan kajian atas konsep cinta dan tasawuf Rumi yang ditampilkan secara sederhana namun menyegarkan. Sebuah bacaan dan panduan awal yang mengantarkan pembaca menyelami keindahan dunia spiritualitas ala Rumi.

B. Jalaluddin Rumi: Biografi dan Karya Sang Pecinta
I. Biografi Sang Tokoh
Muhammad Jalal ad-Din, nama aslinya yang kemudian sering kita dengar mawlana ar-Rumi atau Rumi saja. Ia lahir pada tanggal 6 Rabiulawal 640 H (30 september 1207 M), Balkh, yang pada saat itu masuk dalam wilayah kekuasaan kerajaan Kawarizm, Persia Utara. Rumi lahir dari bibit unggul, dari pihak ayah, ia lahir dari keturunan Abu Bakr as-Shiddiq, yaitu khalifah pertama, sedang dari pihak ibu ia terlahir dari keturunan darah Ali bin Abu thalib, dan masih juga termasuk ada ikatan darah dengan Nabi Muhammad. Ia juga termasuk keluarga kerajaan, karena kakeknya, Jalal ad-Din husayn al-Katibi, menikah dengan putri raja ‘Ala ad-Din Muhammad Kawarizmsyah. Dari perkawinan ini lahirlah ayah Rumi, Muhammad Bada’ ad-Din Walad.
Bahauddin Walad, seorang cendikiawan yang shalih, mubalig yang fasih dan profesor terkemuka. Ia disegani dan dihormati oleh masyarakat karena luasnya tingkat keilmuwannya. Sehingga ia digelari dengan Sultan al-ulama “raja para ulama”. Bahauddin adalah ulama suni yang Sangat setia mempertahankan nilai-nilai tradisional Islam, dan kemungkinan besar termasuk aliran As’ariyyat. Masa kecil hingga remaja mungkin menjadi masa terindah bagi sebagian besar manusia, namun hal itu tidak berlaku bagi Rumi. Rumi kecil terpaksa harus hidup dalam ketidakpastian dan kekalutan. Rumi terpaksa harus meninggalkan tanah kelahirannya. Sepeninggalnya dari kota Khurasan, Rumi dan keluarganya tinggal berpindah-pindah dari satu kota ke kota yang lainnya Kota pertama yang dikunjunginya adalah Nisapur disebelah barat Balkh dari Nisapur mereka terus ke Bagdad, dari sini kemudian melanjutkan proses pengembaraan ke Mekkah, Damaskus, dan berakhir di Armenia. Tidak begitu diketahui mengapa Bahauddin mengajak keluarganya meninggalkan Balkh, padahal ibu dari Rumi memilki ikatan darah dengan keluarga kerajaan. Ada dua pendapat tentang perpindahan keluarga itu. Pertama, invasi yang dilakukan tentara Mongol ke Balkh. Kedua, masalah politik kerajaan. Beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa perpindahan itu lebih dikarenakan penguasa kerajaan Khwarizmi, Muhammad Khwarazmisyah menentang tarikat yang dipimpin Ayahnya Rumi, tarikat Kubrawiyah. Namun, pendapat ini banyak ditentang pula, karena ayahnya memiliki kedudukan yang tinggi dalam kerajaan Khwarizmi.
Nama besar Jalaluddin Rumi tidak bisa lepas dari seorang Syamsudin al-Tabriz, sang guru sufi sejati bagi Rumi. Sebenarnya, ia bukan guru pertama bagi Rumi, karena sebelumnya ia pun pernah berguru pada Kamaluddin bin al-Adim. Syekh Muhyidin ibn Arabi, Sa’adudin al-Hamawi dan beberapa guru sufi lainnya. Karena Rumi banyak menghabiskan waktunya bersama Syams dan berhenti mengajar, murid-muridnya merasa iri kepada Syams dan merindukan kebersamaan dengan gurunya. Akibatnya mereka berkomplot untuk menghabisi Syams. Oleh karena itu setelah 16 bulan tinggal di Konya. Syams pergi ke Damaskus. Rumi yang tidak tahan dengan perpisahan dengan sang guru sehingga kemudian mengutus Putranya Sultan Walad untuk mencari Syams. Namun setelah kedatangannya di Konya pada tahun 1247 M dia menghilang lagi secara misterius.
Menurut Sayyed Hossein Nasr, persahabatan spiritual kedua tokoh terkemuka ini jarang terjadi dalam sejarah tasawuf. Suatu perkembangan ikatan yang sangat mendalam antara keduanya yang pengaruhnya atas diri Rumi terus hidup sekalipun Syamsuddin telah tiada. Persahabatan yang diberikan Syamsuddin mampu mengubah seorang guru yang bijaksana menjadi seorang penyair estetik yang dimabuk cinta Ilahi. Jiwa Rumi telah menjadi satu dengan Syamsuddin, maka meminjam ungkapan Annemarie Schimmel, “Suatu keadaan jati diri yang mutlak telah tercapai”. Rumi telah menjadi pantulan Tuhan sebagaimana Syamsuddin, setelah mengalami pencerahan itulah baru kemudian Rumi kembali mengajar murid-muridnya dengan penuh cinta kasih. Masa ketika Syamsudin meninggalkan Rumi adalah masa kelam kedua bagi Rumi (setelah masa kelam yang dialami ketika Rumi masih kecil). Di momen-momen yang menyedihkan karena ditinggal sang guru inilah Tarian Darwis Memutar (The Whirling Darwis) tercipta. Awalnya Rumi menarikannya secara tidak sengaja menumpahkan kegundahan hatinya dengan membaca syair-syairnya sembari menari diiringi tabuhan gendang seorang pandai besi. Semenjak itulah tarian Darwis Berputar tercipta dan menjadi ciri khas thariqat Maulawiyah, aliran tasawuf yang didirikan oleh Rumi. Tahun 1273. Ketika Rumi meninggal, ribuan orang memberikan penghormatan terakhir kepadanya. Kesedihan atas meninggalnya Rumi tidak hanya dirasakan oleh kalangan Islam saja, melainkan dirasakan oleh kalangan Kristen dan Yahudi. Hal itu menandakan bahwa Rumi adalah sosok yang dimiliki oleh semua kalangan, ajarannya mampu meruntuhkan sekat-sekat pembeda yang selama ini menjadi penghalang bagi lahirnya sikap saling mengasihi.
II. Karya- karya Jalaluddin Rumi
Rumi tidak menuliskan pemikiran-pemikirannya dengan cara konvensional sebagaimana dilakukan para pemikir lainnya. Ia memilih puisi atau sajak untuk mengeksplorasi pemikiran-pemikiran tasawufnya. Sebagian puisi ia tulis sendiri dan sebagian lagi ditulis oleh para murid setianya ketika Rumi melantunkan puisi secara lisan di hadapan murid-muridnya. Ditinjau dari gaya penulisan, karya Rumi tersebut tergolong dalam bentuk karya sastra yang tidak konvensional. Ciri khas Rumi yang tergabung dengan alter ego-nya dapat kita lihat dari baris-baris terakhir ghazal-nya, suatu bagian yang dijadikan tempat oleh aturan konvensional di dalam puisi Persia untuk menyisipkan nama samaran sang penyair. Rumi dengan gaya khasnya memanfaatkan ‘ruang’ tersebut dengan mengutip nama gurunya, Syamsudin Tabriz.
Untuk lebih jelasnya berikut dibawah ini merupakan ulasan dari pemikiran Rumi yang telah menginspirasi bagi orang yang ingin mendapat cinta agung dan percintaan menuju sang pemberi cinta yaitu Allah Azza Wajalla adalah dapat dilihat sebagai berikut;
1. Maqalad-I Syams-I Tabriz, (Wejangan-wejangan Syams Tabriz) merupakan buah persahabatan Rumi dengan Syams yang intim. Karya ini berisi dialog-dialog mistis antara Syams Tabriz yang bertindak sebagai guru dan Rumi sebagai murid. Menurut Nicholson, karya ini hanya melimpahkan sedikit cahaya atas Rumi, tetapi cukup dalam mempengaruhi gagasan-gagasan dan ajaran sang penyair.
2. Diwan Syams-I Tabriz, Karya ini disusun oleh Rumi pada saat-saat perpisahannya dengan Syams dan untuk mengenang sahabat yang sangat dicintai dan dipujanya itu. Ia menyusun Diwan, yaitu puisi lirik atau pujian disebut juga ode. Karya ini merupakan kumpulan-kumpulan ode mistis yang sangat luas, yang mengandung sekitar 2500 lirik. Menurut Nasr, karya ini secara khusus berisi beberapa sajak yang sangat indah dan mendalam.
3. Masnawi-I Ma’nawi atau Masnawi Jalaluddin Rumi merupakan karya Rumi yang terbesar berisi 25.000 untaian yang sangat indah dengan irama. Karya yang digarap merupakan sajak lirik yang dilahirkan dari pengalaman dan perenungan yang mendalam dan dalam keadaan ekstase mistik. Ungkapan-ungkapan kaya dengan symbol yang diambil dari sejarah atau kisah-kisah keagamaan serta petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam al Quran.
4. Fihi Ma Fihi (Karya dalam bentuk prosa) ini merupakan kumpulan ceramah tasawuf Rumi kepada para pengikutnya yang tergabung dalam tarekatnya.
5. Maktubat (Korespondensi). Karya ini berupa kumpulan surat-surat Rumi kepada Raja atau pejabat juga tentunya untuk membalas rekan-rekan atau para pengikutnya. Tidak jarang, dalam surat-surat tersebut Rumi menyelipkan beberapa bait sajak sebagai pencerahan.

Hal tersebut diatas merupakan warisan tertulis Rumi yang kesemuanya melengkapi khasanah transmisi lisan dan merupakan ciri khas karunia atau barkah yang keluar dari kehidupan Rumi dan mendasari pembentukan tarekat Maulawi. Semangatnya terus menghidupi mereka yang sungguh mengikuti kehidupan spiritualnya dan meningkatkan gairah keagamaan kaum muslimin yang hidup dalam keimanan.

C. Cinta Dalam Ajaran Tasawuf
Cinta dalam bahasa Arab disebut al hub atau mahabbah yang berasal dari kalimat habba-hubban-hibban yang berarti waddahu, punya makna kasih atau mengasihi. Ada juga yang mengatakan bahwa hub berakar dari kata habab al-ma’a, adalah air bah besar. Cinta dinamakan mahabbah karena ia merupakan kepedulian yang paling besar dari cita hati. Mahabbah atau disebut juga cinta menjadi tingkat keruhanian penting setelah digali berdasarkan pengalaman mistik dari seorang sufi. Namun, di antara tokoh sufi tersebut yang mendalam dan luas pengaruh konsep mahabbah-nya ialah Rabi’ah al-Adawiyah, yang berprinsip bahwa cinta merupakan landasan ketaatan dan ketakwaan kepada Tuhan dan tentunya Jalaluddin Rumi.
Sebelum masuk dalam pembahasan mengenai cinta dalam ajaran tasawuf Jalaluddin Rumi, menarik kiranya menyelami terlebih dahulu apa makna cinta dalam ajaran tasawuf secara global. Dalam tasawuf, cinta merupakan tema sentral hubungan manusia dengan Tuhan, oleh karena itu, cinta selalu menjadi tema penting dalam setiap bahasan tasawuf yang memang selalu menghubungkan antara ketiganya (Tuhan, manusia dan cinta). Cinta (mahabbah) berkembang sebagai gagasan kerohanian pada awal abad ke-8 M. Kala itu tasawuf hanya dikenal sebagai gerakan asketik (zuhud) yang terdiri atas tingkatan-tingkatan (maqam) dan puncak tertinggi pencapaiannya adalah tawakkul atau perasaan untuk selalu menggantungkan diri hanya kepada Allah. Dalam lingkup dunia asketik sufi, kata cinta lebih cenderung dimaknai dalam hubungan Tuhan dan manusia. Meski tidak menutup kemungkinan untuk dimaknai sebagai perasaan kasih sayang antar manusia. Meski demikian, penting diingat bahwa definisi ‘cinta’ dalam dunia tasawuf tidak identik dengan cinta yang bersifat birahi yang membuncah sebagai reaksi atas nafsu syahwat manusia. Dalam dunia sufi, cinta memiliki makna yang jauh lebih mendalam dari sekedar ‘birahi’. Seperti diungkapkan oleh Abu Nu’aym, cinta adalah gabungan dari beberapa unsur jiwa, ia (cinta) bersemayam dalam hati setiap insan yang mampu menyeimbangkan dirinya dalam sikap arif bijaksana, cinta yang sesungguhnya akan membawa seseorang ke puncak tertinggi perjalanan asketik tasawuf, yakni kedekatan dengan Tuhan.
Cinta (mahabbah) terbagi ke dalam tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah mahabbah orang biasa, yakni cinta yang dimanifestasikan dengan cara selalu mengingat Tuhan secara wajar. Kedua, mahabbah orang yang shidiq, cinta dalam tataran ini mampu membuka tabir antara manusia dan Tuhan. Ketiga adalah mahabbah orang ‘arif yang mampu mengantarkannya sampai pada pengetahuan tentang Tuhan. Pada tingkatan ini, yang dirasakan bukan lagi cinta, melainkan Diri (Tuhan) yang dicintainya. Sufi-sufi sekaliber al-Hallaj, Rabiah atau Rumi bisa dikatakan berada dalam tingkatan mahabbah ketiga. Mereka mampu mengaktualkan diri kemanusiannya untuk mencintai Tuhan sepenuh hati. Rabiah bahkan menutup pintu hatinya untuk cinta yang selain cinta kepada Tuhan . Dalam Sajaknya Rabiah menuturkan:
Kucintai Kau dengan dua cinta. Cinta untuk diriku dan cinta karena Kau patut dicinta. Di dalam ingatan kepadaMu semata, tiada yang lain Karena Kau singkap penghalang sehingga aku dapat memandangMu. Segala pujian tidak perlu lagi bagiku Sebab semua puja-puji hanya untukMu Hanya untukMu…
Dalam sebuah sajaknya, Jalaluddin Rumi memberi sebuah penyadaran bahwa menjadi sufi tidak cukup hanya dengan memakai jubah dan sorban sufi semata tanpa memahami esensi paling dalam dari ajaran kesufian. Kecendekiawanan, kebajikan, kepedulian dan cinta adalah esensi dari ajaran kesufian. Adapun jubah dan sorban hanyalah perlambang dan tak lebih dari sekadar kemasan.
D. Cinta dalam Ajaran Tasawuf Jalaluddin Rumi
Bagi kaum sufi puisi adalah suatu cara yang dianggap terbaik untuk mengekspresikan pengalaman batinnya pada dunia kesadaran yang bersifat rasional. Dengan puisi pengalaman religious yang tadinya agak samar dan kabur sehingga sulit untuk dicerna oleh akal, kini bias dicerna setelah diproses oleh akal yang diwujudkan dalam kata yang berirama dan berupa puisi. Puisi adalah hasil proyeksi dari sinar keimanan yang memantul keluar untuk menyatakan diri. Oleh sebab itu, puisi bisa dianggap sebagai bahasa batin yang memperjelas diri dalam bentuk dan ungkapan kata yang memikat. Pengalaman spiritual yang sangat kuat inilah kiranya sangat perlu diungkapkan walau dengan kata-kata miskin dan terbatas dalam paradox yang tampak tidak berarti hingga Rumi merasa seperti “debu di cermin jiwa”. Rumi menggubah syairnya dengan pesona cinta sebagai berikut.

Karena cinta yang pahit menjadi manis, karena
Cinta tembaga berubah menjadi emas
Karena cinta ampas menjadi sari murni, karena
Cinta kepedihan menjadi penawar
Karena cinta batu-batu menjadi cair, karena
Cinta lilin mengeras bagai sebatang logam
Karena cinta kematian berubah menjadi kehidupan
Karena cinta raj berubah menjadi hamba
Karena cinta bumi membumbung langit, dan
Gunung-gunung mulai menari
Cinta ilhami gunung Sinai, oh para pecinta
Sehingga Sinai mabuk dan musa tak sadarkan diri.
Doa yang diucapkan oleh Rasulullah merupakan pijakan yang baik bagi para sufi untuk mempersepsi dan memposisikan cinta tersebut: “Ya Tuhan, berilah aku cinta-Mu, dan cinta mereka yang mencintai-Mu, dan cinta yang membuatku mendekati cinta-Mu, dan buatlah cinta-Mu lebih kucintai daripada air sejuk”. Para sufi berkeyakinan bahwa cinta merupakan dasar penting untuk memasuki kehidupan keagamaan, dan memperoleh rujukannya dari al-Qur’an bahwa: “Mereka yang beriman hanyut di dalam cinta mereka kepada Allah Swt”, “Jika kau mencintai Allah ikutlah aku; Tuhan akan mencintaimu”, “Kepada mereka yang beriman dan berbuat kebajikan, ke atas mereka, Tuhan Yang Mahapengasih akan mengaruniakan cinta”. Tentu saja, masih banyak ayat yang dapat dijadikan dasar bagi pentingnya cinta dalam kehidupan keagamaan Islam.
Tidak ada definisi yang jelas mengenai cinta. Jika seseorang ditanya apa definisi cinta, maka kata-kata definitif yang keluar dari seseorang tersebut bisa dipastikan hasil olahan logika yang terkesan mengada-ada. Begitu pula ketika pertanyaan tentang definisi cinta tersebut sampai pada diri seorang Jalaluddin Rumi. Dia sendiri pun sebetulnya tidak secara tersurat memberi makna terhadap konsep “cinta”. Namun dari karya-karyanya atau puisi-puisinya bisa kita rasakan ungkapan-ungkapan cintanya yang “tidak biasa”. “Bukan cinta biasa” tapi cinta Rumi menembus dinding langit melewati batas cakrawala pandang manusia. Ungkapan puisi cinta Rumi begitu menggebu-gebu meluluh-lantakkan dinding jiwa, menyatu tanpa batas ruang dan waktu. Tidak ada dua aku tetapi satu. Antara sang pecinta dan yang dicinta menjadi satu-padu. Kepasrahan total yang mengharu biru. Tidak ada celah seujung rambutpun untuk membelah hati, menduakan hati dengan yang lainnya apapun bentuknya. Ungkapan puisi Rumi bagaikan seseorang yang merasakan dahaga yang tak tertahankan, haus,haus dan haus untuk meneguk nikmatnya cinta yaitu cinta yang tidak biasa.
Siapapun orangnya yang sudah bisa merasakan dan mengalami “cinta” ini menjadilah mereka manusia “sempurna”. Apapun yang aku ceritakan tentang cinta, Ketika kualami sendiri cinta itu, Aku malu lantara pemberian itu, Di sajak yang lain ia bertutur, Apakah Cinta? Dahaga Sempurna. Maka biarkan aku bicara tentang air kehidupan. Cinta dalam pandangan Rumi bukanlah sesuatu yang bisa dan harus didefinisikan. Baginya, hanya manusia bodoh yang berusaha mengekang cinta dengan definisi kata-kata. Cinta akan mendefinisikan dirinya sendiri seiring dengan kematangan seseorang dalam merefleksikan rasa cintanya. Pada dasarnya, sulit untuk membatasi makna cinta hanya dengan kata-kata. cinta harsuslah dimaknai sebagai sebuah sikap dan kata kerja yang darinya muncul kekuatan-kekuatan besar yang menghindarkan manusia pecinta dari sifat sombong dan egois. Menurut Rumi, cinta mempunyai kekuatan yang sedemikian dahsyat yang mampu membalikkan keadaan yang sekiranya tidak mugkin bagi alar manusia .
Pengahayatan atas makna cinta akan membawa manusia kepada konsep cinta dalam ajaran tasawuf Maulawiyah Jalaluddin Rumi, tentu tidak bisa dipahami sebagai cinta dalam artian sempit yakni cinta antar sesama manusia. Cinta dalam ajaran tasawuf Rumi adalah media yang bisa mengantarkan seseorang sampai pada maqam ma’rifat, tujuan terakhir para sufi. Cinta sejati bagi Jalaluddin Rumi hanyalan cinta yang dipersembahkan untuk yang kekal, yang sejati, yakni Tuhan. Mencintai sesuatu yang fana hanyalah ekspresi cinta sesaat yang akan berangsur hilang manakala rasa puas sudah dicapai. Cinta kepada Tuhan tidak akan menimbulkan kekecewaan pada sang pecinta, sebaliknya seseorang yang mencintai sesuatu yang fana seharusnya siap bahwa suatu saat ia akan dikecewakan oleh perasaan cintanya. Seseorang yang menghayati benar makna mencintai Tuhan, niscaya ia akan terbebas dari tindakan musyrik, menyelingkuhi Tuhan dengan ‘berhala-berhala’ lainnya.
Jika ditinjau dari materi sajak-sajaknya yang banyak mengupas problematika filsafat metafisika Persia, maka Jalaluddin Rumi bisa dikategorikan sebagai seorang filsuf. Hanya saja ia memakai media puisi untuk menuangkan ide-ide pemikirannya sekaligus ungkapan ketidak setujuannya atas metode keilmuan yang baginya tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam. Dalam ranah filsafat barat kontemporer, nama Nietszche mungkian layak disandingkan dengan Rumi dalam hal cara atau gaya mengungkapkan fikiran dalam aforisme-aforisme yang kadang tidak utuh dan seringkali mengundang multitafsir. Rumi memang memilih puisi sebagai media yang ia anggap paling pantas dan efektif untuk mengemukakan pemikirannya, utamanya tentang konsep cinta. Dengan puisi, ia bisa memainkan berupa simbol untuk menyembunyikan maksud yang sebenarnya ingin ia sampaikan. Menurut Rumi, (makna) puisi hanya akan tersingkap oleh orang-orang yang membaca dengan hati, tidak semata menggunakan indera. Indera bagi Rumi hanyalah pelengkap yang tanpanya sebenarnya manusia tetap bisa mengetahui haqiqat kehidupan. Selebihnya, ketika di kemudian hari puisi menjadi teks yang multitafsir, Rumi tidak sepenuhnya membantah, dalam sebuah sajaknya ia menulis, Makna puisi ibarat peluru
Ia melesat, liar dan menembus apapun…
Selanjutnya Rumi membagi konsep cintanya dalam tiga tingkatan yakni cinta pada segala, cinta pada Tuhan dan tingkatan yang tertinggi cinta mistis. Ketiga tingkatan ini tidak bisa dipahami secara terpisah dengan konsep maqamat dalam dunia tasawuf yang meliputi syari’at, thariqah, haqiqat dan ma’rifat. Cinta pada segala merupakan tingkatan paling dasar dalam ajaran tasawuf yang diajarkan Rumi. Dalam tataran ini, jiwa seseorang masih dikuasai atau setidaknya diwarnai kepentingan untuk senantiasa memenuhi hasrat hidup yang justru menjauhakannya dari aktifitas untuk mendekatkan diri pada Allah. Tataran ini dihuni oleh mayoritas orang awam yang menjalankan ajaran agama hanya sebagai pemenuhan kewajiban semata, tanpa mengkorelasikan ajaran agama dengan nilai-nilai kehidupan sosial. Manusia dalam tataran ini masih memperlakukan Tuhan sebagai majikan dan manusia sebagai budak yang melakukan perintah demi menunaikan kewajiban semata tanpa merasa perlu untuk menghayati perintah ‘sang majikan’. Kekeringan jiwa spiritual dan fluktuasi iman akan menjadi dimensi yang tidak bisa dielakkan oleh manusia yang berada dalam tataran cinta pada segala lini.
Satu tingkat lebih tinggi dari tingkatan cinta pada segala adalah cinta pada Ilahi. Pada tahap kedua ini, manusia telah mulai menapaki jalan (thariqat) tasawuf dengan jalan mengamalkan syari’at agama secara penuh dan sungguh-sungguh. Pada tahap ini, manusia mulai sadar bahwa Tuhan tidak semata majikan dan manusia bukan merupakan budak Tuhan. Segala perintah Tuhan yang tertuang dalam syari’at agama dipahami sebagai seperangkat aturan yang tidak hanya memuat sisi transenden, melainkan juga menyimpan nilai-nilai positif yang aplikatif terhadap realitas sosial. Aktifitas penyucian jiwa secara intens akan menumbuhkan perasaanm cinta pada ilahi dan kedekatan dengan Tuhan kemudian menjadi sebuah kebutuhan manusia. Indikator cinta pada Ilahi tidak hanya ditengarai oleh khusuknya seseorang beribadah hal-hal semacam itu, melainkan dilihat dari bagaimana seseorang menempatkan dirinya dalam sebuah struktur masyarakat multidimensional. Jika seseorang belum mampu mengejawantahkan nilai-nilai positif syari’at agama dalam kehidupan sosial, ia belum bisa dikategorikan sebagai pecinta ilahi. Batas antara cinta segala dan cinta Ilahi tidak bisa dipungkiri sangatlah tipis dan seringkali kabur. Seseorang seringkali mengklaim dirinya sebagai pecinta Ilahi, namun aktualisasi dirinya sebagai makhluk sosial sama sekali tidak mendukung klaim awalnya tersebut.
Tingkatan cinta yang paling tinggi atau tingkatan ketiga adalah cinta mistis. Cinta mistis dapat dipahami sebagai tingkatan cinta (pada Tuhan) yang paling sempurna. Rumi sendiri tidak secara eksplisit menjelaskan apa yang dimaksud dengan cinta mistis. Alih-alih menjelaskan definisinya, Rumi memberikan jalan atau langkah-langkah menuju tingkatan cinta mistis. Menurutnya untuk mencapai taraf ini, selain tazqiyat al-nafs manusia juga harus terlebih dahulu sampai pada maqam ma’rifat. Maqam ma’rifat akan membawa konsekwensi logis pada sampainya manusia pada tataran cinta mistis. Untuk sampai pada maqam ma’rifat tentu bukan perjalanan yang mudah. Keikhlasan dan ketulusan mutlak menjadi syarat utama ketika manusia menjalankan tahap demi tahap dalam perjalanan tasawuf. Rumi menjelaskan bahwa maqam ma’rifat tidak serta merta bisa didapat oleh semua orang yang melakukan tahapan-tahapan dalam tasawuf, karena maqam ma’rifat diperoleh atas izin dan hidayah Allah. Dengan pertimbangan seperti itu, maka sampai tidaknya seorang pelaku tasawuf pada maqam ma’rifat sepenuhnya tergantung pada hidayah Tuhan.
Ajaran yang terkait dengan konsep cinta Jalaluddin Rumi juga sesungguhnya merupakan perjalanan spiritual yang sangat mendalam dan penuh hasrat kepada Ilahi, Sebagimana disebutkan Rumi dalam syairnya;
Cinta adalah lautan yang tak bertepi,,,
Langit hanyalah serpihan buih belaka
Ketahuilah langit berputar karena gelombang cinta
Andai tak ada cinta dunia akan membeku.
Bila bukan karena cinta, bagaimana sesuatu yang organik
Berubah menjadi tumbuhan ?
Bagaimana tumbuhan akan mengorbankan diri demi
Memperoleh ruh (Hewani)?
Bagaimana ruh (Hewani) akan mengorbankan diri
Demi Nafs (Ruh) yang menghamili Maryam?
Semua itu akan menjadi beku dan kaku bagai salju,
Tidak dapat terbang serta mencari padang ilalang
Bagai belalang
Setiap atom jatuh cinta Yang Maha Sempurna
Dan naik ke atas laksana tunas,
Cita-cita mereka tak terdengar, sesungguhnya
Adalah lagu pujian
Keagungan pada Tuhan.
Menurut Rumi, hanya cinta yang dapat membawa seorang pelaku sufi (saalik) berhasil dalam perjalanan mereka mencapai Diri yang tinggi sebab cinta merupakan cara unggul mencapai pengetahuan tentang hakekat segala sesuatu. Hal ini berarti bahwa hanya cinta yang dapat membawa manusia meyakini realitas terdalam dan tertinggi dari segala sesuatu. Di dalam sistem estetika sufi, cinta (‘isyq ataupun mahabbah) mempunyai makna luas, cinta bukan dimaknakan secara umum, melainkan lebih pada keadaan dan tingkatan ruhani yang membawa seseorang mencapai pengetahuan ketuhanan. Perhentian terakhir di jalan mistik ialah mahabbah atau cinta, dan ma’rifah. Kadang-kadang keduanya dianggap saling melengkapi, kadang-kadang cinta dianggap lebih utama, dan adakalanya ma’rifah dipandang lebih tinggi,” demikian ungkap Annemarie Schimmel.
Dengan mencintai Allah, maka terbukalah rahasia ciptaan Allah, baik yang nyata maupun yang gaib. Dengan terbukanya rahasia itu, seorang sufi dapat melihat cahaya kekuasaan dan keagungan Allah. Selanjutnya, di saat cinta itu semakin mendalam, maka akan terbuka tabir antara manusia dan Tuhannya, sangat merindukan-Nya sebab telah melihat keindahan-Nya melalui hati-sanubari (ma’rifah sufi). Di dalam hati-sanubari inilah orang arif mempertemukan cintanya dengan cinta Allah, cinta Tuhan bertemu dengan cinta hamba-Nya. Pada keadaan jiwa demikian seorang sufi seperti Rabiah al-Adawiyah menyatakan pengalamannya bahwa antara mahabbah dan ma’rifah saling me-ningkatkan keberadaannya sekalipun selalu dimulai dari kecintaan terhadap Allah (mahabbah).
D. Penutup
Cinta bagi Rumi memiliki makna sebagai “Perasaan sejagat”, “Sebuah ruh persatuan dengan alam semesta”. Cinta adalah pemulihan terhadap kesombongan yang melekat dalam diri manusia, penyembuh segala kelemahan dan duka cita. Cinta juga adalah kekuatan yang menggerakkan perputaran dunia dan alam semesta. Dan cinta pĂșlalah yang memberikan makna bagi kehidupan dan keberadaan kita. Makin seseorang mencintai, makin larutlah ia terserap dalam tujuan-tujuan Ilahiyah kehidupan. Dalam tujuan-tujuan Ilahiyah penciptaan inilah manusia memperoleh makna yang sebenarnya dari kehidupannya di dunia dan itu pulalah yang memberinya kebahagian rohaniah yang tidak terkira nilainya.
Dalam perspektif sufisme, cinta Tuhan mendahului cinta dari manusia terhadap Tuhannya sebab apabila Tuhan sudah mencintai hamba-Nya, maka sang hamba tak pernah bisa menolak cinta-Nya sebab prakarsa terlebih dahulu datang dari Tuhan. Pandangan demikian berangkat dari pernyataan al-Qur’an bahwa “Ia mencintai mereka, dan mereka mencintai-Nya”. Tentang cinta Ilahi yang sempurna itu ada tingkatan-tingkatan cinta, yang tentu saja masing-masing sufi juga tidak pernah sepaham tentang urutan tingkatannya maupun jumlah tingkatan berjenjang yang harus dilalui seorang pelaku sufi. Tentang klasifikasi tingkatan cinta ini juga tidak dapat dipisahkan dengan tema yang lebih besar berkenaan dengan keadaan mental dari sufi (ahwal) dan tingkatan-tingkatan spiritualitas sufi (maqam).
Sedikit merasa tidak elegan sebenarnya bagi penulis untuk memberikan kritikan terhadap pemikiran genius dan sumbangsih besar dengan berbagi pengalaman melalui alam mistis yang terkadang memang tidak dapat dicerna secara logika karena memang sifatnya yang unik, aneh dan membingungkan namun seperti itulah Allah sang pemilik kuasa memberikan pengajaran dan membungkam kesombongan dan kepongahan seorang manusia yang latah dan tentunya pendidikan spiritual bagi manusia yang mendekat dan mencoba bersimpuh untuk mendapatkan cintaNya. Namun satu hal yang ingin penulis kemukakan menurut realitas yang pernah terjadi dalam pentas peradaban agar menjadi pelajaran dan pengajaran bagi orang yang hidup dimasa dan era ini dan kemudian sesudah kehidupan zaman ini adalah agar memberikan penjelasan yang mudah dimengerti dan meluruskan segala kemungkinan-kemungkinan yang membuat orang menjadi dzu’ dalam berprasangka terlebih-lebih lagi pengalaman mistik yang membuat orang percaya dan tidak percaya karena kemasan bahasa yang terkadang dilebih-lebihkan atau malah kurang penjelasan karena bahasa yang sangat simbolik.
Wallahu ‘alam….



Daftar Pustaka


Abdurrasyid Ridha, Memasuki Makna Cinta, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003
Abul Hasan An-Nadwi, Jalaluddin Rumi “Sufi Penyair Terbesar”, Pustaka Firdaus, Cetakan Keempat, , Pejaten Barat, Oktober, 2000
Annemarie Schimmel, Akulah Angin Engkaulah Api Hidup dan Karya Rumi, Mizan, Bandung, 1993
Asfari MS, Otto Sukatno, Mahabbah Cinta Rabi’ah al-Adawiyah, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, 1997
Asmaran, Pengantar Studi Tasawuf, Raja Grapindo Persada, Jakarta, hal 1994
Depag RI, Ensiklopedi Islam Indonesia, Dirjen Bimbingan Islam PTA/IAIN, Jakarta, 1992
Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1999
William C. Chittick, Jalan Cinta Sang Sufi: Ajaran-ajaran Spritual Jalaluddin Rumi, Terj. M. Sadat, Qalam, Yogyakarta, 2000
Jalaluddin Rumi, Sign of The Unseen: The Discourses of Jalaluddin Rumi, Terj. Anwar Holid, Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya “Aforisme-Aforisme Sufistik Jalaluddin Rumi, Pustaka Hidayah, Cetakan Pertama, Oktober 2000
Laily Mansur, , Ajaran dan Teladan Para Sufi, Raja Grapindo Persada, Jakarta, 1996
Mahmud bin As-Syarif, Al Quran Bertutur Tentang Cinta, Cahaya Hikmah, Yogyakarta, 2003
Mojdeh, Muhammad Ali Jamnia, Para Sufi Agung Kisah dan Legenda, Pustaka Sufi, Jogjakarta, 2003
Mulyadi Kartanegara, Renungan Mistik Jalaluddin Rumi, Dunia Pustaka Jaya, Jakarta, 1986
Mulyati, Sri. Mengenal & Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia,Kencana, Jakarta, 2004
Nicholson, Rumi and Poet and Mystic, Urwin Paperbacks, London, 1898
Nurcholish Madjid, Masyarakat Religious, Paramadina, Jakarta, 2000
Saiful Jazil, (dkk) Senandung Cinta Jalaluddin Rumi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2004
Syukur, Amin, Tasawuf Kontekstual “Solusi Problem Manusia Modern”, Suara Merdeka, Yogyakarta, Oktober 2003
Sayyed Hossein Nasr, Spritualitas dan Seni Islam, Mizan, Bandung, 1993
Sayyed Hossein Nasr, Living Sufism, Urwin, Paperbacks, London, 1972

Tidak ada komentar:

Posting Komentar